ADAB BERMAJELIS

Allah berfirman:
ياأيها الذين آمنوا إذا قيل لكم تفسحوا في المجالس فافسحوا يفسح الله لكم وإذا قيل انشزوا فانشزوا يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis,’ maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan, apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (Al-Mujadilah: 11)
Di Antara Adab-Adab Bermaielis
l. Keutamaan Dzikrullah Dalam Majelis dan Larangan Diadakannya Majelis yang Tidak Disebut Nama Allah di Dalamnya
Majelis yang sama sekali tidak disebut nama Allah di dalamnya telah dilarang dengan keras, seperti yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah bersabda:
ما من قوم يقومون من مجلس لا يذكرون الله فيه إلا قاموا عن مثل جيفة حمار وكان لهم حسرة
“Tidaklah suatu kaum bangkit dari suatu majelis yang didalamnya tidak disebut nama Allah melainkan mereka bangkit seperti bangkai keledai, dan untuk mereka hanyalah kerugian (penyesalan).
Dan, dalam lafazh hadits ini terdapat sangkalan terhadap majelis, semacam itu. Sabda beliau, “Melainkan mereka bangkit seperti bangkai keledai,” maksudnya seperti bangkai keledai yang berbau busuk dan menjijikkan. Itu semua karena pembicaraan mereka tentang kehormatan orang dan lain sebagainya.
Yang dimaksud dengan kerugian adalah penyesalan. Hal itu karena mereka meremehkannya.
Sebaliknya, jika majelis-majelis ini dimakmurkan dengan menyebut nama Allah, memuji-Nya, dan mengucapkan shalawat kepada Nabi-Nya, maka majelis-majelis ini akan dicintai oleh Allah. Dan, orang yang hadir di majelis tersebut akan diberi limpahan kebaikan.
Hadits Abu Hurairah mengabarkan kepada kita akan hal itu. Ia berkata, “Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengelilingi jalan-jalan, mereka mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka akan saling menyeru satu sama lain, ‘Kemarilah mengambil bagian kebutuhan kalian.’ Lalu mereka mengembangkan sayap-sayap mereka ke langit dunia, Kemudian Rabb mereka bertanya kepada mereka, sedangkan Allah lebih mengetahui dari mereka, ‘Apa yang diucapkan hamba-hamba-Ku?”Mereka menjawab, “Hamba-hamba-Mu bertasbih kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, memuji-Mu dan memuliakan-Mu. ‘ Lalu Allah berfirman, “Apakah mereka melihat-Ku?’ Para malaikat menjawab, “Tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu.“ Allah berfirman, “Bagaimana jika mereka telah melihat-Ku?“ Para malaikat menjawab, “Seandainya mereka melihat-Mu, maka mereka akan semakin giat beribadah, akan semakin memuliakan-Mu, memuji-Mu dan memperbanyak tasbih kepada-Mu.’ Allah berfirman, “Dan apa yang mereka minta?“ Para malaikat menjawab, “Mereka meminta surga.’ Allah berfirman, “Apakah mereka telah melihat surga?” Para malaikat menjawab, “Tidak demi Allah wahai Rabb-Ku, mereka tidak melihatnya.“ Allah berfirman, “Lalu bagaimana jika mereka telah melihat surga?“ Para Malaikat menjawab, “Seandainya mereka telah melihat surga, niscaya mereka akan semakin bersemangat, semakin mengharapkannya dan keinginan mereka semakin besar.“ Allah berfirman, “Apakah yang mereka meminta perlindungan darinya?’ Para Malaikat menjawab, “Mereka meminta perlindungan dari api neraka.“ Allah berfirman, “Apakah mereka telah melihat api neraka?“ Para malaikat menjawab, “Tidak demi Allah wahai Rabb-Ku, mereka belum melihat neraka.’ Allah berfirman, “Bagaimana jika mereka telah melihat api neraka?“ Para Malaikat menjawab, “Seandainya mereka telah melihat api neraka, niscaya mereka akan semakin menghindarinya, dan rasa takut mereka akan api neraka akan semakin bertambah.’ Allah berfirman, “Aku mempersaksikan kalian bahwa sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka.“ Salah satu dari Malaikat itu berkata, “Di antara mereka ada seseorang yang bukan bagian dari mereka, ia datang untuk suatu keperluan.“ Allah berfirman, “Mereka adalah teman-teman satu majelis, tidaklah orang yang duduk disamping mereka akan merasa bersedih.”
2. Memilih Rekan Semaielis
Di antara perkara yang sangat penting dalam kehidupan seseorang adalah memilih teman satu majelis, karena seseorang akan terpengaruh oleh teman satu majelisnya, dan ini adalah sesuatu yang pasti, betapapun orang tersebut memiliki kekuatan hati dan kepribadian. Oleh karena itu Nabi telah mengarahkan umatnya agar memilih sahab baik dengan teliti, seperti dalam sabda beliau:
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan teman dekatnya.”
Makna hadits di atas bahwa seseorang senantiasa mengikuti adat kebiasaan temannya, tingkah laku dan juga pergaulannya. Maka, hendaklah ia memperhatikan dengan seksama dan meneliti siapa yang akan ia jadikan teman baik. Barangsiapa yang agama dan akhlaknyq baik, maka hendaklah ia menjadikannya sebagai teman baik, dan barangsiapa yang tidak seperti itu, maka hendaklah ia pun menjauhinya Karena, sesungguhnya tabi’at adalah pencuri.
Nabi telah memberikan perumpamaan kepada kita dan menjelaskan pengaruh seorang teman duduk terhadap temannya. Beliau bersabda:
مثل الجليس الصالح والسوء كحامل المسك ونافخ الكير فحامل المسك إما أن يحذيك إما أن تبتاع منه زإما أن تجد منه ريحا طيبة ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد ريحا خبيثة
“Perumpamaan seorang teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk laksana pembawa minyak misik dan pandai besi. Seorang pembawa misik, ia akan memberimu atau engkau akan membeli darinya, atau engkau akan mencium wangi darinya Sementara seorang pandai besi, ia akan membakar pakaianmu atau akan mencium bau yang tidak sedap. ”
Hadits ini memperingatkan akan teman duduk yang buruk dan menganjurkan untuk duduk bersama orang-orang yang shalih dan bertakwa. Dan, teman duduk yang buruk ada dua, apakah dia itu seorang pelaku bid’ah (mubtadi ‘) atau seorang yang fasik.
Jika dia seorang mubtadi’, sekian banyak perkataan para ulama salaf memperingatkan agar waspada terhadap mereka, dan tidak duduk bersama mereka karena mereka akan mendatangkan mudharat bagi agama dan dunia. Majelis para pelaku bid’ah tidak akan lepas dari dua hal, apakah dia akan tenggelam dalam bid’ah mereka, atau dia akan mendapatkan kebimbangan dan keraguan karena berbagai syubhat (kesamaran) menyesatkan dari mereka. Dan, keduanya adalah keburukan.
Di antara perkataan para ulama salaf yang mencela pelaku bid’ah dan memperingatkan agar tidak duduk dengan mereka adalah perkataan al-Hasan al-Bashri, “Janganlah kalian ., duduk bersama pengumbar hawa nafsu, janganlah kalian berdebat dengan mereka dan janganlah kalian mendengarkan mereka.”
Abu Qilabah mengatakan, “Janganlah kalian duduk dengan mereka, dan janganlah kalian bergaul dengan mereka karena sesungguhnya aku tidak menjamin kalian akan aman bahwa mereka akan menenggelamkan kalian dalam kesesatan mereka dan akan menyamarkan sebagian besar perkara yang telah kalian ketahui.”
Ibnul Mubarak mengatakan, “Jadikanlah majelis kalian bersama orang-orang .misikin dan janganlah engkau semajelis dengan pelaku bid’ah.”
Al-Fudhail bin ‘lyadh mengatakan, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mencari halaqah-halaqah dzikir, maka perhatikanlah, bersama siapa engkau duduk semajelis. Dan, janganlah engkau duduk bemajelis dengan pelaku bid’ah, karena sesungguhnya Allah tidak akan melihat mereka. Dan, tanda kemunafikan adalah seseorang berdiri dan duduk bersama pelaku bid’ah.”
Dan, jika teman duduk adalah seorang yang fasik, maka engkau akan mendengar perkataan yang kotor, ucapan yang batil, ghibah dan terkadang mengabaikan shalat dan melakukan perbuatan maksiat lainnya yang akan mematikan hati. Dan, dari sinilah kita dapati bahwa sebagian besar manusia terjerumus setelah sebelumnya istiqamah, karena mereka duduk bersama orang-orang fasik.
3. Ucapan Salam untuk Orang yang Berada di Majelis Ketika Datang dan Pergi
Telah disebutkan kepada kita tentang adab-adab mengucapkan salam dan penjelasan bahwa termasuk amalan yang disunnahkah adalah mengucapkan salam kepada orang-orang yang berada di saat“ majelis ketika mendatangi mereka dan ketika hendak pergi meninggalkan mereka.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Apabila seseorang di antara kalian mendatangi suatu majelis hendaklah ia mengucapkan salam, dan apabila ia ingin duduk maka duduklah. Kemudian apabila ia berdiri untuk pergi maka hendaklah ia mengucapkan salam. Sesungguhnya yang pertama tidaklah lebih utama dari yang terakhir. ” At-Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini hasan.”
4. Dimakruhkan Menyuruh Seseorang Berdiri dari Tempat Duduknya Kemudian la Duduk di Tempat Tersebut
Siapa saja yang duduk di tempat yang dibolehkan, seperti masjid dan semisalnya, maka ia lebih berhak dengan tempat duduknya dibanding selainnya. Di mana jika tiba-tiba ia meninggalkan tempat duduknya karena suatu perkara, kemudian ia kembali lagi ke tempat duduknya semula untuk selang waktu yang tidak begitu lama, maka ia lebih berhak dengan tempat duduknya itu, dan ia boleh menyuruh orang yang duduk di tempatnya untuk berdiri.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi dalam hadits Abu Hurairah; bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian berdiri-dan dalam riwayat Abu ‘Awanah, “Barangsiapa yang berdiri dari tempat duduknya kemudian ia kembali ke tempat duduknya tersebut, maka ia lebih berhak dengannya (dibanding orang lain).”
Dan, sebaiknya orang lain yang berada di tempat duduk tersebut tidak membencinya, karena memang dialah yang lebih berhak untuk duduk ditempatnya semula. Oleh karena itu dijumpai larangan menyuruh seseorang berdiri dari tempat duduknya yang dibolehkan baginya.
Ibnu “Umar meriwayatkan bahwa Nabi telah melarang seseorang meminta orang lain untuk berdiri dari tempat duduknya dan orang lain duduk di tempatnya. Akan tetapi, lapangkan dan luaskanlah. Dan, Ibnu ‘Umar membenci seseorang berdiri dari tempat duduknya lalu ia duduk di tempat orang tersebut.”
Hikmah pelarangan ini agar seseorang tidak melecehkan hak seorang muslim yang akan menumbuhkan perasaan benci, dan dianjurkan bersikap rendah hati yang akan menumbuhkan kasih sayang. Dan, kedudukan setiap orang sama berkaitan dengan perkara yang mubah. Siapa yang telah mendapatkan sesuatu sebagai haknya maka sesuatu itu menjadi haknya. Dan, siapa yang menjadikan sesuatu sebagai hak miliknya tanpa alasan yang benar maka hal itu termasuk perbuatan merampas yang diharamkan. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Abi Jamrah.
Masalah: Kita telah mengetahui makruhnya meminta seseorang untuk berdiri dari tempat duduknya kemudian ia duduk di tempat tersebut. Akan tetapi, apakah hukum makruh ini akan hilang jika pemilik tempat duduk tersebut mengizinkannya?
Jawab: Jika. pemiliknya telah menyerahkan tempat duduknya kepada orang lain, maka tidak ada larangan untuk duduk di tempat tersebut, sebab tempat itu adalah haknya dan ia telah menyerahkannya kepada orang lain.
Adapun atsar dari Ibnu ‘Umar tentang kemakruhannya, Abul Khushaib meriwayatkan, ia berkata, “Aku pernah duduk, kemudian Ibnu ‘Umar datang, lalu seseorang berdiri dari tempat duduknya, namun beliau tidak duduk di majelis tersebut, dan ia duduk di tempat lain. Maka, orang itu berkata, ‘Tidak mengapa engkau duduk di tempat tersebut.” Ibnu ‘Umar kemudian mengatakan, “Aku tidak akan duduk di tempat engkau duduk sebelumnya dan tidak juga di tempat duduk orang selainmu, setelah sebelumnya aku melihat sendiri Rasulullah ; di mana seseorang mendatangi beliau lalu seseorang berdiri dari tempat duduknya, kemudian orang yang datang itu beranjak dan duduk di tempatnya. Maka, beliau melarangnya.”
Adapun apa yang disandarkan kepada lbnu ‘Umar; imam An-Nawawi mengatakan, “Ini adalah sikap wara” beliau. Dan, duduk di tempat tersebut bukanlah sesuatu yang haram jika pemilik tempat duduk itu berdiri dan merelakanya. Akan tetapi, beliau bersikap wara dari dua sisi: Pertama: Mungkin seseorang merasa segan kepada beliau, maka orang itu berdiri dari tempatnya namun tidak dengan senang hati.
Oleh karena itu Ibnu ‘Umar berusaha menutup pintu kemungkinan ini agar selamat dari hal tersebut.
Kedua; Mendahulukan seseorang karena kekerabatan adalah suatu hal yang makruh atau menyalahi hal yang utama. Oleh karena itu Ibnu ‘Umar menolaknya agar seseorang tidak melakukan sesuatu yang makruh atau menyalahi sesuatu yang utama karena dirinya, dengan mundur dari tempatnya di shatf yang pertama dan mengedepankan beliau, dan hal-hal yang serupa dengannya.
Masalah lainnya: Sebagian kaum muslimin sengaja menghamparkan sajadah shalat atau yang serupa dengannya karena ingin mendapatkan keutamaan shaff pertama, sementara mereka memperlambat kedatangan menuju masjid. Apakah perbuatan seperti ini dibenarkan syari’at?
Jawab: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah mengomentari masalah ini secara khusus, beliau mengatakan, “Adapun apa yang dilakukan sebagian besar kaum muslimin dengan mendahulukan hamparan sajadah di masjid pada hari Jum’at atau hari lainnya sebelum mereka mendatangi masjid, maka perbuatan ini terlarang berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, bahkan diharamkan.
Apakah shalatnya di atas sajadah itu sah? Ada dua pendapat di kalangan ulama; karena perbuatan ini termasuk merampas bagian dari masjid dengan menghamparkan sajadah di atasnya, kemudian menghalangi orang lain yang hendak mendirikan shalat yang ia telah bersegera menuju masjid untuk mengerjakan shalat di tempat itu.”
Lalu beliau melanjutkan, “… Dan hal yang disyari’atkan di masjid bahwa orang-orang hendaklah memenuhi shaft pertama, sebagaimana Nabi bersabda, “Tidakkah kalian mengatur shaff sebagaimana para malaikat mengatur shaff di sisi Rabb mereka?” Para shahabat bertanya, “Bagaimana para malaikat mengatur shaft di sisi Rabb mereka?” Beliau menjawab, “Mereka menyempurnakan shaff pertama, kemudian shaff berikutnya dan merapatkan shaff mereka. ‘”
Dalam ash-Shahihain diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda:
لو يعلم الناس ما في النداء والصف الأول ثم لم يجدوا إلا أن يستهموا عليه لاستهموا ولو يعلمون ما في التهجير لاستبقوا إليه
“Seandainya kaum muslimin mengetahui besarnya pahala menyambut adzan dan shaf yang pertama, lalu mereka tidak mendapatkannya kecuali setelah mengadakan undian, niscaya mereka akan mengundinya. Dan, seandainya mereka mengetahui besarnya pahala bersegera mendatangi shalat di waktu siang niscaya mereka akan berlomba mendatanginya.”
Dalam hadits tersebut seseorang dengan sendirinya diperintahkan berlomba menuju masjid. Apabila ia mendahulukan sajadahnya sementara ia sendiri terlambat maka ia telah menyelisihi syari’at dari dua sisi:
Pertama: Dia terlambat, sedangkan yang diperintahkan adalah bersegera.
Kedua: Dia telah merampas salah satu bagian masjid dan menghalangi orang-orang yang lebih dulu mendatangi masjid untuk mengerjakan shalat di tempat tersebut. Juga menghalangi mereka menyempurnakan shaft pertama, kemudian shaft berikutnya. Kemudian, dia pun akan melangkahi orang-orang yang lebih dulu datang. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Seseorang yang melangkahi leher-leher orang lain maka dia telah mengambil jembatan menuju Jahannam.”
Dan, Nabi bersabda:
اجلس فقد آذيت
“Duduklah, karena sesungguhnya engkau telah menyakiti. ”
Kemudian jika ia telah menghamparkan sajadah, bolehkah seseorang yang lebih dulu hadir di masjid mengangkat sajadah itu kemudian ia shalat di tempat tersebut?
Dalam hal ini ada dua pendapat:
Pertama: Seseorang tidak dibenarkan melakukannya, karena hal itu termasuk memindahkan milik orang tanpa izinnya.
Kedua: Pendapat yang tepat, bahwa seseorang dibolehkan mengangkat sajadahnya, kemudian mengerjakan shalat di tempat itu. Karena, orang yang lebih dulu tiba maka ia lebih berhak mengerjakan shalat di shaft terdepan itu. Dan, hal itu diperintahkan, sedangkan perintah tersebut tidaklah mungkin dilakukan dan memenuhi hak ini kecuali dengan mengangkat sajadah tersebut. (Menurut kaedah) suatu perintah yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu (unsur) yang lain, maka sesuatu itu pun (secara otomatis) diperintahkan.
Dan, juga, sajadah yang dihamparkan itu diletakkan dengan pemaksaan, dan itu adalah kemunkaran. Padahal Nabi telah bersabda:
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemunkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Apabila ia tidak mampu maka hendaklah ia merubahnya dengan lisannya. Dan, apabila ia tidak sanggup juga maka hendaklah ia merubahnya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman. ”
Namun, dalam melakukannya perlu diperhatikan, jangan sampai mengkibatkan kemunkaran yang lebih besar dari kemunkaran yang dirubahnya itu. Wallahu Ta’ala a’lam.
5. Melapangkan Majelis
Allah berfirman:
ياأيها الذين آمنوا إذا قيل لكم تفسحوا في المجالس فافسحوا يفسح الله لكم وإذا قيل انشزوا فانشزوا يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis,’ maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan, apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujadilah: 11)
Ini adalah adab dari Allah yang diajarkan kepada setiap hamba-Nya. Jika mereka berkumpul dalam suatu majelis secara berkelompok, dan sebagian mereka atau sebagian yang datang membutuhkan kelapangan baginya di majelis, maka sebagai adab hendaklah mereka melapangkan majelis untuk orang-orang yang datang tersebut sebagai Wujud pengamalan ayat ini.
Namun, jangan sampai hal itu sedikitpun mengakibatkan kemudharatan bagi orang yang melapangkan majelis. la mengupayakan tercapainya tujuan saudaranya, akan tetapi tanpa menimbulkan kemudharatan setelahnya. Dan, balasan akan disesuaikan dengan amal (al-jaza’ min jinsil ‘amal). Karena, barangsiapa yang memberi kelapangan bagi saudaranya maka Allah akan memberi kelapangan kepadanya. Dan, barangsiapa yang memberi keluasan kepada saudaranya maka Allah pun akan memberi keluasan kepadanya.
وإذا قيل انشزوا
“Dan apabila dikatakan, “Bangkitlah kamu,”
Yakni berdirilah dan mundurlah dari majelis kalian untuk suatu keperluan terpuji:
فانشزوا
“Maka bangkitlah,”
yakni segeralah berdiri untuk memperoleh kemaslahatan itu.
Karena, sesungguhnya berdiri seperti ini termasuk dalam cakupan ‘ ilmu dan iman, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Sa’di.
6. Tidak Boleh Memisahkan Dua Orang Kecuali dengan lzin Keduanya
Berkaitan dengan hal ini diterangkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi bersabda:
لا يحل لرجل أن يفرق بين اثنين إلا بإذنها
“Tidak halal bagi seseorang memisahkan dua orang kecuali dengan izin keduanya.”
Ini adalah adab Nabawi yang sangat agung, yaitu melarang seseorang duduk di antara dua orang kecuali dengan izin keduanya, Dan, sebab larangan ini bisa jadi antara kedua orang tersebut terjalin kecintaan dan kasih sayang, dan telah terikat hal-hal yang rahasia serta amanah, maka pemisahan keduanya dengan duduk di antara keduanya akan membuat keduanya merasa keberatan. Demikian yang disebutkan dalam ‘Aunul Ma’bud.
7. Duduk di Bagian Akhir dari Majelis
Adab ini telah ditetapkan dari perbuatan shahabat dan disertai pembenaran Nabi kepada mereka.
Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Apabila kami mendatangi Nabi salah seorang di antara kami duduk di bagian akhir dari majelis.”
Apabila salah seorang di antara para shahabat mendatangi suatu majelis, ia tidak pernah memaksakan diri untuk duduk di bagian depan, atau berdesakan dan bersempit-sempitan dengan orang lain. Bahkan mereka duduk di bagian belakang (di akhir) majelis. Apa yang dilakukannya ini menunjukkan kesempurnaan adab mereka.
8. Larangan Dua Orang Berbicara-dengan BerbisikTanpa Melibatkan Orang Ketiga
Di dalam aI-Lisan disebutkan bahwa makna an-najwa adalah pembicaraan rahasia antara dua orang. Jika dikatakan, “Najautu najwan ” maknanya adalah saya berbicara secara rahasia dengannya. Demikian juga dengan kata “najautuhu.” Dan kata bendanya adalah an-najwa.
Tanajau yang terlarang adalah dua orang yang berbicara dengan rahasia tanpa melibatkan orang ketiga. Hal itu dilarang agar kesedihan tidak meresap ke dalam hati orang ketiga karena melihat dua rekannya berbicara secara rahasia. Sementara setan sangatlah bersemangat untuk memasukkan kesedihan, waswas dan kebimbangan ke dalam hati seorang muslim. Oleh karena itu Nabi melarangnya yang dengan begitu akan memotong setiap jalan setan, dan agar seorang muslim tidak berprasangka buruk kepada saudara-saudaranya. Dalilnya adalah sabda Nabi:
لا ينتجي اثنان دون الثالث فإن ذلك يحزنه
“Janganlah dua orang saling berbicara secara rahasia tanpa menyertakan orang ketiga, karena hal itu akan menyebabkannya bersedih.”
Dalam riwayat lain:
لا يتسار اثنان دون الثالث
“Janganlah kalian berbisik-bisik berdua tanpa menyertakan orang yang ketiga.”
Akan tetapi, apabila kaum tersebut berjumlah empat orang atau lebih maka tidak mengapa jika hal itu dilakukan, karena alasannya telah ditiadakan.
Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud ,ia berkata, “Nabi bersabda:
إذا كنتم ثلاثة فلا يتناجى رجلان دون الآخر حتى تختلطوا بالناس من أجل أن يحزنه
“Apabila kalian terdiri atas tiga orang maka janganlah dua orang berbicara rahasia tanpa menyertakan orang ketiga sampai mereka berada di kerumunan orang banyak, karena hal seperi itu akan membuatnya bersedih.”
Adapun apa yang dilakukan oleh lbnu ‘Umar; menunjukkan realisasi hadits tersebut. “Abdullah bin Dinar meriwayatkan, ia berkata, “Aku dan ‘Abdullah bin ‘Umar berada di rumah Khalid bin ‘Uqbah yang terletak di pasar. Lalu datanglah seseorang yang hendak membicarakan sesuatu yang rahasia dengannya (Ibnu Umar), sementara tidak ada seorang pun bersama ‘Abdullah bin ‘Umar selain diriku dan orang yang hendak mengajak Ibnu ‘Umar untuk berbicara. Lalu ‘Abdullah bin ‘Umar memanggil orang lain sehingga jumlah kami menjadi berempat. Ia berkata kepadaku dan kepada orang yang ia panggil, “Agak ke belakanglah sedikit. Sesunguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ”Janganlah dua orang berbicara rahasia tanpa menyertakan orang ketiga.”
9. Larangan Menyimak Pembicaraan Orang Lain Tanpa Izin
Telah ada ancaman yang keras bagi seseorang yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum sementara mereka tidak menyukainya. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah bersabda:
من تحلم بحلم لم يره كلف أن يعقد بين شعيرتين ولن يفعل ومن استمع إلى حديث قوم وهم له كارهون أو يفرون منه صب في أذنه الآنك يوم القيامة ومن صور صورة عذب و كلف أن ينفخ فيها وليس بنافخ
“Barangsiapa yang menceritakan suatu mimpi yang tidak dilihatnya maka ia akan dibebani untuk menyatukan dua biji gandum dan ia tidak akan pernah bisa melakukannya. Barangsiapa yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum sementara kaum tersebut tidak menyukainya atau mereka menjauh darinya maka timah cair akan dituangkan ke telinganya pada hari Kiamat. Dan barangsiapa yang membuat gambar maka ia akan diazab dan akan dibebankan kepadanya untuk meniupkan ruh pada gambar (yang dibuatnya) itu dan ia tidak akan pernah bisa meniupkannya.”
Hanya saja larangan ini terbatas jika kaum tersebut tidak menyukainya, dan tidak masuk dalam larangan ini jika mereka meridhainya. Tidak juga jika perbincangan mereka dengan suara keras sehingga orang yang ada di sekitarnya dapat mendengarnya.” Karena, seandainya mereka ingin menyembunyikan apa yang mereka bicarakan, tentulah mereka tidak akan mengeraskannya.
10. Sikap Duduk yang Terlarang
Telah shahih dari Nabi bahwa beliau melarang sikap duduk dalam waktu dan keadaan tertentu. Sikap dan keadaan ini di antaranya ada yang alasannya bisa kita ketahui melalui nash dan ada juga yang bisa diketahui melalui ijtihad dan telaah ilmiah.
Sikap duduk yang terlarang diantaranya:
Seseorang duduk dengan meletakkan tangan kirinya tepat di belakang punggungnya lalu bersandar (bertelekan) dengan daging Dangkal persendian tangan yang tepat berada dipangkal ibu jari.
Hal itu diterangkan dalam hadits asy-Syarid bin as-Suwaid; , ia mengatakan, “Rasulullah melewatiku ketika aku duduk seperti ini. Aku meletakkan tangan kiriku di belakang punggungku lalu aku bertelekan dengan siku tangan belakangku. Beliau bersabda, “Apakah engkau duduk sebagaimana duduknya kaum yang dimurkai Allah?”
Adapun dalam keadaan yang dilarang yaitu seseorang duduk di antara cahaya matahari dan bayangan.
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Abul Qasim bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian berada di bawah matahari-Makhlad mengatakan,“Berada di bawah terik cahaya matahari-dan bayangan yang menaunginya menjadi menyusut sehingga sebagian dirinya berada di bawah sinar matahari dan sebagian lainnya dinaungi bayangan maka hendaklah ia berdiri.”
Dalam riwayat Ahmad, “Hendaklah ia berpindah dari tempat duduknya. ”
Dan, dari Buraidah, ia mengatakan bahwa Nabi melarang seseorang duduk di antara bayangan dan cahaya matahari.
Adapun sebab dilarangnya karena majelis seperti ini adalah majelis setan, yang disebutkan dengan sangat jelas dalam riwayat Ahmad dan selainnya.
Ahmad telah meriwayatkan dari salah seorang shahabat Nabi bahwa Nabi melarang seseorang duduk di antara cahaya matahari dan naungan bayangan. Dan, beliau bersabda, “Tempat duduk tersebut adalah tempat duduk setan.”
Masalah: Telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan selainnya dari hadits Jabir bin ‘Abdillah bahwa Nabi bersabda:
لا يستلقين أحدكم ثم يضع إحدى رجليه على الأخرى
“Janganlah seseorang di antara kalian duduk terlentang dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kaki lainnya.”
Diriwayatkan juga dalam ash-Shahihain dan selainnya dari ‘Abbad bin Tamim, dari pamannya bahwa ia telah melihat Nabi berbaring di dalam masjid sambil mengangkat salah satu kaki beliau di atas kaki lainnya. Kedua riwayat ini secara zhahir bertentangan, lalu bagaimana menjamak (menyelaraskanlnya?

Jawab: Sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya larangan tersebut mansukh (dihapus) oleh perbuatan Nabi.”Akan tetapi Ibnu Hajar menyanggah pendapat tersebut, karena hukum naskh tidak bisa ditetapkan hanya dengan dugaan belaka.Saya katakan, “Haruslah diketahui nash mana yang datang lebih dahulu dan mana yang datang kemudian.”
Imam an-Nawawi dan ulama lainnya menyatukan kedua hadits tersebut, beliau berkata, “Ada kemungkinan Nabi melakukannya untuk menerangkan duduk yang dibolehkan, bahwa jika kalian ingin duduk terlentang maka duduklah seperti ini. Dan, larangan tentang duduk terlentang tidak berlaku secara mutlak. Larangan tersebut bagi siapa yang auratnya akan terbuka sedikit atau akan menyebabkan auratnya terbuka. Wallahu a’lam. ”
Yang menguatkan pendapat ini bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi yang bertujuan menerangkan pembolehan, bukan sebagai pengkhususan bagi beliau adalah riwayat shahih yang tercantum dalam Shahih al-Bukhari. Setelah menyebutkan hadits “Abbad bin Tamim dari pamannya-, ia berkata, “Dan dari Ibnu Syihab, dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata, ‘Umar dan ‘Utsman melakukan duduk seperti ini “Sementara jika sebagian shahabat melakukannya maka hal menunjukkan bahwa perbuatan Nabi menjelaskan dibolehkan Akan tetapi, harus aman dari tersingkapnya aurat. Wallahu a’lam.
11. Larangan Banyak Tertawa
Tidak termasuk kepribadian yang baik dan tidak juga suatu adab jika di dalam suatu majelis lebih banyak tertawa. Sedikit tertawa akan, Menyenangkan hati dan membuatnya lega, sementara banyak tertawa adalah penyakit yang akan mematikan hati.

Dari Abu Hurairah,ia berkata, “Rasulullah bersabda:
لا تكثروا الضحك فإن كثرة الضحك تميت القلب
“Janganlah kalian memperbanyak tawakarena banyak tertawa akan mematikan hati.”
12. Makruhnya Bersendawa di tengah Beberapa Orang
Tentang masalah ini telah ditunjukkan dalam sebuah hadits yang marfu’ (sampai) kepada Nabi yang diriwayatkan dari lbnu ‘Umar, ia berkata, “Seseorang bersendawa di dekat Nabi, lalu beliau bersabda, “Tuhanlah sendawamu di dekat kami, karena sesungguhnya kebanyakan orang yang paling kenyang di dunia adalah orang merasakan lapar yang teramat lama pada hari kiamat.”
13.Disunnahkan Menutup (Mengakhiri) Majelis dengan Bacaan Kaffaratul Majelis
Seorang manusia adalah makhluk yang lemah, setan senantiasa berupaya untuk menyesatkan, memalingkan dan mempengauhinya dengan cara membujuknya melakukan perbuatan-perbuatan jelek. Dia pun mengintai kaum muslimin di setiap majelis dan tempat-tempat pertemuan mereka, dan mendorong mereka untuk mengucapkan perkataan dusta dan batil.
Namun, Allah Yang Maha Pengasih kepada setiap hamba-Nya telah mensyari’atkan kepada mereka melalui lisan Nabi mereka beberapa kalimat yang sebaiknya mereka ucapkan, yang akan menggugurkan segala noda yang menempel pada diri mereka ,di majelis tersebut. Kemudian, Rabb mereka pun telah berkenan menjadikan kalimat-kalimat ini sebagai penyerta majelis-majelis kebaikan, maka segala puji hanya bagi Allah di awal dan akhir. Kalimat-kalimat ini disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, ia berkata,“Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang duduk di suatu majelis yang di dalamnya banyak terdapat ucapan sia-sia, kemudian sebelum berdiri ia mengucapkan:
سبحانك ربنا وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك ثم أتوب إليك
“Mahasuci Engkau wahai Rabb kami dan segala puji bagi-Mu, tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Engkau, aku meminta ampun kepada-Mu, kemudian aku bertaubat kepada-Mu,melainkan Allah akan mengampuni segala dosa yang terjadi di majelis itu.”
Dan, dalam riwayat at-Tirmidzi dengan lafazh:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
“Mahasuci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Engkau, aku meminta ampun kepada-Mu, dan aku bertaubat kepada-Mu.”
Dan, dari ‘Aisyah ia mengatakan bahwa jika Rasulullah duduk di suatu majelis atau mengerjakan shalat, beliau mengucapkan beberapa kalimat. Maka, ‘Aisyah bertanya kepada beliau kalimat-kalimat tersebut, beliau bersabda, ”Jika ia berbica kebaikan, maka akan menjadi penyertanya pada hari kiamat, berbicara dengan selain itu, maka kaffarahnya adalah:
سبحانك اللهم وبحمدك أستغفرك وأتوب إليك
“Mahasuci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu,aku meminta ampun kepada-Mu, dan aku bertaubat kepada-Mu.”

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *