ADAB KETIKA TIDUR

 

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. ” (Ar-Ruum: 23)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا

“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. ” (An-Naba . 9)

Diriwayatkan dari al-Barra bin ‘Azib, ia berkata,“Rasulullah bersabda: Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat, kemudian tidurlah di atas rusuk sebelah kananmu, kemudian berdo’alah:

اللهم أسلمت وجهي إليك وفوضت أمري إليك…

‘Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu dan aku kembalikan urusan-urusanku kepada-Mu… ”.(HR. Bukhari (no.247) dan Muslim (no.2710)

Di Antara Adab-Adab Ketika Hendak Tidur

  1. Menutup Pintu dan Mematikan Api Serta Lampu Sebelum Tidur

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah bersabda: _

أطفئوا المصابيح بالليل إذا رقدتم وغلقوا الأبواب…

“Matikanlah lampu-lampu pada malam hari ketika kalian hendak tidur dan tutuplah pintu-pintu ” HR. Al-Bukhari (no. 6292), Muslim (no. 6012), Ahmad (no. 13816), at-Tirmidzi (no1816), Abu Dawud (no. 3731) dan Malik (no. 1767).

Dan dalam satu riwayat disebutkan:

…وأجيفوا الأبواب وأطفئوا المصابيح فإن الفويسقة ربما جرت الفتيلة فأحرقت أهل البيت

Tutuplah pintu-pintu dan matikanlah lampu-lampu, karena sesungguhnya bisa jadi tikus akan mneyenggol sumbu lampu yang masih menyala dan membakar rumah penghuninya. ” Tercantum dalam Shahih al-Bukhari dalam kitab al-lsti’dzan (no. 6259).

Diriwayatkan dari Ibnu “Umar , dari Nabi, beliau bersabda, “Jangan biarkan api masih menyala dalam rumahmu ketika engkau beranjak tidur. ” HR. Al-Bukhari (no. 6293), Muslim (no. 6293), Ahmad (no. 3501), at-Tirmidzi (no1813), Abu Dawud (no. 5246) dan Ibnu Majah (no. 3769).

Dalam atsar sebelumnya telah disebutkan tentang perintah mematikan lampu dan api yang masih menyala serta menutup pintu. Lalu, apakah perintah tersebut wajib, sekadar sunnah, atau sebagai pengarahan saja? Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.

Diperintahkannya mematikan api dan lampu tiada lain karena khawatir api itu bisa menyebar dan akan membakar penghuninya. Alasan ini dijelaskan dalam sebuah hadits, di mana Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya bisa jadi al-fuwaisaqah (tikus) akan menyenggol sumbu lampu yang tetap menyala dan membakar penghuninya. ”

Al-Qurthubi berkata, “Dalam hadits-hadits ini disebutkan bahwa jika seseorang tidur di rumahnya sendirian dan masih ada api yang menyala maka hendaklah ia mematikannya terlebih dahulu sebelum tidur, atau melakukan sesuatu yang menjamin bahwa nyala api tidak akan membakarnya. Demikian juga apabila di rumah tersebut terdapat banyak orang, maka sebagian di antara mereka wajib mematikan lampu ketika hendak tidur, atau yang paling berhak mematikannya adalah yang paling terakhir tidur. Barangsiapa yang lalai dalam perkara ini maka dia telah menyelisihi Sunnah dan bisa dianggap telah meninggalkan Sunnah. Fat-hul Bari (XI/89).

Adapun tentang perintah menutup pintu-pintu sebelum tidur, diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir:

…وأغلقوا الأبواب واذكروا اسم الله فإن الشيطان لا يفتح بابا مغلقا

“… Dan tutuplah pintu-pintu, serta sebutlah nama Allah, karena sesungguhnya syetan tidak akan bisa membuka pintu yang telah tertutup.” Jilid VI (XIII/155) (no. 2012).

lbnu Daqiqil ‘led berkata, “Perintah menutup pintu ini mengandung maslahat, baik secara syar’i maupun secara duniawi; di antaranya adalah menjaga diri dan hartanya dari orang-orang yang akan berbuat buruk dan dari pelaku kejahatan. Terlebih lagi dari gangguan syetan. Adapun sabda Nabi, “Karena sesungguhnya syetan tidak akan bisa membuka pintu yang telah tertutup,” menyiratkan bahwa perintah menutup pintu menjauhkan syetan agar tidak bercampur baur dengan manusia. Dan secara khusus sebagai bentuk kehati-hatian karena takut terhadap apa-apa yang tidak tampak baginya, kecuali melalui tuntunan Nabi “.Fat-hul Bari (XI/90).

Masalah: Jika api telah dimatikan dan segala celah untuk menghindari agar tidak terjadi kebakaran telah dilakukan, maka apakah boleh dikatakan untuk meninggalkan api serta lampu-lampu tanpa rnematikannya?

Jawab: Jika telah aman dari hal seperti itu …..maka tidak mengapa jika tidak mematikannya, karena sebab perintah Nabi agar mematikan api serta lampu dalam hadits di atas karena tikus akan menyebabkan nyala api membakar rumah penghuninya,namun apabila sebab tersebut telah hilang maka larangan tersebut pun tertiadakan. Demikian yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi. Syarh Muslim, jilid VI (XIII/156) (no. 2015).

  1. Berwudhu Sebelum Tidur

Al-Barra bin ‘Azib mengatakan bahwa Rasulullah bersabda;

إذا أتيت مضجعك فتوضأ وضوءك للصلاة

“Jika engkau hendak mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat …” HR, Al-Bukhari (no. 247), Muslim (no. 2710), Ahmad (no18114), elf-Tirmidzi (nc3574) dan Abu Dawud (no. 5046).

Wudhu yang diperintahkan di sini tidak menunjukkan kewajiban, akan tetapi hanya menunjukkan amalan yang disunnahkan bagi siapa yang hendak tidur. Salah satu riwayat Ahmad menguatkannya. Rasulullah bersabda, “Jika engkau mendatangi tempat tidurmu hendaknya dalam keadaan suci ”

Jika seseorang telah berwudhu maka wudhunya itu telah cukup baginya karena tujuan wudhu tersebut agar selama tidurnya ia berada dalam keadaan suci dikarenakan khawatir ia meninggal di malam itu, dan agar mimpinya dijadikan kebaikan serta dijauhkan dari godaan dan gangguan syetan dalam tidurnya. Demikian yang dikatakan oleh lmam an-Nawawi. Syarh Shahih Muslim (XVII/29).

  1. Membersihkan Tempat Tidur Sebelum Merebabkan Badan di Atasnya

Termasuk dari petunjuk Nabi ketika hendak tidur adalah beliau terlebih dahulu membersihkan tempat tidurnya dengan sarung sebanyak tiga kali sebelum merebahkan badan di atasnya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

إذا أوى أحدكم إلى فراشه فلينفض فراشه بداخلة إزاره فإنه لا يدري ما خلفه عليه..

“Jika salah seorang dari kalian hendak beranjak ke tempat tidurnya, maka hendaklah ia terlabih dahulu membersihkan tempat tidurnya dengan bagian dalam sarungnya, karena ia tidak tahu apa yang terjadi setelah ia tertidur . .. ” (Al-hadits)

Dalam satu riwayat:

إذا جاء أحدكم فراشه فلينفضه بصنفة ثوبه ثلاث مرات…

“Jika salah seorang dari kalian mendatangi tempat tidurnya, maka hendaklah ia mengibaskan tempat tidurnya dengan ujung kain bajunya sebanyak tiga kali ” (Al-hadits)

Dalam riwayat Muslim:

فليأخذ داخلة إزاره فلينفض بها فراشه وليسم الله فإنه لا يعلم ما خلفه بعده على فراشه …

“Maka hendaklah ia mengambil bagian dalam sarungnya dan membersihkan tempat tidur dengan sarungnya tersebut, dan

hendaklah ia menyebut nama Allah, karena sesungguhnya ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya di atas tempat tidurnya… ”

Dalam riwayat at-Tirmidzi:

إذا قام أحدكم عن فراشه ثم رجع إليه فلينفضه…

“Jika salah seorang dari kalian bangun dari tempat tidurnya kemudian kembali untuk tidur maka hendaklah ia membersihkan…(Al-hadits)”

Dari hadits-hadits di atas bisa diambil faidah, di antaranya:

  1. Disunnahkan membersihkan tempat tidur sebelum tidur
  2. Disunnahkan membersihkannya sebanyak tiga kali sapuan
  3. Menyebut nama Allah ketika hendak beranjak tidur
  4. Bahwa siapa saja yang bangun dari tidurnya kemudian hendak tidur lagi, maka disunnahkan membersihkan tempat tidurnya kembali dengan sekali kibasan.

Alasannya sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabda beliau, “Karena ia tidaklah tahu apa yang akan terjadi di tempat tidurnya setelah ia tidur.”

Adapun hikmah dikhususkannya bagian dalam sarungnya tidak kami ketahui. Dan para ulama memiliki banyak pendapat yang berbeda-beda.

Mengamalkan sunnah ini tidak dibatasi dengan mengetahui hikmah dari amalan tersebut, melainkan di saat suatu hadits telah shahih maka ia harus diamalkan, walaupun hikmahnya tidak diketahui. Semua itu kembali kepada ketundukan dan penyerahan diri, dan ini adalah dasar yang sangat agung yang harus dipegang dengan teguh.

  1. Tidur Menghadap ke Sebelah Kanan dan Meletakkan Pipi di Atas Tangan Kanannya

Diriwayatkan dari al-Barra bin ‘Azib, ia berkata, “Rasulullah, bersabda, ‘Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka hendaklah engkau berwudhu sebagaimana wudhumu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu …” (Al-hadits)“

Demikian juga dalam hadits yang diriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata, “Apabila Nabi mendatangi tempat tidurnya di malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya… ”(Al-hadits).

Dan dalam riwayat Ahmad disebutkan:

إذا أوى إلى فراشه وضع يده اليمنى تحت خده…

“Jika seseorang mendatangi tempat tidurnya, Ietakkanlah tangannya yang kanan di bawah pipinya ” HR. AlBukhari (no. 6314), Ahmad (no. 22733), dan selain keduanya, hanya saja tanpa menyebutkan “tangan.”

Tidur dengan berbaring menghadap ke sebelah kanan mengandung beberapa faidah, di antaranya;

  1. Posisi seperti itu akan memudahkannya bangun
  2. Agar jantung menggantung di sebelah kanan. Dengan demikian hal itu tidak akan menyulitkan (sirkulasi darah) ketika tidur
  3. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi, “Posisi tidur seperti ini, menurut analisa para ahli kedokteran lebih baik untuk badan. Para ahli kedokteran mengatakan, “Hendaklah memulai tidur dengan menghadap ke sisi kanan, kemudian setelah itu boleh berbalik ke sisi kiri”. Fat-huI Bari (Xl/113).
  4. Membaca Satu Surat (Ayat Tertentu) dari Surat-Surat Dalam Al-Qur’ an

Di antara petunjuk Nabi bahwa beliau tidak tidur hingga membaca sebuah ayat dari al-Qur’an. Bacaan al-Qur’an sebelum tidur merupakan penjagaan bagi seorang Muslim dari godaan syetan dalam tidurnya, dan syetan tidak akan menemaninya dalam mimpinya.

Beberapa atsar diriwayatkan dari Nabi berkaitan dengan pembahasan ini dan lafazhnya pun sangat beragam. Di sini akan kami sebutkan beberapa di antaranya yang dapat kami kumpulkan.

1. Membaca ayat Kursi

Dalam hal mi tersebut sebuah kisah dari Abu Hurairah ketika ia bersama orang yang mencuri perbendaharaan zakat. Ketika Abu Hurairah ingin melaporkannya kepada Nabi, orang itu berkata, “Lepaskanlah aku, maukah aku ajarkan satu kalimat yang Allah akan memberi manfaat kepadamu dengannya?” Aku (Abu Hurairah) berkata, “Kalimat apa itu?” Ia berkata, “Jika engkau hendak mendatangi tempat tidurrnu untuk tidur, maka bacalah ayat kursi, yaitu:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Maka sungguh Allah senantiasa akan menjagamu, dan syetan tidak akan bisa mendekatimu hingga tiba waktu Shubuh.”

  • (Abu Hurairah berkata) Maka ia pun aku lepaskan. Keesokan paginya, Rasulullah bersabda kepadaku, “Apa yang terjadi dengan tahananmu semalam?” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, ia meyakinkanku bahwa ia telah mengajariku beberapa kalimat yang Allah akan memberi manfaat kepadaku dengannya, maka aku pun melepaskannya.” Rasulullah bertanya, “Kalimat apakah itu?” Aku menjawab, “Ia berkata kepadaku, ‘Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursi dari awal hingga akhir dan ia mengatakan kepadaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku, dan syetan tidak akan bisa mendekati hingga tiba waktu Shubuh-Dan para shahabat adalah kaum yang paling bersemangat dalam kebaikan-. Maka Nabi bersabda, “Adapun ia, sesungguhnya apa yang dikatakannya “itu benar, padahal ia adalah pendusta. Tahukah engkau siapa yang telah engkau ajak bicara selama tiga malam itu wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab, “Tidak.” Rasulullah bersabda, “Ia adalah syetan. ” HR Al-Bukhari dalam kitab al-Wakaalah, bab Idza Wakala Rajulan fatarakal Wakil Syai’a, fa Ajazahu Muwakkal fahuwa Ja’iz Kemudian menyampaikan hadits secara mu’allaq. Diriwayatkan secara maushul oleh an-Nasa’i, al-lsma’ili dan Abu Nu’aim. .. (Lihat Fat-hul Bari IV)

2. Membaca surat al-lkhlas dan al-Mu’awldzataln (al-Falaq dan an,-Naas), kemudian meniupkannya ke tangannya

Rasulullah senantiasa membaca surat al-lkhlas dan al-Mu’awidzatain dan meniupkannya ke tangannya kemudian mengusapkannya ke- seluruh tubuh yang mampu dijangkau dengan tangan beliau.

Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Apabila Nabi hendak beristirahat di tempat tidur setiap malamnya, beliau menyatukan dua telapak tangannya kemudian meniup ke kedua telapak tangannya yang dilanjutkan dengan membaca ‘Qul Huwallaahu ahad dan ‘Qul a’uudzu birabbil falaq’ serta ‘Qul a,uudzu birabbinnaas,‘ kemudian mengusapkan kedua telapak tangannya itu ke seluruh tubuh yang sanggup beliau jangkau, di mulai dari bagian kepala, kemudian wajah, kemudian bagian tubuh yang paling dekat untuk dijangkau. Beliau melakukannya tiga kali.” HR. Al-Bukhari (no. 5017).

Dari hadits di atas dapat diambil faidah bahwa Nabi senantiasa melakukannya setiap hendak tidur, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Aisyah , “Setiap malamnya.” Adapun tata caranya adalah membaca tiga surat tadi kemudian meniupkannya ke kedua telapak tangan, lalu mengusapkannya ke seluruh badan yang mampu dijangkau, dimulai dari kepala dan wajah kemudian yang terdekat dari badan.

Faidah lain dari hadits ini, bahwa meniupnya dengan tiga kali tiupan. Kemudian faidah meniup tersebut dimaksudkan untuk mencari berkah dengan hawa basah, dan hawa yang langsung mengenai telapak tangan sebagai bentuk ruqyah dan bagian dari dzikir-dzikir yang baik. Demikian yang diterangkan oleh al-Qadhi.

Faidah: Meniup tangan disertai bacaan al-lkhlas dan al-Mu’awidzatain tidak dikhususkan ketika hendak tidur saja, bahkan hal itu disunnahkan bagi orang yang merasakan sakit, agar ia meniup kedua telapak tangannya tiga kali kemudian mengusapkan ke tubuhnya. Al. Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ketika Rasulullah merasakan sakit, beliau meniup tangannya kemudian membaca al-Mu’awidzat, lalu mengusapkannya ke tubuhnya. Dan tatkala beliau menderita sakit parah yang menyebabkan beliau wafat, beliau menyatukan kedua telapak tangan kemudian membaca al-Mu’awidzat dan kemudian meniupkan dan mengusapkannya ke seluruh tubuh beliau.” HR. Al-Bukhari (no. 4439), Muslim (no. 2192), Ahmad (no. 24310), Abu Dawud (no. 3902), Ibnu Majah (no. 3529) dan Malik (no. 1755).

3. Membaca surat al-Kaafiruun untuk (menyatakan) berlepas diri dari kesyirikan.

Diriwayatkan dari Farwah bin Naufal, dari ayahnya bahwa Nabi bersabda kepada Naufal:

اقرأ : قل يا أيها الكافرون ثم نم على خاتمتها فإنها براءة من الشرك

“Bacalah ‘Qul yaa ayyuhal kaafiruun,’ kemudian tidurlah setelah selesai membacanya, karena ia adalah bentuk berlepas diri dari kesyirikan. ” HR Abu Dawud (no. 5055), dan lafazh ini menurut riwayatnya. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani v, Ahmad (no. 23295), at-Tirmidzi (no. 3403), dan ad-Darimi (no. 3427).

4. Membaca surat Tabarak (al-Mulk) dan Alif Lam Mim Tanzil (as-Sajdah)

Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata,“Rasulullah tidak tidur hingga beliau membaca ‘Alif Lam Mim Tanzil as-Sajdah’ dan Tabaarakalladzii biyadihil mulk.“ HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 1027). Syaikh al-Albani berkata. “Shahih lighairihi,” (no. 917).

Faidah: Sebuah atsar menyebutkan tentang surat Tabarak bahwa beliau menganjurkan untuk membaca dan menjaganya. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi, beliau bersabda:

سورة من القرآن ثلاثون آية تشفع لصابها حتى يغفر له: تبارك الذي بيده الملك.

“Satu surat dari al-Qur’an yang tiga puluh ayatnya dapat memberi syafa’at bagi orang yang membacanya sehingga dosa-dosanya akan diampuni, yaitu ‘Tabaarakalladzii biyadihil mulk. ” HR. Abu Dawud (no. 1400), dan dihasankan oleh syaikh al-Albani, at-Tlrmidzi (no. 2891) dan Ibnu Majah (no. 3786).

5. Membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah

Dari Abu Mas’ud al-Badri, ia berkata, “Rasulullah, bersabda:

الآيتان من آخر سورة البقرة من قرأهما في ليلة كفتاه

”Dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah, siapa yang membacanya pada malam hari maka dua ayat tersebut telah mencukupinya.”HR.Al-Bukhari (no. 4008), Muslim (no. 807), Ahmad (no. 16620)at-Tirmidzi (no.2881) Abu Dawud (no. 1397), Ibnu Majah (no. 1368) dan ad-Darimi (no.1487)

Tentang sabda beliau, “Dua ayat tersebut telah mencukupinya, ” lmam an-Nawawi mengatakan, “Dikatakan bahwa maknanya adalah telah mencukupinya dari shalat malam. Ada pula yang mengatakan, telah cukup untuk menjaga diri dari syetan. Dan ada yang mengatakan, sebagai penjaga dari sesuatu yang membahayakan, dan makna-makna tersebut sama-sama memungkinkan.” Syarh Shahih Muslim (jilid III (Vl/76)).

6. Membaca do’a-do’a dan berdzikir

Di antara petunjuk Nabi ketika hendak tidur, bahwa beliau berdo’a dengan beberapa kalimat di malam sebelum tidur. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda:

من اضطجعك مضجعا لم يذكر الله تعالى فيه إلا كان عليه ترة يوم القيامة ومن قعد مقعدا لم يذكر الله عز وجل فيه إلا كان عليه ترة يوم القيامة

“Barangsiapa yang hendak tidur di tempat tidurnya dan tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala, melainkan ia mendapat kekurangan dan kerugian pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang duduk di satu tempat duduk dan tidak berdzikir kepada Allah, melainkan ia mendapat kekurangan dan kerugian pada hari kiamat” HR. Abu Dawud (no. 5059), dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.

Dan siapa yang memperhatikan do’a-do’a yang diucapkan oleh Nabi ketika hendak tidur, maka ia akan mendapati bahwa di dalamnya tercakup makna-makna yang agung dan mulia, di dalamnya pun tercakup tauhid dan jenis-jenisnya, nampak jelas kefakiran kita di hadapan Allah. Di dalamnya terdapat permohonan ampun, taubat, inabah dan membentengi diri dari adzab di hari akhirat. Di dalamnya terkandung permohonan untuk meminta perlindungan kepada Allah dari godaan hawa nafsu dan syetan, juga pujian kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya, dan kandungan-kandungan lain yang maknanya sangat luas dan tiada batasnya yang mana tidak memungkinkan untuk disebutkan seluruhnya di sini.

Akan kami sebutkan sebagian do’a Nabi ketika hendak tidur agar kita semua bisa mengambil faidah darinya dengan mengharapkan tambahan amal kebaikan. Sesungguhnya orang yang mendapatkan taufiq dari Allah adalah orang yang berlomba mengerjakan amal-amal kebaikan.

a. Mengucapkan:

اللهم قني عذابك يوم تبعث عبادك

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab-Mu di hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu. ”

Diriwayatkan dari Hafshah , (isteri Nabi) bahwa setiap Rasulullah hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya, kemudian membaca do’a, “Allaahumma qinii ‘adzaabaka yauma Tab ‘atsu ‘ibaadaka. ” HR. Ahmad (no. 25926), Abu Dawud (no. 5045), dan ini adalah lafazh riwayat beliau. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani tanpa lafazh “tiga kali.” At-Tirmidzi (no. 3398), Ahmad (no. 22733) dari Hudzaifah bin al-Yaman.

b. Mengucapkan

بسمك اللهم أموت وأحيا

“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah aku mati dan aku hidup.”

Diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman, ia berkata, “Apabila Nabi menuju tempat tidurnya, beliau berdo’a, “Bismikallaahumma amuutu wa ahyaa (Dengan menyebut nama-Mu ya Allah aku mati dan aku hidup). HR AlBukhari (no. 6312), Ahmad (no 22760), at Tirmidzi (no. 3417). Abu Dawud »“ (“0 5049) dan Ibnu Majah (no. 3880).

c. Mengucapkan:

اللهم خلقت نفسي وأنت توفاها لك مماتها ومحياها إن أحييتها فاحفظها وإن أمتها فاغفر لها اللهم إني أسألك العافية

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menciptakan aku dan Engkaulah yang akan mematikan aku. Engkau memiliki hak menghidupkan dan mematikan. Jika Engkau menghidupkan diriku, maka peliharalah ia, dan jika Engkau mematikannya, maka ampunilah ia. Ya Allah, aku memohon keselamatan kepada-Mu.”

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin “Umar, bahwa ia memerintahkan seseorang yang hendak tidur untuk berdo’a, “Allaahumma khalaqta nafsii wa Anta tawaffaahaa, laka mamaatuha wa mahyaaha, in ahyaitahaa fahfazh-haa, wa in amattahaa faghfir lahaa. Allaahumma innii as’alukal ‘aafiyah.” Maka seseorang bertanya kepadanya, “Apakah engkau mendengarnya dari ‘Umar?” Ia menjawab, “Aku mendengarnya dari orang yang lebih baik dari “Umar”,yaitu Rasulullah. HR Muslim (no. 2712) dan Ahmad (no. 5478).

d. Mengucapkan:

بسمك رب وضعت جنبي وبك أرفعه إن أمسكت نفسي فارحمها وإن أرسلتها فاحفظها بما تحفظ به عبادك الصالحين

“Dengan menyebut nama-Mu, wahai Rabb-ku, kuletakkan tubuh ini, dengan pertolongan-Mu aku mengangkatnya. Jika Engkau mematikan aku, maka berikanlah rahmat kepadanya, dan jika Engkau membiarkannya hidup, maka peliharalah sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih. ”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian hendak beristirahat di tempat tidurnya, maka hendaklah ia mengibaskan (menyapu) tempat tidurnya dengan kain sarung, karena sungguh ia tidak tahu apa yang terjadi di tempat tidur tersebut setelahnya. Kemudian hendaklah ia tidur menghadap ke arah kanan, kemudian hendaklah ia membaca do’a,Bismika Rabbii wadha’tu janbi, wa bika arfa’uhu, in amsakta nafsi farhamha, wa in arsaltaha, fahfazh-ha bimaa tahfazhu bihi ‘ibaadakash shaalihiin.” HR. Al-Bukhari (no. 6320), Muslim (no. 2714), Ahmad (no. 7313), at-Tirmidzi (no. 3401), Abu Dawud (no. 5050) dan lafazh ini menurut riwayat beliau. lbnu Majah (no. 3874) dan ad-Darimi (no. 2684).

e. Mengucapkan:

اللهم رب السماوات ورب الأرض ورب العرش العظيم ربنا ورب كل شيء فالق الحب والنوى ومنزل التوراة والإنجيل والفرقان أعوذ بك من شر كل شيء أنت آخذ بناصيته اللهم أنت الأول فليس قبلك شيء وأنت الآخر فليس بعدك شيء وأنت الظاهر فليس فوقك شيء وأنت الباطن فليس دونك شيء اقض عنا الدين وأغننا من االفقر

“Ya Allah, Rabb langit dan Rabb bumi dan Rabb ‘Arsy yang agung. Wahai Rabb kami, Rabb segala sesuatu, Yang menciptakan biji-bijian dan benih tanaman, Yang menurunkan Taurat dan Injil serta al-Furqan (al-Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang mana Engkau-lah yang memegang ubun-ubunnya. Engkau adalah al-Awwal, yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu, dan Engkau adalah al-Akhir yang tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau adalah azh-Zhahir yang tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Dan Engkau adalah al-Bathin yang tidak ada sesuatu pun di bawah-Mu. Lunasilah hutang-hutang kami dan bebaskanlah kami dari kefakiran. ”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, “Jika kami menuju tempat tidur, Rasulullah memerintahkan kami untuk mengucapkan do a, ‘Allaahumma Rabbas samaawaati wa Rabbal ardhi, wa Rabbal ‘Arsyil azhiim, Rabbanaa wa Rabba kulli syai, faaliqal habbi wan nawa, wa manzilat Tauraata wal lnjiila wal Furqan. A’uudzubika min syarri kulli syai, Anta aakhidzun binaashiyatihaa. Allaahumma Antal Awwalu fa laisa qablaka syai, wa Antal Aakhiru falaisa ba daka syai“, wa antazh Zhahiru falaisa fauqaka syai“, wa antal Bathinu falaisa duunaka syai ‘, iqdhi annad daina wa aghnina minal faqr. ” HR Muslim (no. 2713), Ahmad (no. 3737), atTirmidzi (no 3400) Abu Dawud (“0 5051) dan Ibnu Majah (no. 3831).

f. Mengucapkan:

اللهم فاطر السماوات والأرض عالم الغيب والشهادة رب كل شيء ومليكه أشهد أن لا إله إلا أنت أعوذ بك من شر نفسي وشر الشيطان وشركه

“Ya Allah, Pencipta langit dan bumi. Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Rabb segala sesuatu dan yang menguasainya, aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku dan dari keburukan syetan dan sekutunya. ”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, ajarkan kepada kami satu kalimat untuk kami ucapkan di pagi dan sore hari.” Rasulullah bersabda:

“Ucapkanlah,Allaahumma faathiras samaawaati wal aedhi,’aalimal ghoibi wasy syahadah,Rabba kulla sya’in wa maliikahu,Asyhadu alla ilaaha illaa Anta,a’uudzu bika min syarri nafsii wa syarrsy syaithaana wa syirkihi,”Beliau bersabda,”Ucapkan do’a itu di pagi hari dan ketika engkau hendak tidur.” HR. Abu Dawud (no. 5067) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani. Ahmad (no. 7901), at-Tirmidzi (no. 3392) dan ad-Darimi (no. 2689).

g. Mengucapkan

الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وكفانا وآوانا فكم ممن لا كافي له ولا مؤوي

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum, memberi kami kecukupan dan memberi kami tempat tinggal. Karena banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan tempat tinggal. ”

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa apabila Rasulullah mendatangi tempat tidurnya, beliau mengucapkan, “Alhamdu lillaahilladzii ath’amanaa wa saqaanaa wa kafaanaa, wa aawaanaa, fa kam mimman laa kaafiya lahu walaa mu ‘wiya. ” HR Muslim (no. 2715), Ahmad (no. 12142), at-Tirmidzi (no. 3396) dan Abu Dawud (no. 5053).

h. Membaca tasbih (Subhaanaliaah) dan tahmid (Alhamdu lillaah) tiga puluh tiga kali (33X) dan membaca takbir (Allaahu akbar) tiga puluh empat kali (34X).

Diriwayatkan dari ‘Ali bahwa Fathimah mengadukan bekas penggilingan di tangannya, maka ia mendatangi Nabi untuk meminta seorang pembantu dan ia tidak menemukannya. Lalu ia menyampaikannya kepada ‘Aisyah. Ketika ia datang, ia mengabarkan. Ia berkata, “Lalu beliau mendatangi kami sedangkan kami telah mendatangi tempat tidur kami. Lalu aku pun bangun, kemudian beliau berkata, “Tetaplah di tempatmu. Lalu beliau duduk di antara kami, hingga aku merasakan dinginnya kedua kaki beliau di dadaku. Maka beliau bersabda, “Ketahuilah, aku akan menunjukkan kepada kalian berdua apa yang lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu. Yaitu jika kalian mendatangi tempat tidur kalian atau kalian hendak tidur padanya, maka bertakbirlah tiga puluh tiga kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali Maka yang demikian ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu. ” HR. Al-Bukhari (no. 6318), Muslim (no. 2727), Ahmad (no. 605), at-Tirmidzi (DO. 3408) Abu Dawud (no. 2988) dan ad Darimi (no. 2685)

i. Mengucapkan:

بسم الله وضعت جنبي اللهم اغفر لي ذنبي وأخسئ شيطاني وفك رهاني واجعلني من الندي الأعلى

“Dengan menyebut nama Allah aku meletakkan tubuhku ini. Ya Allah, berilah ampunan bagiku atas dosa-dosaku, usirlah syetan dariku, bebaskan apa yang masih tergadai dariku, jadikanlah aku dalam tempat yang paling tinggi. ”

Dari Abu Zuhair al-Anmari bahwa Rasulullah bersabda, “Jika seseorang mendatangi tempat tidurnya pada malam hari, ucapkanlah, ‘Bismillaahi wadha’tu janbii. Allaahummaghfirlii dzanbii, wa akhsi’ syaithaanii wa fukka rihaanii, waj’alnii fin nadiyyil a’la’ .” HR Abu Dawud (no. 5054) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.

j. Orang yang terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk hendaklah mengucapkan:

أعوذ بكلمات الله التامات من غضبه و عقابه وشر عباده و من همزات الشياطين وأن يحضرون

“Aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna, dari kemarahan dan siksa-Nya, dari makhluk ciptaan-Nya dan dari godaan syetan ketika datang mengganggu. ”

Diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasullullah mengajarkan kepada mereka (para shahabat) do’a-do’a ketika terbangun dari tidur di malam hari, “A’uudzu bikalimaatillahit taammati min ghadhabihi wa ‘iqaabihi, wa syarri ‘ibaadihi, wa min hamazaatisy syaithaan wa an yahdhuruun.”

Dan dalam riwayat Ahmad disebutkan, “Rasulullah mengajari kami (para shahabat) do’a-do’a yang kami ucapkan ketika bangun dari tidur di malam hari, ‘Bismillaahi a’udzu bikalimaatillahit tammati…” HR. Abu Dawud (no. 3893) aan dihasankan oleh Syaikh all-Albani Ahmad (no. 6657) dan at-Tirmidzi (no. 3528).

k. Mengucapkan:

اللهم أسلمت نفسي إليك ووجهت وجهي إليك وفوضت أمري إليك وألجأت ظهري إليك رغبة ورهبة إليك لا ملجأ ولا منجا منك إلا إليك آمنت بكتابك الذي أنزلت وبنبيك الذي أرسلت

“Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, seraya berharap rahmat-Mu dan takut akan siksa-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat menyelamatkan diri dari siksa-Mu melainkan kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus. ”

Diriwayatkan dari al-Barra bin ‘Azib, ia berkata, “Rasulullah bersabda, “Apabila engkau hendak tidur maka berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu lalu ucapkanlah, ‘Allaahumma aslamtu nafsii ilaika, wa wajjahtu wajhii ilaika wa fawwadhtu amrii ilaika, wa aljatu zhahrii ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, laa maljaa wa laa manjaaa minka illaa ilaika. Allaahumma aamanta bi Kitaabikalladzii anzalta, wa bi Nabiyyikalladzii arsalta.” Maka jika engkau wafat di malam itu, engkau wafat di atas fitrah. Dan jadikanlah kalimat di atas sebagai akhir ucapanmu… HR Al-Bukhari (no. 247), Muslim (no. 2710), Ahmad (no.18044), at-TirmidZi (no. 3394), Abu Dawud (no. 5046), Ibnu Majah (no. 3876) dan ad-Darimi (no. 2683).

Faidah: Diriwayatkan dari Syaddad bin Aus, dari Nabi, beliau bersabda, “Sayyidul Istighfar (tuannya istighfar) adalah engkau mengucapkan:

اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت خلقتني وأنا عبدك وأنا على عهدك ووعدك ماستطعت أعوذ بك من شر ما صنعت وأبوء لك بنعمتك علي وأبوء لك بذنبي فاغفرلي فإنه لايغفر الذنوب إلا أنت

“Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, Engkau-lah yang menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu, aku akan setia pada perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang Engkau berikan) kepadaku dan aku pun mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang akan mengampuni dosa kecuali Engkau.”

Beliau melanjutkan, “Barangsiapa yang mengucapkannya di siang hari kemudian ia wafat sebelum sore hari, maka ia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari kemudian wafat sebelum Shubuh, maka ia termasuk penghuni surga.” HR Al-Bukhari (no.6666), Ahmad (no.16662), at-Tirmidzi (no.3393) dan an-Nasa’i (no.5522).

Ini adalah anugerah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya ,yang beriman, yaitu adanya amalan yang ringan tetapi pahalanya sangat besar. Oleh karena itu sepatutnya seorang Muslim tidak melalaikan doa ini pada siang ataupun malam harinya. Dan hendaklah ia mengucapkannya dengan teratur sambil menghadirkan syarat-syaratnya, sehingga ia beruntung meraih surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu untuk menjadikan kami temasuk penghuni surga-Mu, yang mereka adalah orang-orang yang Engkau ridhai dan mereka pun ridha kepada-Mu, amin.

l. Ketika seseorang bermimpi, apa yang sebaiknya ia ucapkan dan apa yang sebaiknya ia lakukan jika yang dilihatnya dalam mimpi menyenangkan atau menakutkan

Apa yang dilihat oleh orang yang tidur bisa jadi itu adalah mimpi biasa, dan mungkin pula merupakan ru“ya (ilham). Adapun ru“ya ini datangnya dari Allah, sedangkan mimpi bisa jadi datangnya dari syetan.

Dari Abu Qatadah, ia berkata, “Nabi bersabda;

الرؤيا الصالحة من الله والحلم من الشيطان فإذا حلم أحدكم حلما يخافه فليبصق عن يساره وليتعذ بالله من شرها فإنها لا تضره

‘Mimpi yang baik (ar-ru’ya ash-shalihah) itu dari Allah, sedangkan mimpi biasa itu datangnya dari syetan. Maka apabila salah seorang dari kalian bermimpi menakutkan maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejelekan-kejelekannya, maka mimpi itu tidak akan memudharatkanmu.” HR. Al-Bukhari (no. 3292, 6995), Muslim (no. 2261, 2262, 2263), Ahmad (no. 22129), at-Tirmidzi (no. 2277), Abu Dawud (no. 5021), lbnu Majah (no. 3909), Malik (no. 1784) dan ad-Darimi (no. 2141).

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari jalan yang lain:

فمن رأى شيئا يكرهه فلينفث عن شماله ثلاثا وليتعوذ من الشيطان

“Barangsiapa yang bermimpi sesuatu yang ia benci, maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali, dan hendaklah ia berlindung dari godaan syetan.”

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

الرؤيا الصالحة من الله و الرؤيا السوء من الشيطان فمن رأى رؤيا فكره منها شيئا فلينفث عن يساره وليتعوذ بالله من الشيطان لا تضره ولا يخبر بها أحدا فإن رأى رؤيا حسنة فليبشر ولا يخبر إلا من يحب

“Mimpi yang baik itu dari Allah, sedangkan mimpi yang buruk itu dari syetan, maka barangsiapa yang bermimpi tentang sesuatu sedangkan ia tidak menyukainya maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya dan berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang, niscaya dia tidak akan memudlaratkannya, dan janganlah ia menceritakan mimpinya itu kepada siapa pun. Jika ia bermimpi baik, maka bergembiralah, dan janganlah menceritakannya kecuali kepada orang yang ia cintai. ”

Masih diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir:

فليبصق عن يساره ثلاثا وليستعذ بالله من الشيطان ثلاثا وليتحول عن جنبه الذي كان عليه

“Maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali, dan hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan tiga kali, serta hendaklah .ia berpindah posisi tidurnya dari posisi sebelumnya. ” HR. Muslim (no. 2262).

Juga dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah:

فإن رأى أحدكم ما يكره فليقم فليصل ولايحدث بها الناس

“Maka jika seseorang bermimpi yang ia tidak menyukainya maka hendaklah ia bangun kemudian shalat, dan janganlah ia menceritakan mimpinya itu kepada siapa pun.” HR Muslim (no. 2263).

Hadits di atas dengan sekian banyak jalur periwayatannya mengandung beberapa faidah, di antaranya bahwa mimpi itu bisa jadi adalah mimpi yang baik dan mungkin pula merupakan mimpi yang ielek. Mimpi yang baik berasal dari Allah sementara mimpi yang buruk berasal dari syetan yang disebut al-hulm.

Di antaranya pula bahwa barangsiapa yang bermimpi dengan mimpi yang baik maka hendaklah ia mengabarkannya dan kemudian hendaklah ia mengharapkan kebaikan. Dan janganlah ia mengabarkannya kecuali kepada orang yang dicintainya, karena mimpi itu merupakan kabar gembira dari Allah. Dalam riwayat Ahmad disebutkan,

“Barangsiapa yang bermimpi dengan mimpi yang membuatnya takjub maka hendaklah ia menceritakannya, karena mimpi itu merupakan kabar gembira yang datangnya dari Allah. ”

Di antaranya, bahwa siapa yang bermimpi tentang sesuatu yang membuatnya takut, maka disunnahkan baginya untuk meludah (tipis) ke sebelah kirinya sebanyak tiga kali, kemudian mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk atau dari kejelekannya, dan jika ia mengulanginya sebanyak tiga kali maka itu lebih utama, kemudian hendaklah ia berpindah posisi dari posisi tidurnya semula, dan jika ia bangun untuk shalat maka itu lebih utama lagi. Jika ia melakukannya atau melakukan sebagiannya saja-sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits di atas-maka sungguh syetan (mimpinya) tidak akan memudharatkannya, serta janganlah ia menceritakan mimpi buruknya itu kepada siapa pun.

  1. Dimakruhkan Tidur dengan Tengkurap

Diriwayatkan dari Thakhfah al-Ghifari, salah seorang di antara Ash-habush Shuffah (para shahabat yang tinggal di Masjid Nabawi), ia berkata, “Ketika aku tidur di masjid pada akhir malam, seseorang mendatangiku sedangkan aku tidur dengan posisi tengkurap. Kemudian ia menggerakkanku dengan kakinya dan berkata, “Bangunlah, ini adalah posisi tidur yang dimurkai Allah. ‘ Kemudian aku mengangkat kepalaku, dan ternyata orang tersebut adalah Nabi yang sedang berdiri di dekat kepalaku.” HR Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 1187) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani (no. 905), Ibnu Majah (no. 3723), dan lafazh ini menurut riwayat Ahmad (no. 7981), at-Tirmidzi (no. 2768) dari Abu Hurairah .

Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “Ada apa denganmu sehingga tidur dengan posisi seperti ini (tengkurap). Ini adalah posisi tidur yang dibenci atau dimurkai oleh Allah.”

Hadits ini jelas merupakan larangan tidur dengan tengkurap. Dan Allah sangat membencinya, dan setiap perbuatan yang Allah benci maka jauhilah. Adapun sebab dibencinya tidur tengkurap ini diterangkan dalam hadits dari Abu Dzarr, ia berkata, “Nabi melewatiku sementara aku sedang tidur tengkurap, maka beliau kemudian menggerakkan badanku dengan kaki beliau dan bersabda, ‘Wahai Junaidib, sesungguhnya tidur seperti ini adalah tidurnya penghuni neraka.HR. lbnu Majah (no.3724) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani (no.3017)

Dengan hadits ini semakin jelas pula bahwa sebab dibencinya tidur tengkurap karena menyerupai tidurnya para penghuni neraka. Wallahu a’lam.

  1. Makruhnya Tidur di Teras Rumah (di Atasnya) Tanpa Adanya Pembatas

Hal ini diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Syaiban bahwa Nabi bersabda:

من بات على ظهر بيت ليس عليه حجاب فقد برئت منه الذمة

“Barangsiapa yang tidur di teras rumahnya tanpa pembatas,maka lepaslah penjagaan atasnya. ”

Dalam riwayat Ahmad disebutkan, “Barangsiapa yang tidur di atas rumahnya yang disekitarnya tidak ada sesuatu pun yang menghalagi kakinya, maka lepaslah penjagaan darinya. .. .” HR Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 1192), dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani (no. 908), Ahmad (no. 20225) dan Abu Dawud (no. 5041).

Fadhlullah al-Jailani mengatkan, “… Bahwa diharuskan seseorang untuk tidak lalai memperhatikan sebab-sebab yang umum agar bermanfaat baginya dan menghalau segala sesuatu yang membahayakannya. Hadits ini merupakan dalil dari penjelasan tersebut. Jadi, siapa yang tidur di atas teras rumahnya tanpa penghalang, berarti ia telah lalai dalam memperhatikan sebab-sebab yang telah umum tersebut untuk menghindari segala hal yang membahayakan. Orang yang tidur terkadang berbalik dalam tidurnya dan terkadang bangun sementara pengaruh tidurnya masih dominan pada dirinya, kemudian ia berjalan kejalan yang tidak semestinya sehingga ia pun terjatuh.

Maka hendaklah ia menjaga diri dari sebab-sebab yang telah berlaku secara umum, di antaranya tidak tidur di tempat seperti itu. Ketika telah tidur maka sesungguhnya ia telah menyerahkan dirinya sendiri untuk terjatuh, sehingga ia pun terjatuh. Oleh karena itu barangsiapa yang memperhatikan sebab-sebab umum tadi lalu menyebut nama Allah dan kemudian berbaring, maka ia telah berada dalam penjagaan Allah, bisa jadi Allah akan menjaganya dan bisa pula Dia memberi ganjaran kepadanya atas musibah yang menimpanya berupa dihapuskannya kesalahan-kesalahannya atau diangkatnya derajatnya. Apabila ia tertimpa suatu musibah yang menyebabkannya Wafat setelah ia melaksanakan sebab-sebabnya maka ia tergolong mati syahid. Sebagaimana halnya orang yang meninggal karena tertimpa bangunan atau tenggelam, dan yang semisal dengan keduanya.

Sementara siapa yang melalaikannya setelah diberi kesempatan untuk mengupayakannya maka dia tidak berada dalam penjagaan Allah. Jika dia tertimpa musibah maka dia tidak mendapat ganjaran, dan jika meninggal dia pun tidak tergolong mati syahid. Bahkan dikhawatirkan dia tergolong mati bunuh diri. Wallahu a’lam bish shawaab. Syarh al-Adabil Mufrad (I/601)

  1. Do’a-Do’a Ketika Bangun dari Tidur

Disyari’atkan ketika bangun dari tidur untuk berdo’a dan membaca ayat-ayat al-Qur’an. Dan kami akan menyebutkan beberapa di antaranya:

Barangsiapa yang terbangun di waktu malam, hendaklah ia mengucapkan:

لا إله إلا الله وحده لا شريك له،له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير الحمد لله وسبحان الله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله

“Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia-lah yang memiliki kekuasaan dan dan pujian dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah. Mahasuci Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Allah Mahabesar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. ”

Diriwayatkan dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, dari Nabi, beliau bersabda, “Barangsiapa yang terbangun dari tidurnya di malam hari, ucapkanlah, “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku walahul hamdu wa Huwa ‘alaa kulli syaiin qadiir. Alhamdulillaah wa subhaanallaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata ilaa billaah.

Kemudian ia berdo’a:

اللهم اغفر لي

”Ya Allah, ampunilah aku.”

Atau berdo’a, niscaya Allah akan mengabulkannya. Dan jika ia berwudhu kemudian shalat, maka shalatnya akan diterima. ” Al-Bukhari (no.1154), at-Tirmidzi (no.3414), Abu Dawud (no.5060) lbnu Majah(no. 3878) dan ad-Darimi (no. 2687).

Membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali ‘Imran

Diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ketika ia bermalam di rumah bibinya, Maimunah. Ibnu ‘Abbas berkata, “Hingga pada pertengahan malam atau beberapa saat sebelum sedikit atau setelahnya, Rasulullah terbangun lalu duduk kemudian mengusap (bekas tidurnya). dari wajah dengan tangannya, kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali ‘Imran. Lalu beliau berdiri menuju wadah air (geriba) yang tergantung kemudian beliau berwudhu darinya, membaguskan wudhunya lalu mengerjakan shalat (Al-hadits). HR. Al-Bukhari (no. 183), Muslim (no. 763) Ahmad (no.2165) an-Nasa’i (no.1620), Abu Dawud (no. 58), dan Malik (no. 267).

Membaca do’a:

الحمد لله الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه النشور

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah menghidupkan kami Setelah Dia mematikan kami, dan kepada-Nya-lah kami akan dibangkitkan. ”

Diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman, ia berkata;

“Ketika Nabi hendak beristirahat di tempat tidurnya. beliau berdo’a:

بسمك اللهم أموت وأحيا

“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah aku mati dan aku hidup,

Dan jika beliau bangun, beliau berdo’a:

الحمد لله الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه النشور

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami, dan kepada-Nya-lah kami akan dibangkitkan. ” HR Al-Bukhari (no. 6312), Ahmad (no. 22760), at-Tirmidzi (no. 3417)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *