ADAB BERJUMPA

Rasulullah bersabda:
تصافحوا يذهب الغل وتهادوا تحابوا وتذهب الشحناء
“Hendaklah kalian saling berjabat tangan, dengan begitu akan menghilangkan kebencian, dan hendaklah kalian saling memberi hadiah niscaya kalian akan saling mencintai dan menghilangkan perasaan dendam. ”
Dan, beliau bersabda:
ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يفترقا
“Tidaklah dua orang muslim. yang saling berjumpa, kemudian keduanya saling berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni sebelum keduanya berpisah. ”
Beberapa Adab Ketika Berjumpa
l. Disunnahkan Saling Berjabat Tangan
Beberapa atsar telah menyebutkan bahwa dengan berjabat tangan akan menghilangkan kebencian dan menjadi sebab diampuninya dosa. Dan, berjabat tangan adalah amalan yang dianjurkan oleh Nabi serta amalan yang telah dicontohkan oleh para shahabat beliau.
Qatadah mengatakan, “Aku bertanya kepada Anas, Apakah saling berjabat tangan sudah menjadi amalan di kalangan para shahabat Nabi Beliau menjawab, “Ya”.
Disebutkan pula dalam kisah penerimaan taubat dari Allah untuk Ka’b, bahwa ia berkata, “Aku masuk ke dalam masjid, ternyata Rasulullah berada di dalamnya. Lalu Thalhah bin “Ubaidillah berdiri menghampiriku sambil bergegas hingga menjabat tanganku dan mengucapkan selamat kepadaku.”
Dan, disebutkan dalam hadits Anas, ketika penduduk Yaman datang, Nabi bersabda, “Penduduk Yaman telah datang dan mereka adalah orang-orang yang lebih lembut hatinya dibanding kalian.” Dan merekalah yang pertama kali datang dengan menjabat tangan.
Juga dari hadits al-Bara’ bin ‘Azib, ia mengatakan, “Di antara kesempurnaan ucapan salam adalah dengan menjabat tangan saudaramu.”
Berjabat tangan disunnahkan ketika bertemu dan menegaskan ucapan salam. Disebutkan dalam al-Adabul Mufrad, “Ketahuilah bahwa berjabat tangan ketika bertemu merupakan penyerta dan penegas ucapan salam dari lisan. Karena, ucapan salam adalah pemberitahuan keamanan dari ucapan sementara berjabat tangan laksana penyetujuan, pengulangan dan penegasan salam yang diucapkannya. Dengan demikian, kedua orang yang saling bertemu merasa dalam keadaan aman dari temannya masing-masing.”
Setelah mencantumkan beberapa atsar yang menunjukkan bolehnya berjabat tangan dan anjuran terhadapnya, maka kita tidak berfikiran ada seorang muslim yang masih bakhil (kikir) terhadap dirinya sendiri untuk mendapatkan kebaikan atau terdorong untuk melakukan amalan Sunnah!
Masalah: Telah menjadi kebiasaan kaum muslimin untuk menjabat tangan imam shalat mereka atau jama’ah yang berada di samping mereka selepas melaksanakan shalat-shalat wajib. Apakah hal ini disyari’atkan?
Jawab: Berjabat tangan selepas mengerjakan shalat-shalat wajib bukan termasuk amalan yang disyari’atkan dan sama sekali tidak pernah terjadi di zaman Nabi, Khulafa’ur Rasyidin dan tidak juga di zaman para shahabat beliau yang mulia. Dan, mengamalkannya termasuk mengada-ada dalam islam yang tidak dibolehkan oleh Allah.
Fadhlullah al-Jailani mengatakan, Ibnu ‘Abidin berkata, “Seringnya melakukan perbuatan tersebut (berjabat tangan) secara khusus setelah melaksanakan shalat-shalat wajib akan menyampaikan seseorang kepada keyakinan bahwa perbuatan tersebut disunnahkan (disebabkan karena kebodohannya terhadap agama), padahal amalan tersebut adalah tambahan yang khusus atas selainnya.Dari perkataannya nampak jelas bahwa hal itu tidak dilakukan oleh seorang pun dari kalangan salaf. Dan, dalam kitab al-Multaqath disebutkan: Dimakruhkan berjabat tangan setelah mengerjakan shalat dalam setiap keadaan, karena para shahabat tidak melakukannya, bahkan hal itu merupakan perbuatan orang-orang Rafidhah. Dan, para ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa berjabat tangan setelah mengerjakan shalat adalah perbuatan bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at dan pelakunya pertama kali dilarang lalu setelah itu ia ditegur dengan keras.
Di dalam kitab aI-Madkhal disebutkan bahwa berjabat tangan setelah shalat adalah perbuatan bid’ah. Dan, tempat yang dibenarkan oleh syari’at untuk berjabat tangan adalah ketika seorang muslim bertemu dengan saudaranya, bukan setiap kali seusai mengerjakan shalat. Maka, di mana syari’at menempatkan amalan berjabat tangan, di situlah seharusnya ditempatkan. Perbuatan itu seharusnya dilarang dan . pelakunya mendapat teguran karena telah melakukan amalan yang menyelisihi Sunnah.”
Lajnah Da’imah didalam salah satu tawanya menyatakan: Apabila seseorang tidak memiliki kesempatan berjabat tangan dengan orang lain sebelum mengerjakan shalat, lalu ia ingin menjabat tangannya setelah salam, baik setelah shalat wajib atau sunnah, baik berada di kanan atau kirinya akan tetapi jika dilakukan setelah mengerjakan shalat wajib, maka hendaklah ia melakukannya setelah membaca dzikir-dzikir yang disyari’atkan setelah shalat. Adapun salam makmum kepada imam setelah shalat, kami tidak mengetahui adanya nash (dalil) khusus yang menerangkannya.”
Faidah: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad dari Salamah bin Wardan, ia mengatakan, “Aku telah melihat Anas bin Malik mengucapkan salam kepada kaum muslimin, lalu ia bertanya kepadaku, Siapa engkau?” Aku menjawab, “Maula Bani Laits.” Lalu ia mengusap kepalaku seraya mengatakan,Baarakallaahu fiik (mudah mudahan Allah memberkahimu) ”
Beberapa atsar di atas menunjukkan disunnahkannya mengucapkan salam kepada anak-anak dan menjabat tangan mereka di mana hal tersebut menunjukkan kasih sayang dan perhatian terhadap mereka, serta membiasakan mereka dengan perbuatan baik. Dan, mengusap kepala anak kecil seperti yang dilakukan oleh Anas menunjukkan kecintaan dan kasih sayangnya terhadap anak-anak.
2 Diharamkan Berjabat Tangan dengan Wanita yang Bukan Mahram
Diharamkannya hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahih beliau, dari ‘Aisyah-Ummul Mukminin dan dari ayahnya-tentang _pembaiatan wanita-wanita Muhajirin, ia berkata,“ . Dan Rasulullah, di saat mereka-wanita-wanita tersebut-membenarkan hal itu dengan perkataan mereka, Rasulullah bersabda kepada mereka, “Kembalilah kalian semua, sesungguhnya aku telah membaiat kalian. Dan demi Allah, sekali-kali tidaklah tangan Rasulullah menyentuh tangan seorang wanita pun. Beliau hanya membaiat mereka dengan Ucapan. Demi Allah, Rasulullah tidak berbuat terhadap para wanita kecuali apa yang Allah perintahkan. Di saat membaiat mereka beliau hanya mengucapkan, . Aku telah membaiat kalian, dengan sekali ucapan.”
Perkataan beliau,“Aku telah membaiat kalian,” dengan sekali ucapan,” yaitu beliau mengucapkan kalimat itu sekali, tidak dengan menjabat tangan, sebagaimana kebiasaan beliau ketika membaiat kaum laki-laki sambil menjabat tangan mereka. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Hajar.
Dan, hadits Umaimah binti Raqiqah menguatkan hal tersebut. Di dalamnya disebutkan dengan jelas bahwa beliau menolak untuk menjabat tangan wanita. Yaitu ketika beliau membaiat kaum wanita, kami berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengasihi kita dibanding dirikita sendiri. Mari, kami hendak membaiatmu wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah bersabda:
إني لا أصافح النساء إنما قولي لمائة امرأة كقولي لامرأة واحدة أو مثل قولي لامرأة واحدة
“Sesungguhnya aku tidak menjabat tangan wanita. Sesungguhnya perkataanku kepada seratus wanita sama dengan perkataanku kepada seorang wanita, atau seperti ucapanku kepada salah seorang wanita.”
Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sabda beliau, ‘Sesungguhnya aku tidak menjabat tangan wanita,menunjukkan bahwa beliau tidak membolehkan seorang laki-laki menyentuh wanita yang tidak dihalalkan baginya, tidak menyentuh wanita tersebut dengan tangannya dan tidak pula menjabat tangannya.
Faidah: Sebagian kaum muslimin meyakini tentang dibolehkannya menjabat tangan wanita yang bukan mahram dari balik penghalang atau semisalnya. ini adalah keyakinan yang keliru. Menjabat tangan wanita

yang bukan mahram tidak dibolehkan secara mutlak.
Memang benar, ada beberapa atsar yang diriwayatkan dari Nabi : bahwa beliau telah membaiat kaum wanita dari balik pakaian beliau. Akan tetapi, semua riwayat tersebut adalah mursal yang sebagiannya tidak bisa menguatkan sebagian lainnya untuk menolak hadits-hadits shahih yang dengan jelas menerangkan penolakan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.
Syaikh al-Albani mengatakan, “Dan hal itu telah disebutkan dalam beberapa riwayat lainnya, akan tetapi semuanya mursal. Al-Hafizh telah menyebutkanya dalam al-Fat-h (VIII/488). Dan, tidak satu pun dari riwayat tersebut yang bisa dijadikan sandaran, terlebih setelah menyelisihi riwayat yang lebih shahih ….”
3. Disunnahkan Tidak Melepas Tangan Ketika Berjabat Tangan Hingga Orang yang Dijabattangani Melepas Tangannya Telebih Dahulu
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia mengatakan, “Apabila Nabi bertemu dengan seseorang, beliau akan menjabat tangannya dan tidak melepas tangan beliau hingga orang tersebut yang pertama kali melepas tangannya …” (Al-hadits).
Hadits tersebut menunjukkan disukainya berjabat tangan dan melamakannya dalam menggenggam tangan orang yang dijabati, namun tidak sampai memberatkan.
Masalah: Seandainya dua orang saling berjabat tangan dan keduanya melamakannya, maka siapa yang lebih dahulu melepaskan tangannya?
Jawab: Syaikh Taqiyyuddin mengatakan, “Jika ia telah memperkirakan bahwa yang lainnya akan melepas genggamannya maka ia tetap menggenggam. Dan, jika tidak maka sekiranya masing-masing dari keduanya lebih menyenangi untuk saling menggenggam tangan, maka mereka bisa terus bergenggaman tangan. Akan tetapi, ulasan ‘Abdul Qadir adalah ulasan yang baik,” bahwa yang lebih dahulu melepas genggaman adalah yang memulai pertama kali.”
4. Berdiri untuk Mengucapkan Salam Kepada Seseorang yang Datang
Berdiri menyambut seseorang terbagi menjadi tiga bentuk:
Pertama: Berdiri untuk pemimpin yang merupakan perbuatan penguasa yang sombong.
Kedua: Berdiri kepada seseorang di saat ia datang menghampirinya. Dan, hal ini dibolehkan.
Ketiga: Berdiri ketika melihatnya, dan hukumnya masih diperselisihkan.
Adapun dalil bentuk pertama:
Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdilla, ia berkata, “Rasulullah tengah menderita sakit, maka kami mengerjakan shalat di belakang beliau sementara beliau mengerjakannya sambil duduk. Dan, Abu Bakar memperdengarkan takbir beliau kepada para makrnum. Beliau menoleh ke arah kami dan melihat kami yang sedang berdiri. Maka, beliau mengisyaratkan agar kami duduk, lalu kami pun duduk.
Maka kami mengerjakan shalat bersama beliau sambil duduk. Setelah mengucapkan salam, beliau bersabda:
إن كدتم آنفا لتفعلون فعل فارس والروم يقومون على ملوكهم وهم قعود فلا تفعلوا ائتموا بأئمتكم إن صلى قائما فصلوا قياما وإن صلى قاعدا فصلوا قعودا
“Hampir saja tadi kalian melakukan perbuatan orang-orang Persia dan Romawi. Mereka berdiri atas raja-raja mereka, sementara raja-raja tersebut duduk. Maka, janganlah kalian melakukannya. Ikutilah

imam kalian; apabila ia melaksanakan shalat sambil berdiri maka shalatlah kalian sambil berdiri, dan apabila ia melaksanakan shalat sambil duduk, maka Sholatlah kalian sambil duduk.”
Berdiri dengan tujuan seperti ini adalah perbuatan terlarang tanpa diragukan lagi. Dan, hadits di atas dengan sangat jelasnya menunjukkan dilarangnya orang-orang berdiri menghormati para pembesar mereka, atau orang yang mereka agungkan. Dan, ini termasuk perbuatan para penguasa yang sombong.
Kecuali jika memang hal itu diperlukan; misalnya jika khawatir terhadap seseorang yang kemungkinan akan berbuat semena-mena kepadanya, maka ia boleh berdiri menghormatinya. Demikian pula jika seseorang berdiri untuk memuliakan orang lain di saat yang memang ditujukan untuk memuliakan orang tersebut. Dan, dibolehkan juga jika ditujukan untuk merendahkan musuh, seperti yang terjadi dengan al-Mughirah bin Syu’bah dalam peristiwa perdamaian Hudaibiyah Ketika itu orang-orang Quraisy mengirim utusan untuk mengajak Nabi berunding dengan mereka. Al-Mughirah bin Syu’bah saat itu berdiri di dekat kepala Rasulullah dan di tangannya terhunus sebilah pedang sebagai ungkapan pengagungan terhadap Rasulullah dan penghinaan kepada utusan orang-orang kafir Quraisy tersebut. Demikian yang dikatakan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin.
Dalil bentuk kedua:
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwaththa’nya tentang kisah masuk Islamnya “Ikrimah bin Abi Jahl. Dalam hadits itu disebutkan, “… Lalu ia memeluk Islam dan mengunjungi Rasulullah pada tahun penaklukan kota Makkah. Ketika Rasulullah melihatnya, beliau melompat ke arahnya karena gembira dan menanggalkan selendang beliau sehingga beliau pun membaiatnya ….” (Al-hadits)”.
Telah dikemukakan juga kisah taubatnya Ka’ab yang di dalamnya disebutkan bahwa Thalhah berdiri menyambutnya untuk mengucapkan selamat. Ia mengatakan, “Aku masuk ke dalam masjid, ternyata Rasulullah berada di dalamnya. Lalu Thalhah bin Ubaidillah berdiri menghampiriku sambil bergegas hingga menjabat tanganku dan meng. ucapkan selamat kepadaku. ”
Dalil bentuk ketiga-yang diperselisihkan oleh ulama, yaitu berdiri ketika melihat seseorang-:
Disebutkan dalam hadits Abu Mijlaz, ia mengatakan bahwa suatu saat Mu’awiyah keluar sementara ‘Abdullah bin Amir dan ‘Abdullah bin az-Zubair sedang duduk. Lalu lbnu Amir berdiri sementara Ibnuz Zubair _ tetap duduk-dan ia termasuk orang yang paling tenang di antara keduanya-. Mu’awiyah berkata, Nabi bersabda:
من سره أن يمثل له عباد الله قياما فليتبوأ بيتا في النار
“Barangsiapa yang menyukai hamba-hamba Allah berdiri menghormatinya maka hendaklah ia menyiapkan rumahnya dari api neraka. ”
Dan, dalam lafazh Abu Dawud disebutkan: Maka Mu’awiyah berkata kepada Amir, “Duduklah, karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda:
من أحب أن يمثل له الرجال قياما فليتبوأ مقعده من النار
“Barangsiapa yang menyukai orang-orang menghormatinya sambil berdiri maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka. ”
Pemahaman para ulama terhadap hadits ini tebagi menjadi tiga pendapat:

Pertama: Sebagian ulama’ berpendapat bahwa hadits ini menunjukkan makruhnya berdiri kepada para penguasa sebagaimana yang dilakukan terhadap para penguasa Persia dan Romawi. Dan, mereka menyertakan hadits ini dan hadits riwayat Muslim yang menyebutkan makruhnya berdiri di atas kepala seseorang yang duduk sebagaimana yang dilakukan orang-orang ‘ajam kepada para pemimpin mereka.
Kedua: Ulama yang berdalil dengan hadits ini atas makruhnya seseorang berdiri untuk seorang yang datang. Dan, mereka berpendapat bahwa hadits ini adalah nash yang sangat jelas tentangnya. Mu’awiyah menyebutkan hadits ini ketika lbnu Amir berdiri untuk melihatnya.
Penyebutan hadits ini dalam kejadian tersebut merupakan indikasi kuat yang menjelaskan maksud hadits. Ditambah lagi, tidak adanya Pengingkaran lbnuz Zubair terhadap Mu’awiyah adalah bukti bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang juga beliau fahami.
Para ulama yang berpendapat seperti ini menyanggah ulama yang memahami hadits Mu’awiyah-bahwa maksud hadits tersebut adalah berdiri di atas seseorang yang sedang duduk-dengan beberapa sangahan:
a. Karena, orang-orang Arab tidaklah mengenal hal ini (berdiri di atas seseorang yang sedang duduk) melainkan amalan tersebut adalah amalan orang-orang Persia dan Romawi.
b. Hal ini tidaklah dikategorikan berdiri untuk menyambutnya, melainkan berdiri untuk menghormatinya. Dan, jelas perbedaan antara berdiri menyambut seseorang yang terlarang dan berdiri menghormatinya yang merupakan bentuk tasyabbuh -penyerupaan-dengan perbuatan kaum Persia dan Romawi. Sedangkan berdiri menyambut kedatangan seseorang merupakan kebiasaan kaum Arab. Demikian yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim .
Ketiga: Ulama yang merincinya. Mereka berpendapat, apabila berdiri tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengagungkan maka perbuatan tersebut adalah sesuatu yang makruh, namun jika dilakukan sebagai bentuk pemuliaan maka ia tidak dimakmhkan. Pendapat ini disebutkan oleh al-Ghazali dan dianggap sebagai pendapat yang bagus oleh lbnu Hajar.
Kesimpulan tentang masalah ini, lbnu Taimiyyah telah meringkasnya, beliau mengatakan, “Dan berdiri setiap kali melihat Nabi, seperti yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin (untuk pemimpin atau tokoh mereka) bukan merupakan kebiasaan ulama Salaf di zaman Nabi dan para Khulafa’ur Rasyidin. Bahkan, Anas bin Malik mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para shahabat selain Nabi. Dan, apabila mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri untuk menyambutnya, karena mereka tahu bahwa Nabi membencinya.
Akan tetapi mereka terkadang berdiri menyambut seseorang yang datang setelah lama tidak berjumpa untuk menunjukkan sambutan kepadanya, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau berdiri untuk menyambut “Ikrimah. Dan, beliau bersabda kepada kaum Anshar ketika Sa’ad bin Mu’adz datang:
قوموا إلى سيدكم
Berdirilah kalian untuk menyambut pemimpin kalian.
Dan, ketika itu ia baru kembali setelah memutuskan hukum bagi Bani Quraizhah yang mereka hanya mau menerima keputusannya.
Yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslimin adalah berittiba’ (meneladani) para ulama salaf sebagai suatu kebiasaan, meneladani setiap apa yang mereka lakukan di zaman Rasululah, karena
sesungguhnya mereka adalah sebaik-baik masa, dan sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Maka, seseorang tidak boleh berpaling dari petunjuk sebaik-baik manusia dan berpaling dari petunjuk sebaik-baik masa kepada petunjuk selainnya.
Dan, seharusnya juga seseorang yang ditaati tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh para pengikutnya. Yaitu ketika mereka melihatnya, hendaklah mereka tidak berdiri menyambutnya kecuali pada pertemuan yang biasa. Adapun berdiri menyambut seseorang yang baru datang dari bepergian dan yang semisal dengannya sebagai ungkapan selamat datang, maka perbuatan tersebut merupakan suatu hal yang baik.
Dan, jika kebiasaan kaum muslimin adalah memuliakan seseorang yang datang dengan berdiri, yang seandainya kebiasaan ini ditinggalkan maka akan diyakini bahwa hal itu meninggalkan haknya atau ingin merendahkannya, dan ia tidak mengetahui kebiasaan yang sesuai dengan Sunnah, maka yang lebih baik adalah ikut berdiri menyambutnya. Dikarenakan dengan hal ini akan terjalin hubungan baik antara keduanya serta menghilangkan kebencian dan ketidak senangan. Adapun jika kebiasaan suatu kaum sesuai dengan Sunnah, maka meninggalkan hal itu bukan merupakan sesuatu yang menyakitinya.”
Ibnu Hajar mengatakan, “Kesimpulannya, di saat meninggalkan berdiri dianggap sebagai suatu penghinaan atau akan menimbulkan keburukan bagi dirinya maka janganlah ia melakukannya. Dan, pendapat inilah yang tersirat dari pernyataan lbnu ”Abdis Salam.”
5. Apakah Seseorang Dibolehkan Mencium Seorang Lainnya Ketika Bertemu?
Bukan merupakan kebiasaan para salaf, baik para shahabat atau generasi setelah mereka, apabila sebagian di antara mereka bertemu dengan sebagian lainnya mereka saling berciuman sebagaimana yang terjadi di hari ini. Atsar-atsar yang menyebutkan tentang berciuman ketika bertemu tidak cukup kuat untuk membantah hadits yang sangat , jelas menerangkan larangan mencium ketika bertemu. Syaikh al-Albani telah membantah hadits-hadits yang tidak kuat tersebut dari dua sisi, dan yang paling berfaidah dari keduanya bahwa hadits-hadits tersebut adalah hadits-hadits yang ma’IuI (memiliki cacat) dan tidak bisa dijadikan hujjah. Yang kedua, sekiranyapun shahih, hadits-hadits tersebut tidak bisa dipertentangkan dengan hadits yang shahih.
Hadits yang dimaksud adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, ia berkata, “Seseorang berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami bertemu dengan teman (sahabat)nya, apakah boleh ia mentahni’nya (yaitu memeluknya kanan dan kiri bergantian)?” Maka Rasulullah menjawab, “Tidak.” Orang itu bertanya, “Merangkul dan menciumnya?” Beliau menjawab, ‘Tidak.” Orang itu bertanya lagi,”Bolehkan ia menjabat tangannya?” Maka Rasulullah bersabda, ”Ya, jika ia mau. ”
Hadits di atas sangat jelas menunjukkan larangan tahni’ dan mencium ketika bertemu dalam pertemuan biasa. Akan tetapi, tidak berarti dilarang berdekapan kanan dan kiri ketika bertemu seseorang yang datang dari perjalanan atau lama tidak bertemu.
Yang kami jadikan dalil adalah perbuatan Jabir bin ‘Abdillah. Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa telah sampai kepadanya sebuah hadits dari salah seorang shahabat Nabi. (Ia mengatakan:) Maka aku segera membeli satu ekor unta, lalu aku melakukan perjalanan selama satu bulan hingga tiba di Syam, ternyata shahabat yang meriwayatkan tersebut adalah ‘Abdullah bin Unais. Lalu aku (Jabir) menyuruh seseorang menyampaikan bahwa Jabir berada di depan pintu. Lalu utusan tersebut kembali dan mengatakan, “Jabir bin “Abdillah?” Aku berkata, “Benar.” Maka ia pun keluar lalu mendekapku kanan dan kiri.
Aku berkata,“Karena sebuah hadits telah sampai kepadaku yang belum pernah aku dengar. Aku khawatir meninggal atau engkau yang meninggal.”
ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ”Seluruh hamba Allah akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan dan buhman. ‘ Kami bertanya, ‘Apa itu buhman?” Beliau bersabda, ‘Tidak memiliki sesuatu. Lalu satu suara menyeru mereka suara yang bisa didengar oleh orang yang berada jauh-aku mengira beliau bersabda, “Sebagaimana terdengar oleh orang yang dekat,“Aku-lah al-Malik. Tidak sepatutnya seorang penghuni surga masuk ke. dalam surga sementara seseorang dari penghuni neraka menuntut pembalasan kezhalimannya. Dan, tidak sepatutnya seorang penghunii neraka masuk ke dalam neraka sementara seseorang dari penghuni surga menuntut pembalasan kezhalimannya. ‘
Aku bertanya, “Lalu bagaimana? Dan sesungguhnya kita akan menjumpai Allah dalam keadaan telanjang dan tidak memiliki sesuatu pun?
Beliau menjawab, “Dengan amal-amal kebaikan dan amaLamal keburukan .“
Faidah: Ciuman seorang ayah terhadap anaknya merupakan bentuk kesempurnaan kasih sayang dan kecintaannya. Nabi pemah mencium anak-anak beliau, mencium al-Hasan dan al-Husain, dan Abu Bakar mencium anak perempuannya, ‘Aisyah, dan ini adalah kabars kabar yang masyhur. Kemasyhurannya telah mencukupi bagi kita tentang takhrij silsilahnya hingga pada sumbernya.
Faidah lain: Adapun mencium tangan, sebagian ulama mem. bolehkannya, sesuai tata cara beragama. Al-Marwadzi berkata, “Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah tentang mencium tangan, beliau menjawab, ‘Jika sesuai dengan tata cara beragama maka tidak mengapa. Abu “Ubaidah pun pernah mencium ‘Umar bin al-Khaththab . Jika disesuaikan dengan tata cara keduniaan, maka ia tidak dibolehkan, kecuali seseorang yang takut akan pedang atau cambuknya …’ ‘Abdullah bin Ahmad berkata, “Aku melihat banyak dari kalangan ulama, ahli fiqih, ahli hadits, Bani Hasyim, Quraisy dan kaum Anshar, mereka enciumnya-yakni ayahnya-sebagian mencium tangannya dan sebagian lagi mencium kepalanya.”
Dan, sebagian ulama lain memakmhkan mencium tangan dan mereka menyebutnya as-Sajdah ash-Shughra (sujud kecil). Sulaiman bin Harb berkata, “Dia adalah as-Sajdah ash-Shughra. Adapun kebid’ahan yang masyarakat lakukan dengan mengulurkan tangannya kepada orang lain agar ia menciumnya dan meniatkan untuk hal seperti itu, maka perbuatan ini tidak disangkal bagi siapa saja. Lain halnya jika yang mencium itu adalah orang yang mengada-adakan hal tersebut.”
6. Haramnya Membungkuk dan Sujud di Saat Memberi Salam Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami bertemu dengan temannya, apakah ia membungkuk untuknya?” Beliau menjawab, “Tidak! la bertanya, “Apakah ia memeluk dan menciumnya?” Beliau menjawab, ‘Tidak’ Ia bertanya lagi, “Dia menjabat tangannya?” Beliau & menjawab, Ya, jika ia mau.”
Hadits ini sangat jelas menunjukkan pelarangan, dan tidak satu pun dalil yang memalingkannya. Dengan demikian hadits ini menunjukkan keharamannya. Tidak dibolehkan membungkuk kepada seorang makhluk pun. selamanya, karena perbuatan tersebut tidak layak dilakukan kecuali kepada al-Khaliq, terlebih lagi dengan sujud.
lbnu Taimiyyah mengatakan, “Adapun membungkuk ketika memberi salam adalah perbuatan yang dilarang. Sebagaimana diriwayatkan oleh art-Tirmidzi dari Nabi, bahwa mereka-para shahabat-bertanya kepada beliau tentang seseorang yang bertemu dengan saudaranya lalu ia membungkuk kepadanya. Beliau bersabda, “Tidak boleh.” Juga karena ruku’ dan sujud tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah.
Adapun sujud, seorang yang berakal tidak boleh merasa ragu untuk menujukannya hanya kepada Mahdi, tidak kepada selain-Nya. Dan, dalam perbuatan ini terkandung makna “ubudiyah (penghambaan), tidak seperti ketika membungkukkan badan. Karena, ketika membungkukkan badan, di dalamnya tidak terkandung posisi yang mencakup seluruh makna penghinaan diri, kerendahan, ketundukan dan “ubudiyah sebagaimana yang terkandung dalam sujud. Oleh karena itu diriwayatkan dalam hadits dari lbnu ‘Abbas, dari Rasulullah,beliau bersabda:
وأما السجود فاجتهدوا في الدعاء فقمن أن يستجاب لكم

“Adapun sujud maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, maka doa tersebut pantas (layak) dikabulkan untuk kalian.”
Sabda beliau, “Pantas (layak), ” artinya sesuatu yang hakiki dan layak untuk mendapatkan pengabulan doa. Karena, dalam sujud terkandung makna pengagungan yang apabila dipalingkan kepada selain Allah, maka ia merupakan perbuatan yang diharamkan.
Dan, dalil yang menunjukkannya, bahwa ketika Mu’adz tiba dari Syam, ia lantas melakukan sujud kepada Nabi. Maka, beliau bersabda, “Ada apa ini wahai Mu’adz?” Ia berkata, “Aku baru saja tiba dari Syam dan melihat mereka sujud kepada para uskup dan orang-orang terkemuka di antara mereka.Maka,aku ingin mwlakukannya kepadamu.”Maka Rasulullah bersabda:
فلا تفعلوا فإني لو كنت آمرا أحدا أن يسجد لفير الله لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها ولذي نفس محمد بيده لا تؤدي المرأة حق ربها حتى تؤدي حق زوجها ولو سألها نفسها وهي على قتب لم تمنعه
“Janganlah kalian melakukannya. Sesungguhnya jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya aku akan menyuruh seorang wanita untuk sujud kepada suaminya. Demi Rabb yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang wanita dapat menunaikan hak Rabb-nya hingga ia menunaikan hak suaminya. Sekiranya suaminya meminta istrinya untuk melakukan hubungan suami istri sementara si istri sedang berada di atas pelana, maka ia tidak boleh menolaknya. ”
Faidah yang terkandung dalam sujud:
Seorang muslim meletakkan wajahnya yang merupakan anggota badan yang paling mulia dan paling terpandang di atas tanah yang merupakan tempat kaki-kaki berlalu-lalang sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan kepada Allah dan bentuk ubudiyah kepada-Nya. Dan, seorang mukmin akan merasakan kelezatan di saat ia menundukkan hatinya kepada Allah ketika sujud, yang tidak akan ia rasakan di tempat lain. Maka, Mahasuci Allah yang orang-orang mengerjakan shalat bersujud kepada-Nya di atas tanah dan mensucikan-Nya dari kerendahan dengan ucapan mereka, “Subhaana Rabbiyal a’laa (Maha suci Rabb-ku Yang Mahatinggi) .”

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *