ADAB BERTAMU

Allah berfirman:
هلل اأتاك حديث ضيف إبراهيم المكرمين (24) إذ دخلوا عليه فقالوا سلاما قال سلام قوم منكرون (25) فراغ إلى أهله فجاء بعجل سمين (26) فقربه إليهم قال ألا تأكلون (27)
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, ‘Salaamun.’ Ibrahim menjawab, “Salaamun (kamu) adalah arang-orang yang tidak dikenal.” Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya . kepada mereka. lbrahim lalu berkata, “Silahkan anda makan. ” (Adz-Dzariyat: 24-27)
Nabi bersabda:
من كان يؤمن بالله واليم الآخر فلا يؤذي جاره ومن كان يؤمن بالله واليم الآخر فليكرم ضيفه ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka ‘ janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam.
Diantara adab adab bertamu
1. Mmenuhi Undangan
Banyak hadits yang menerangkan wajibnya menyambut undangan,di antaranya sabda Beliau:
حق المسلم على المسلم خمس : رد السلام وعيادة المريض واتباع الجنائز وإجابة الدعوة وتشميت العتطس
“Hak seorang muslim (yang harus ditunaikan) atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, mengunjungi orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan menjawab ucapan Alhamdulillaah dari orang yang bersin (dengan mengucapkan ‘Yarhamukallah)..
Dan sabda beliau:
أجيبوا هذه الدعوة إذا دعيتم لها
“Penuhilah undangan ini jika kalian diundang untuk menghadirinya”.
Perawi berkata, Abdullah (Ibnu ‘Umar) memenuhi undangan walimatul ‘urs dan selainnya padahal ia tengah berpuasa.”
Dan, mayoritas ulama berpendapat bahwa memenuhi undangan adalah sunnah, kecuali resepsi pernikahan yang menurut mereka wajib berdasarkan sabda Nabi:
شر الطعام طعام الوليمة يدعى لها الأغنياء ويترك الفقراء ومن ترك الدعوة فقد عصى الله ورسوله
“Seburuk-buruk makanan adalah makanan resepsi yang hanya orang-orang kaya saja yang diundang sementara orang-orang fakir dan miskin diabaikan. Dan, barangsiapa yang tidak memenuhi undangan pernikahan maka sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. ”
Dan, dalam beberapa lafazh yang diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya disebutkan, “Menghalau orang yang mendatanginya dan mengundang orang yang enggan menghadirinya.”
Hanya saja sebagian ulama memberikan beberapa syarat dalam
menghadiri undangan-undangan seperti ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyebutkan syarat-syarat tersebut:
1. Orang yang mengundang bukanlah orang yang harus diasingkan atau sebaiknya diasingkan. _
2. Di tempat undangan tersebut tidak terjadi suatu kemunkaran. Apabila terjadi kemunkaran, jika memungkinkan untuk menghilangkannya maka ia wajib menghadiri undangan tersebut dengan dua tujuan, yaitu memenuhi undangan dan merubah kemunkaran tersebut. Apabila kemunkaran tersebut tidak bisa ia hilangkan maka ia diharamkan menghadirinya.
3. Orang yang mengundang haruslah seorang muslim. Jika bukan muslim, maka ia tidak wajib memenuhi undangannya berdasarkan sabda Nabi “Hak seorang muslim (yang harus ditunaikan) atas muslim lainnya ada lima…” dan di antaranya, “Apabila ia mengundangmu maka engkau harus memenuhinya. ”
4. Undangan tersebut bukan dari hasil usaha yang haram, karena konsekuensi dari memenuhi undangan dari usaha yang haram adalah memakan makanan yang haram dan hal ini tidak dibolehkan. Demikian menurut pendapat sebagian ulama. Ulama lainnya berpendapat, sesuatu yang didapat dengan cara yang haram, maka dosanya diperuntukkan bagi orang yang mengusahakan harta haram tersebut, bukan untuk orang yang memperolehnya dengan cara yang dibolehkan dari orang yang mengusahakan harta haram tersebut. Lain halnya jika makanan atau minuman yang dihidangkan adalah sesuatu yang memang diharamkan; seperti khamr barang curian (rampokan) dan lain sebagainya. Inilah pendap; yang sesuai, (lalu beliau mengemukakan beberapa dalilnya).
5. Undangan tersebut tidak lantas mengabaikan kewajiban lainnya ataukah yang lebih wajib darinya. Jika undangan tersebut mengakibatkan hal itu maka ia haram untuk dipenuhi.
6. Tidak mengakibatkan kemudharatan atas diri orang yang diundang, seperti mengharuskannya melakukan perjalanan jauh atau berpisah dengan keluarganya yang kehadirannya dibutuhkan di tengah. tengah mereka.
7. Hendaklah orang yang mengundang tidak menentukan siapa yang diundang dan tidak juga mengkhususkan seseorang dengan undangannya. Apabila ia tidak menentukan orang-orang yang diundang, seperti ia mengumumkannya di sebuah majelis umum, maka memenuhi undangan tersebut tidak wajib, karena undangannya tersebut bersifat umum
Masalah: Apakah kartu undangan yang disebarkan semisal dengan undangan lisan?
Jawab: Kartu undangan yang dikirimkan kepada orang banyak dan tidak diketahui kepada siapa kartu undangan itu diberikan, mungkin bisa dikatakan bahwa kartu undangan seperti itu semisal dengan undangan secara umum yang tidak wajib dipenuhi. Adapun jika diketahui atau diduga kuat bahwa undangan tersebut dimasudkan untuknya secara khusus, maka hukumnya termasuk hukum undangan secara langsung melalui lisan. Demikian yang dikatakan oleh Syaikh lbnu “Utsaimin.”
Faidah: Puasa bukanlah halangan untuk tidak menghadiri undangan, Barangsiapa yang diundang dan ia sedang berpuasa, maka ia tetap wajib menghadirinya untuk mendoakan ampunan dan berkah bagi orang yang mengundang, baik ia sedang mengerjakan puasa Wajib atau puasa sunnah.
Rasulullah bersabda:
إذا دعي أحدكمفليجب فإن كان صائما فليصل و إن كان مفطرا فليطعم
“Apabila seseorang di antara kalian diundang, maka penuhilah. Jika ia sedang berpuasa maka hendaklah ia mengucapkan shalawat (mendoakannya), dan jika ia sedang tidak berpuasa maka hendaklah ia mencicipi hidangannya. ”
Sabda beliau, “Hendaklah ia mengucapkan shalawat,” disebutkan dalam beberapa riwayat lain dari Imam Ahmad dan selainnya bahwa yang dimaksud adalah doa, “Jika ia sedang berpuasa maka hendaklah ia mengucapkan shalawat, yakni hendaklah ia mendoakannya.”
Dan, dalam hadits Abu Sa id al-Khudri, ia mengatakan, “Aku membuat makanan untuk Nabi. Ketika makanan tersebut dihidangkan, seseorang berkata, “Aku sedang berpuasa.” Maka Rasulullah bersabda, “Saudaramu telah mengundangmu dan telah bersusah payah untuk (menjamu)mu, berbukalah dan berpuasalah di lain hari jika engkau mau.”
Imam an-Nawawi mengatakan, “Adapun seseorang yang berpuasa, tidak ada perbedaan pendapat bahwa ”ia tidak wajib makan. Akan tetapi, jika puasanya itu adalah puasa wajib maka ia tidak boleh memakan hidangan karena puasa wajib tidak boleh ditinggalkan“. Apabila puasa yang ia kerjakan sunnah, maka ia boleh berbuka dan boleh pula tidak. Namun, jika puasanya tersebut meresahkan pengundang yang telah menyuguhkan makanan maka lebih utama ia berbuka, dan jika tidak maka ia boleh menyempurnakan puasanya. Wallahu a’lam.
2. Memuliakan Tamu Adalah Wajib
Banyak hadits yang menjelaskan wajibnya memuliakan tamu dan disukainya hal itu. Dari ‘Uqbah bin Amir, ia berkata, “Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apabila engkau mengutus kami dan kami pun singgah (tinggal) di suatu kaum, dan mereka tidak menjamu kami, bagaimana pendapatmu?” Maka Rasulullah menjawab,Jika kalian singgah di suatu kaum, perlakukanlah bagi kalian dengan apa yang layak untuk tamu, maka temuilah, jika mereka tidak melakukannya maka ambillah dari mereka hak tamu yang layak untuk mereka.”
Dan, lafazh menurut riwayat at-Tirmidzi, “Jika mereka enggan, kecuali kalian mengambilnya dengan cara yang tidak disukai, maka ambillah.” Demikian pula sabda beliau, “Bertamu itu selama tiga hari, dan ja’izahnya siang dan malam. Dan, tidaklah halal bagi seorang muslim berdiam di sisi saudaranya sehingga ia berbuat dosa kepadanya. ” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana ia berbuat dosa kepadanya?” Beliau menjawab, “Dia berdiam di sisinya, dan tidak ada sesuatu pun untuknya yang bisa ia berikan untuk menjamunya. ”
Imam an-Nawawi menyebutkan ijma’ tentang bertamu dan ia termasuk apa yang ditekankan oleh Islam. Kemudian beliau menjelaskan perbedaan pendapat di kalangan ulama akan wajib dan sunnahnya. Adapun Imam Malik, asy-Syafi’i dan Abu Hanifah berpendapat bahwa ia adalah sunnah, bukan wajib. Mereka membawakan hadits-hadits yang serupa dengannya dari hadits-hadits lain, seperti hadits tentang mandi Jum’at yang diwajibkan bagi setiap orang dewasa dan selainnya.” Al-Laits dan Ahmad mengatakan tentang wajibnya bertamu selama jarak siang dan malamnya, dan Ahmad membatasinya untuk penduduk desa dan yang berada di pedalaman padang pasir selain penduduk kota.
Faidah: Dalam hadits di atas terdapat larangan tinggalnya seorang tamu lebih dari tiga hari, sehingga bertamunya menjerumuskannya kepada persangkaan yang tidak dibolehkan, atau mengghibah dirinya dan lain sebagainya. Al-Khaththabi mengatakan, “Tidak halal bagi tamu berdiam di sisinya setelah tiga hari tanpa adanya ajakan, yang akan menjadikan dadanya sempit dan amalnya menjadi batal.”
Ketika menerangkan sabda beliau,“Sehingga menjadikannya berdosa,” Ibnul Jauzi mengatakan, “Hal itu jika tidak ada sesuatu yang menjadi alasan jamuannya, maka dengan berdiamnya ia akan menyebabkan ketidaksenangan. Terkadang dirinya akan disinggung dengan penyebutan yang buruk, dan terkadang ia pun akan berdosa dalam pemberian yang diinfakkannya kepada si tamu.”
Kecuali jika si tamu mengetahui bahwa yang menjamunya tidak membenci hal itu, atau ia memintanya untuk tinggal lebih lama lagi di tempat itu. Adapun juka si tamu merasa ragu akan keadaan tuan rumah, maka lebih utama ia tidak bertamu lebih dari tiga hari.
3. Disukainya Menyambut Para Tamu
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Ketika rombongan ‘Abdul Qais telah tiba untuk mengunjungi Nabi, beliau bersabda, “Marhaban?” (selamat datang) kepada rombongan yang datang tanpa kehinaan dan penyesalan. .. ‘” (Al-hadits) .
Dan, tidak diragukan lagi bahwa seseorang yang menyambut para tamunya dengan ungkapan-ungkapan selamat datang dan yang serupa dengannya akan menumbuhkan rasa suka cita dan kedekatakan kepada mereka. Dan, hal tersebut dibenarkan dengan kenyataan.
4. Ucapan Tamu Jika Ia Diikuti Seseorang yang Tidak Di undang
Hendaklah ia mengucapkan perkataan serupa dengan apa yang diucapkan oleh Rasulullah.
Dari Abu Mas’ud, ia berkata,“Di tengah kaum Anshar ada seseorang yang dikenal dengan panggilan Abu Syu’aib. Ia memiliki seorang anak yang gemuk berisi. Maka, ia berkata kepadanya, “Buatlah makanan dan undanglah Rasulullah bersama empat orang lainnya (menjadi lima orang-penerj.).Maka, ia pun mengundang Rasulullah bersama empat orang lainnya. Seseorang kemudian mengikuti mereka, maka Nabi bersabda,’Sesungguhnya engkau mengundang kami berlima, dan orang ini telah mengikuti kami. Jika engkau berkenan, engkau bisa mengizinkannya. Tetapi jika tidak, .engkau boleh menolaknya. Orang tersebut berkata, “Bahkan aku mengizinkannya.”
Dalam hadits ini terdapat beberapa faidah yang akan kami kemukakan sebagian di antaranya yang berkaitan dengan pembahasan kita dalam bab ini.
Hadits tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang mengundang suatu kaum yang memiliki sifat tertentu, lalu di antara mereka ada yang tidak seperti sifat mereka, maka orang tersebut tidak termasuk dalam cakupan keumuman undangan tersebut… Dan hadits tersebut juga menunjukkan bahwa barangsiapa yang bertingkah layaknya anak kecil-ikut-ikutan-maka orang yang mengundang bisa memilih berkaitan dengan haknya. Jika ia masuk tanpa izin, ia boleh mengusirnya. Dan, bagi siapa yang bertingkah seperti itu pada awalnya tidaklah dilarang, karena orang yang mengikuti Nabi, beliau tidak menolaknya, karena ada kemungkinan orang yang mengundang akan berbaik hati dan memberinya izin. Demikian yang dikatakan oleh lbnu Hajar.
5. Berlebih-Lebihan dalam Menjamu Tamu
Tidak sepatutnya berlebih-lebihan dalam menjamu tamu hingga melampaui batasan yang bisa diterima oleh akal sehat. Karena, berlebihan dengan membebani diri secara umum adalah sesuatu yang terlarang. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Kami pernah bersama ‘Umar, lalu ia berkata, “Kami telah dilarang untuk membebani diri.”
Akan tetapi, tidak ada batasan yang bisa dijadikan patokan untuk perkataan kami ini; dalam hal membebani diri atau tidak. Namun, yang dijadikan patokan adalah kebiasaan. Apabila kebiasaan (adat) suatu kaum telah menganggap suatu perkara sebagai hal yang berlebihan dan memandangnya telah membebani diri yang berlebihan, maka hal ini tergolong pembebanan diri yang berlebihan, dan jika tidak maka hal ini pun tidak tergolong ke dalamnya.
Dan, makanan yang dibuat untuk para tamu haruslah sesuai dengan keinginan tanpa berlebih-lebihan dan tidak juga kekurangan. Karena, sebaik-baik perkara adalah yang berada di pertengahan.
Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda:
طعام الواحد يكفي الاثنين وطعام الاثنين يكفي الأربعة وطعام الأربعة يكفي الثمانية
”Makanan untuk seorang cukup untuk berdua, makanan untuk berdua orang cukup untuk berempat dan makanan untuk empat orang cukup untuk delapan orang.”
Adapun apa yang terjadi pada hari ini berupa sifat berlebih-lebihan yang dilakukan sebagian orang dalam acara resepsi mereka, berlebih. lebihan dalam membebani diri untuk resepsi tersebut, dan telah melampaui batas syari’at, maka ceritakanlah semua tanpa segan! Bahkan sebagian di antara mereka berlomba-lomba, siapa yang bisa mengalahkan rekannya dalam banyaknya ragam makanan yang dihidangkan, berlebihan dalam hal tersebut hingga dikatakan bahwa Fulan bin Fulan telah melakukan ini dan ini, tidaklah diragukan lagi bahwa perbuatan ini merupakan sesuatu yang tercela. Dan, memakan makanan seperti ini tidak dibolehkan, sebagaimana yang diriwayatkan dari lbnu ‘Abbas, bahwa Nabi telah melarang dari memakan makanan dua orang yang menyajikan makanan untuk (tujuan) menyerupai (makanan) satu sama lain.
Al-Khaththabi mengatakan, “AI-Mutabariyaini adalah dua orang yang saling bersaing dengan perbuatan mereka. Dikatakan, “Dua orang tabaaraa’ apabila salah satu di antara mereka melakukan sesuatu yang serupa dengan apa yang dilakukan oleh rekannya agar terlihat siapa yang bisa mengalahkan rekannya. Hal ini dibenci karena mengandung unsur riya’, bersaing untuk menonjolkan diri dan juga termasuk ke dalam larangan Allah dari memakan harta dengan cara yang bathil.
6. Masuk dengan Izin dan Pulang Setelah Memakan Jamuan
Adab ini telah diterangkan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

يا أيها الذين آمنوا لا تدخلوا بيوت النبي إلا أن يؤذن لكم إلى طعام غير ناظرين إناه ولكن إذا دعيتم فادخلوا فإذا طعمتم فاتشروا ولا مستئنسين لحديث…
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan .…” (Al-Ahzab: 53)
Allah telah melarang kaum mukminin memasuki rumah Nabi kecuali dengan izin beliau. Demikian pula halnya dengan kaum mukminin, mereka tidak boleh memasuki rumah sebagian dari mereka kecuali dengan izin pemilik rumah. Dan, larangan tersebut mencakup seluruh kaum mukminin.
Asy-Syaukani berkata,“Allah melarang kaum mukminin melakukan hal itu di rumah Nabi. Dan, larangan tersebut mencakup seluruh kaum mukminin. Merupakan keharusan bagi seluruh manusia untuk mengambil adab dari Allah untuk mereka dalam hal tersebut. Allah telah melarang mereka masuk ke suatu rumah untuk makan kecuali setelah diizinkan, tidak menetap untuk menunggu makanan dihidangkan.
Dan, telah menjadi kebiasaan mereka di zaman Jahiliyah mendatangi suatu resepsi lebih awal untuk menunggu makanan dihidangkan. Maka, Allah melarang mereka dengan firman-Nya, “Tanpa menunggu-nunggu waktu makan.” (Al-Ahzab: 53). Yakni tanpa menanti hidangan dan masakannya?”
Kemudian Allah menerangkan bahwa barangsiapa yang keperluannya telah terpenuhi, hendaklah ia segera beranjak pergi dan tidak duduk menemani beliau untuk berbincang-bincang. Dikarenakan hal itu akan mengganggu beliau. Demikian pula dengan kaum mukminin lainnya, sebagian besar di antara mereka merasa terganggu jika orang-orang yang diundang berlama-lama setelah menyelesaikan makannya. Maka, tidak Seyogyanya seseorang berdiam lama di tempat mereka, kecuali jika pemilik rumah mengharapkan mereka tinggal lebih lama, atau jika kebiasaan kaum tersebut memang seperti itu. Dan, jika tidak keberatan dan tidak juga mengganggu maka hal tersebut tidaklah mengapa, karena dengannya alasan pelarangan tersebut telah terhapus.
7. Mendahulukan yang Lebih Tua dan Mendahulukan yang Berada di Sebelah Kanan, Baru yang Selanjutnya
Hendaklah seseorang yang menjamu para tamu mendahulukan siapa yang paling tua dan memberi perhatian lebih kepadanya, karena hal itu dianjurkan oleh Nabi dalam beberapa hadits beliau.
Dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah bersabda, “Aku bermimpi menggunakan siwak, lalu dua orang menghampiriku, salah satunya lebih tua. Kemudian aku menyodorkan siwak kepada orang yang lebih muda. Maka, dikatakan kepadaku,Yang lebih tua. Lalu aku pun menyodorkannya kepada orang yang lebih tua.”
Beliau bersabda:
من لم يرحم صغيرنا ويعرف حق كبيرنا فليس منا
“Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang lebih muda dan tidak mengetahui hak orang yang lebih tua maka ia tidak termasuk golongan kami.”
Dan, beliau bersabda:
إن من إجلال الله إكرام ذي الشيبة المسلم وحامل القرآن غير الغالي فيه والجافي عنه وإكرام ذي السلطان المقسط
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati orang muslim yang sudah tua, orang yang menghafal Al-Qur’an tanpa berlebih-lebihan dan tanpa bersikap kasar terhadapnya dan . menghormati penguasa yang adil.”
Adapun hadits Sahl bin Sa’d bahwa pernah dibawakan minuman kepada Rasulullah, maka beliau pun meminumnya. Di samping kanan beliau ada seorang anak kecil, dan di samping kiri beliau ada seorang yang sudah tua. Maka, beliau bertanya kepada anak kecil tersebut,“Apakah engkau mengizinkanku jika aku memberi mereka?” Anak itu menjawab, “Demi Allah wahai Rasulullah, tidak ada yang berat untukmu jika bagianku diberikan kepada seseorang.” Sahl berkata.”Maka Rasulullah meletakkannya di atas tangannya.”Yaitu, jika mendahulukan yang kanan akan memberikan faidah, maka hendaklah mendahulukan yang kanan, baik yang kanan tersebut anak kecil atau orang dewasa, sehingga ia tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang memerintahkan untuk mendahulukan orang yang lebih tua dari selainnya.
Dan, untuk menggabungkan antara keduanya maka kita katakan, “Sesungguhnya mendahulukan yang kanan ditujukan bagi orang yang meminum sesuatu dan menyisakannya. Lalu memberikannya kepada orang yang ada di sebelah kanannya, kecuali jika ia mengizinkannya. Inilah kira-kira makna dari apa yang diucapkan oleh Ibnu “Abdil Barr, Dan dalam hadits ini terkandung adab menyuguhkan makanan dan bermajelis. Bahwa jika seseorang makan atau minum, hendaklah ia memberikan sisanya kepada orang yang ada di sebelah kanannya, siapa pun ia, walaupun ia adalah orang yang tidak begitu memiliki keutamaan sedangkan orang yang ada di sebelah kirinya termasuk orang yang memiliki keutamaan.”
Mendahulukan yang lebih tua dilakukan ketika pertama kali menyuguhkan minuman atau makanan. Setelah itu dilanjutkan kepada orang yang ada di sebelah kanannya. Sepertinya pendapat inilah yang dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Jika Rasulullah menuangkan minuman, beliau bersabda, “Mulailah dari orang yang lebih tua. ”
Dengan demikian, dalil-dalil yang ada bisa diselaraskan. Wallahu a’lam.
8. Doa yang Diucapkan Tamu Setelah Memakan Jamuan Makanan
Di antara Sunnah Nabi, jika beliau memakan makanan yang dihidangkan oleh suatu kaum, beliau lantas mendoakan mereka.
Diriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi mengunjungi Sa’d bin ‘Ubadah, lalu ia menghidangkan roti dan zaitun. Kemudian beliau makan, lalu mengucapkan:
أفطر عندكم الصائمون وأطل طعامكم الأبرار وصلت عليكم الملائكة
“Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di tempat kalian, dan orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian, dan para malaikat mendoakan kalian.”
Sebagian ulama mengkhususkan doa ini ketika berbuka puasa saja sementara kebanyakan mereka berpendapat bahwa doa ini berlaku mutlak, baik ketika berbuka puasa atau selainnya.
Dan, disebutkan dalam hadits al-Miqdad bin al-Aswad yang panjang tentang menyuguhkan susu bahwa Nabi berdoa:
اللهم اطعم من أطعمني واسق من سقاني
“Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberiku makan dan berilah minum orang yang telah memberiku minum.”
Imam an-Nawawi mengatakan, “Dalam doa tersebut terkandung doa bagi orang yang berbuat baik, bagi orang yang telah melayani, dan bagi orang yang telah melakukan kebaikan.”
Dan, orang yang berdoa adalah orang yang berbuat baik.
‘Abdullah bin Busr meriwayatkan bahwa ayahnya pernah membuat makanan untuk Nabi, kemudian ia mengundang beliau dan beliau pun memenuhinya. Setelah menyantap hidangannya, beliau berdoa:
اللهم اغفر لهم وارحمهم وبارك لهم فيما رزقتهم
“Ya Allah, ampunilah mereka, berilah mereka rahmat dan berkahilah mereka dari apa yang Engkau rizkikan kepada mereka.”
9. Disunnahkan Keluar Bersama Tamu (Mengantarnya) Hingga ke Pintu
Hal ini termasuk kesempurnaan dalam menjamu tamu, kebaikan dalam melayaninya, dan keramahannya hingga ia meninggalkan rumah. Namun, tidak ada satu pun hadits marfu’ shahih yang bisa dijadikan pegangan. Hanya saja beberapa atsar dari salaf umat ini dan para Imam mereka telah menyebutkannya. Dan, kami hanya cukup menyebutkan satu atsar saja, yaitu bahwa Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam mengunjungi Ahmad bin Hanbal Abu ‘Ubaid berkata, “Dan ketika aku hendak berdiri, beliau pun berdiri menyertaiku. Aku berkata, “Janganlah engkau melakukannya wahai Abu ‘Abdillah?” la berkata, “Asy-Sya’bi mengatakan, “Termasuk kesempurnaan ziarah seorang tamu adalah engkau menyertai (mengantar)nya hingga ke pintu rumah dan mengambil berkahnya.. ..”

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *