ADAB-ADAB ZIARAH

Allah berfirman:

يا أيها الذين آمنوا ليستئذنكم الذين ملكت أيمانكم والذين لم يبلغوا الحلم منكم ثلاث مرات من قبل صلاة الفجر وحين تضعون ثيابكم من الظهيرة ومن بعد صلاة…

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak. (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan sesudah shalat Isya’ ….” (AnNur: 58)
Dari Abu Hurairah,dari Nabi beliau bersabda:

“Bahwa seseorang menziarahi saudaranya di desa yang berlainan. Lalu Allah mengirim satu Malaikat untuk menunggunya di tempatnya berjalan (di jalan yang akan dilaluinya). Ketika ia datang mendekati Malaikat tersebut, Malaikat bertanya, “Hendak pergi ke mana engkau?” Ia menjawab, “Aku hendak menjumpai saudaraku di desa ini.” Malaikat kembali bertanya,Apakah saudaramu itu telah memberimu suatu nikmat yang hendak engkau balas? Ia menjawab,Tidak ada yang mendorongku untuk menemuinya selain rasa cintaku kepadanya karena Allah Malaikat itu berkata,Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.

Beberapa Adab Ziarah

l. Ziarah di Selain Tiga Waktu yang Disebutkan dalam Ayat Al-Isti’dzan

Allah telah mengarahkan kaum mukminin agar menahan para pembantunya dan juga anak-anak kecil yang belum baligh untuk tidak masuk ke dalam kediaman mereka pada waktu-waktu aurat yang tiga, yaitu sebelum shalat Shubuh, waktu tidur siang dan setelah shalat Isya“, Alasan pelarangan tersebut bahwa waktu-waktu ini adalah waktu yang biasanya untuk tidur, terlelap dalam istirahat dan mendatangi keluarga .

Dari situlah alasan dilarangnya masuk pada tiga waktu ini kecuali seizin pemilik rumah. Sedangkan ziarah di tiga waktu ini tidak diragukan lagi akan mengeruhkan ketenangan pemilik rumah, mengganggu ketenangan mereka, juga akan menyebabkan mereka merasa terusik, karena sebagian besar manusia tidak siap menyambut seorang tamu pun pada waktu-waktu ini. Kecuali jika seseorang diundang untuk menghadiri acara walimah, makan siang atau makan malam, maka hal ini tidak termasuk ke dalam pembahasan di atas.

Dan, ada baiknya dalam pembahasan ini kami menyertakan sebuah hadits dan atsar.
Adapun hadits, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya dari “Aisyah Ummul Mukminin, ia. berkata, “Jarang sekali Rasulullah mendatangi suatu rumah di waktu pagi dan petang dalam satu hari kecuali rumah Abu Bakar. Dan, ketika beliau telah dibolehkan untuk keluar menuju Madinah (hijrah-penen.) tidaklah ada sesuatu yang mengagetkan kami selain beliau mendatangi kami di waktu Zuhur. Lalu Abu Bakar memberitahukan kepada kami, ia mengatakan, “Tidaklah Nabi mendatangi kami pada waktu ini melainkan karena sesuatu yang penting telah terjadi ….’” (Al-hadits).
Yang menjadi dalil dari hadits di atas adalah kedatangan Nabi pada waktu yang bukan merupakan waktu ziarah, yakni waktu tidur siang. Dan, keheranan Abu Bakar atas kedatangan Nabi pada waktu ini menunjukkan bahwa waktu ini bukanlah waktu ziarah menurut mereka.
Sedangkan atsar, diriwayatkan dari lbnu ‘Abbas agra sendiri. Di dalamnya disebutkan, “la berkata, “Dan apabila sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang, maka aku lantas mendatanginya semenv tara ia tengah tidur siang, maka aku menjadikan jubahku sebagai alas kepala di depan pintu rumahnya. Angin pun menghembuskan debu ke wajahku .…”
Dalil dari atsar di atas, bahwa Ibnu ‘Abbas dengan semangat beliau dalam menuntut ilmu dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin, ia lebih memilih untuk menunggu keluarnya orang yang hendak ia temui. Karena, kedatangan beliau itu pada waktu tidur siang, yaitu waktu orang-orang beristirahat.

2. Hendaklah Orang yang Berziarah Tidak Menjadi Imam
Shalat Bagi Pemilik Rumah, dan Tidak Duduk di Permadaninya Kecuali dengan Izinnya
Hal ini karena seseorang yang berada di rumah sendiri lebih berhak (terhadap apa pun) dari selainnya. Maka, ia tidak boleh menjadi imam shalat dan duduk-duduk di atas permadaninya yang disediakan untuknya kecuali dengan izinnya. Hal ini telah disebutkan dalam hadits
Abu Mas’ud al-Anshari yang marfu’ (sampai) kepada Nabi bahwa beliau bersabda:

يؤم القوم أقرأهم لكتاب الله فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة فإن كانوا في السنة سواء فأقدمهم هجرة فإن كانوا في الهجرة سواء فأقدمهم سلما ( وفي رواية:سنا ) ولا يؤمن الرجل الرجل في سلطانه ولا يقعد في بيته على تكرمته إلا بإذنه ( وفي رواية:إلا أن يأذن لك أو بإذنه

“Orang yang menjadi imam di suatu kaum adalah yang paling banyak bacaan (hafal) akan Kitabullah, jika ada yang menyamai dalam bacaannya, maka pilihlah yang lebih faham Sunnah, jika ada yang menyamai dalam pemahaman Sunnahnya, maka didahulukan yang paling awal hijrah, jika ada yang menyamai dalam hijrahnya, maka didahulukan dari mereka yang lebih dulu masuk Islam (dalam riwayat lain: yang umurnya lebih tua). Dan, tidak boleh seseorang menjadi imam bagi orang lain di wilayahnya, dan tidak pula duduk dalam rumahnya di atas takrimahnya kecuali telah diizinkan olehnya (dalam riwayat lain: kecuali ia mengizinkanmu atau dengan izinnya).”
lmam an-Nawawi mengatakan, “Maknanya bahwa pemilik rumah, majelis dan imam masjid lebih berhak dari selainnya. Jika tidak ada orang lain yang wawasan kelimuannya lebih luas, hafalannya lebih banyak, lebih wara” (menjaga diri dari dosa, maksiat dan syubhat) dan lebih utama darinya, maka pemilik tempat lebih berhak. Jika ia mau, ia bisa maju sebagai imam dan jika mau ia bisa mendahulukan orang yang dikehendakinya, walau pun yang didahulukannya itu tidak lebih utama dari orang lain yang ada di tempat itu, karena dialah yang memang berwenang. ia boleh menggunakan kewenangannya itu sesuai dengan apa yang dikehendakinya.”

3. Meminimalkan Intensitas Ziarah
Hal ini diisyaratkan dalam hadits ‘Aisyah Ummul Mukminin, yang telah disebutkan sebelumnya, yakni ucapannya, “Jarang sekali Rasulullah mendatangi suatu rumah di waktu pagi dan petang dalam satu hari kecuali rumah Abu Bakar.”
Dan, dalam riwayat lain,… Dan tidaklah ada hari yang terlewat oleh keduanya melainkan Rasulullah mendatangi kami di waktu pagi dan petang.”
Riwayat di atas menunjukkan bahwa Nabi seringkali mengunjungi Abu Bakar.

زر غبا تزدد حبا

“Ziarahilah setiap selang satu hari niscaya akan menambah rasa cinta. ”
Ibnu Hajar mengomentarinya, beliau berkata, “Sepertinya al-Bukhari dalam terjemah bab memberi isyarat akan lemahnya hadits yang populer,Ziarahilah setiap selang satu hari niscaya akan menambah rasa cinta. Hadits ini diriwayatkan dari banyak jalan yang sebagian besarnya merupakan riwayat-riwayat yang gharib, tidak satu pun jalan periwayatannya yang selamat dari kritikan.”
Sekiranya pun keshahihan hadits ini diterima, ia tidak menafikan hadits ‘Aisyah. lbnu Hajar mengatakan, “Dikarenakan keumuman hadits di atas dapat disisipkan pengkhususan, dengan demikian hadits tersebut dimaksudkan bagi seseorang yang tidak memiliki hubungan khusus dan kecintaan yang berkelanjutan, maka ia tidak mengurangi kunjungan ke rumahnya. lbnu Baththal mengatakan, “Seorang teman yang saling berkasih sayang tidaklah ia sering berziarah melainkan hal itu akan menambah kecintaan, berbeda dengan selainnya.…

Faidah:
Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan:
Aku mengunjungi kekasihku yang nampak keriangan bagiku
Dan menyambutku dengan keceriaan dan senyuman
Jika bukan karena keceriaan dan senyum
niscaya aku meninggalkannya
Dan seandainya dalam perjumpaan
ada kecenderungan dan suka cita

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *