ADAB MAKAN DAN MINUM

Allah berfirman:
يا أيها الرسل كلوا من الطيبات واعملوا صالحا إني بما تعملون عليم
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mukminun: 51)
Allah berfirman:
…كلوا واشربوا من رزق الله ولا تعثوا في الأرض مفسدين
“… Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. ” (Al-Baqarah: 60)
Dan, Rasulullah bersabda:
يا غلام سم الله وكل بيمينك وكل مما يليك
“Wahai anak kecil, makanlah dengan mengucapkan, ‘Bismilaah,’ makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang paling dekat kepadamu. ”HR.Al-Bukhari (no.5376) dan ini adalah lafazh al-Bukhari,dan Muslim (no.2022),Ahmad (no.1589),Abu Daud (no.3777),Malik (no.1738)dan ad-Darimi (no.2045)
DI Antara Adab-Adab Makan dan Mlnum
1. Larangan Makan dan Minum Menggunakan Bejana yang Terbuat dari Emas dan Perak
Beberapa hadits menyebutkan ancaman yang amat keras bagi seseorang yang makan dengan menggunakan bejana dari emas dan perak, atau makan dari piring yang terbuat dari emas dan perak.
Diriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata, “Aku telah mendengar Nabi bersabda:
لا تلبسوا الحرير ولا الديباج ولا تشربوا في آنية الذهب والفضة ولا تأكلوا في صحافها فإنها لهم في الدنيا ولنا في الآخرة
“Janganlah kalian mengenakan pakaian dari sutera, jangan pula pakaian yang bercampur dengan sutera. Dan, janganlah kalian minum dari bejana yang terbuat dari emas dan perak, jangan pula kalian makan dari piring yang terbuat dari emas dan perak. Karena,sesungguhnya bejana dan piring seperti itu untuk mereka-ahli Kitab-di dunia dan untuk kita di surga.” HR. Al-Bukhari (no. 5426), Muslim (no. 2067), Ahmad (no. 22927), at-Tirmidzi (no. 1878), an-Nasa”i (no. 5301), Abu Dawud (no. 3723), Ibnu Majah (no. 3414) dan ad-Darimi (no. 2130).
Dan, dari Ummu Salamah-istri Nabi bahwa Rasulullah bersabda:
الذي يشرب في إناء الفضة إنما يجرجر في بطنه نار جهنم
“Seseorang yang minum dari bejana perak, maka sesungguhnya diperutnya akan diperdengarkan suara api neraka Jahannam.” HR. Al-Bukhari (no. 5634), Muslim (no. 2065), Ahmad (no. 26028), Ibnu Majah (no. 3431), Malik (no. 1717) dan ad-Darimi (no. 2129).
Para ulama sepakat tentang tidak bolehnya minum dari bejana tersebut. Dan tidak ada satu pun nash yang menerangkan sebab dari larangan ini. Jika seorang muslim telah mengetahui suatu dalil dari AlQur’an dan As-Sunnah yang shahih, maka tidak sepantasnya ia melanggarnya walau sekecil apa pun. Juga tidak sepantasnya dia berupaya menakwilkannya dengan tujuan mendapatkan pembolehan hal tersebut.
Para ulama telah mengupas hikmah yang terkandung dalam larangan ini dan mereka berbeda pendapat. Di antara hikmah larangan ini adalah menyerupai penguasa-penguasa yang angkuh dan raja-raja asing, sikap berlebihan dan sombong, karena akan menyakiti hati orang orang shalih dan kaum fakir miskin yang tidak memiliki sesuatu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Demikian yang dikatakan oleh lbnu “Abdil Barr. (Di antara ulama yang mengutip ijma’ ini adalah Ibnu ‘Abdil Barr dalam at-Tamhid (XVI/104) dan Ibnul Mundzir. Lihat dalam Fathul Bari (X/97). Dan, tidak diragukan bahwa hukum makan serupa dengan minum.)
Faidah: Al-Isma’ili mengatakan: Sabda beliau, “Dan untuk kalian di akhirat,” (dalam satu riwayat) maksudnya kalian akan menggunakannya sebagai penyeimbang (pengganti) karena telah meninggalkannya di dunia. Dan, dilarangnya mereka sebagai balasan bagi mereka karena kemaksiatan mereka dengan menggunakannya (yaitu di dunia.”)
Saya (Ibnu Hajar) katakan, “Ada kemungkinan hadits di atas mengisyaratkan bahwa siapa saja yang menggunakannya di dunia maka dia tidak akan menggunakannya di akhirat, sebagaimana yang telah disebutkan dalam pembahasan minum khamr.” (Fat-hu] Bari (X/98)).
2. Larangan Makan Sambil Bertelekan atau Menelungkupkan Wajah
Abu Juhaifah meriwayatkan, ia berkata, “Aku pernah berada di sisi Rasulullah, maka beliau bersabda kepada seseorang yang ada disampingnya, “Tidaklah sekali-kali aku makan sambil bertelekan.” (HR Al-Bukhari (no. 5399), dan lafazh di atas adalah lafazh hadits al-Bukharl, Ahmad (no. 18279), at-Tirmidzi (no. 1830), Abu Dawud (no. 3769). ibnu Majah (no. 3262) dan acl-Darimi (no. 2071)).
lbnu Hajar mengatakan, “Para ulama berselisih pendapat tentang sifat (cara) betelekan ini. Di antara mereka mengatakan, “Bersandar ketika makan dengan posisi bagaimana pun.” Ada yang berpendapat, duduk menyerong ke salah satu sisi tubuhnya. Ada yang berpendapat, duduk bertumpu dengan tangan kirinya di atas tanah. . .
Ia berkata, “lbnu Adi meriwayatkan dengan sanad yang dha’if, bahwa Nabi melarang seseorang duduk bersandar dengan tangan kirinya ketika makan.”
Malik berkata, “ini termasuk salah satu bentuk bertelekan.”
Saya-lbnu Hajar-berkata, “Dan ini adalah isyarat dari Imam Malik tentang makruhnya setiap posisi yang termasuk dalam kategori bertelekan ketika makan, dan tidak mengkhususkannya dengan posisi tertentu…”
Ibnu Hajar mengatakan, “Dan jika merupakan suatu ketetapan bahwa keadaannya makruh atau menyalahi amalan yang utama, maka posisi duduk yang sunnah ketika makan adalah dengan duduk berjingkat pada lutut dan menegakkan tumit, melipat kaki kanan dan duduk di atas kaki kiri.”( Fat-hu! Bari (IX/452). Saya katakan, “Posisi ini, yaitu menegakkan kaki kanan dan duduk di atas kaki kiri diriwayatkan oleh Abul Hasan al-Muqri dalam asy-Syama’il dari hadits beliau-Abu Juhaifah-, “Apabila beliau duduk, maka beliau melipat lututnya yang kiri dan menegakkan kaki kanannya …’ Sanadnya dha’if. Al-‘lraqi mengatakannya dalam Takhrij Ihya’ ‘Ulumuddin (ll/6), cet. Darul Hadits, cet. !, th. 1412 H)
Dan, dirnakruhkannya posisi duduk seperti ini karena merupakan posisi duduk para penguasa yang angkuh dan raja-raja negeri asing. Juga merupakan posisi duduk orang-orang yang ingin memperbanyak makan. Lihat Zadul Ma’ad (IV/222) dan Fat-hu! Bari (IX/452).
Dan, posisi kedua dari cara makan seseorang yang terlarang adalah makan sambil duduk bersandar (bertelungkup) di atas perutnya.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwa ia berkata,“Rasulullah telah melarang orang-orang berlaku tamak, melarang duduk di depan meja yang di atasnya terhidang khamr, dan melarang seseorang duduk bertelungkup di atas perutnya.” HR Abu Dawud (no. 3774) dan Syaikh al-Albani menshahihkanya. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (no. 3370).
Faidah: Cara duduk ketika makan: Beliau makan dengan posisi muq’in, dan disebutkan dari beliau bahwa ketika makan beliau duduk tawarruk, yaitu duduk di atas kedua lutut dan meletakkan telapak kaki kiri beliau di atas punggung kaki kanan beliau, sebagai bentuk sikap tawadhu’ (rendah diri) terhadap kepada Rabb-nya. Demikian yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim. Zadul Ma’ad (IV/221).
Adapun posisi duduk yang pertama sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Aku melihat Nabi duduk dengan posisi muq’in (Yaitu duduk di atas kedua pantat dengan menegakkan kedua betis beliau. (Syarh Muslim (jilid VII (XIII/188)).tengah memakan kurma.” HR Muslim (no. 2044), Ahmad (no. 12688), Abu Dawud (no. 3771) dan aid-Darimi (no. 2062).
Adapun posisi duduk yang kedua, diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Busr,“ ia berkata,“Nabi diberi hadiah seekor kambing, lalu beliau bertopang dengan kedua lututnya sambil memakan kambing tersebut. Maka, seorang Arab Badui berkata kepada beliau, “Posisi duduk apa ini?” Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah menjadikan aku seorang hamba yang mulia dan tidak menjadikan aku seorang penguasa angkuh lagi pembangkang.” HR. Ibnu Majah (no. 3263) dan lafazh tersebut adalah lafazh lbnu Majah. lbnu Hajar menghasankan sanad-sanadnya dalam al-Fat-h (IX/452). Syaikh al-Albani berkata, “Shahih,” (no. 2658). Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud (no. 3773) tanpa menyebutkan kedua lutut.
3. Mendahulukan Makan dari Shalat Ketika Makanan Telah Dihidangkan
Anas meriwayatkan dari Nabi, beliau bersabda:
إذا وضع العشاء وأقيمت الصلاة فابدءوا بالعشاء
“Apabila makan malam telah dihidangkan dan shalat telah didirikan maka hendaklah kalian memulai dengan makan malam.” HR. Al-Bukhari (no. 5464), Muslim (no. 557), Ahmad (no. 12234). at-Tirmidzi (no. 353), an-Nasa’i (no. 853) dan ad-Darimi (no. 1281).
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,“Rasulullah bersabda:
إذا وضع عشاء أحدكم وأقيمت الصلاة فابدءوا بالعشاء ولا يعجل حتى يفرغ منه
“Apabila makan malam salah seorang di antara kalian telah dihidangkan sementara shalat telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam dan janganlah seseorang tergesa-gesa hingga ia selesai dari makannya.” HR. Al-Bukhari (no. 673), Muslim (no. 559), Ahmad (no. 5772), at-Tirmidzi (no. 354), Abu Dawud (no. 3757), Ibnu Majah (no. 934) dan ad-Darimi (no. 1281).

Dan, apabila makan malam telah dihidangkan kepada Ibnu ‘Umar: sementara waktu shalat telah tiba, beliau tidak beranjak dari makan malamnya hingga menyelesaikannya.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Nafi’ bahwa Ibnu ‘Umar seringkali mengutusnya sementara ia tengah berpuasa. Lalu makan malam dihidangkan kepadanya sementara adzan shalat Maghrib telah dikumandangkan, kemudian iqamat shalat diserukan dan ia mendengarnya, namun ia tidak meninggalkan makan malamnya dan tidak pula tergesa-gesa hingga ia menyelesaikan makan malamnya. Kemudian ia keluar untuk mengikuti shalat. Setelah itu ia berkata, “Nabi Allah bersabda:
لا تعجلوا عن عشائكم إذا قدم إليكم
“Janganlah kalian tergesa-gesa menyantap makan malam kalian apabila ia telah dihidangkan kepada kalian.” Al-Musnad (no. 6323(
Alasannya agar jangan sampai seseorang mengerjakan shalat akan tetapi hatinya teringat kepada makan malamnya sehingga ia menjadi risau dan menghilangkan kekhusyu’annya.
Ibnu Hajar mengatakan,“Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas, bahwa keduanya tengah menyantap makanan dipemanggangan. Lalu muadzin hendak menyerukan iqamat shalat, maka Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya,“Janganlah engkau tergesa-gesa agar kami tidak berdiri mengerjakan shalat sementara dalam hati kami ada ganjalan.” Dan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah disebutkan,“Agar tidak memalingkan (hati) karni di saat mengerjakan shalat.” Fat-hul Bari (Il/189).
Dan, perintah ini tidak sebatas pada makan malam saja, bahkan di setiap makanan yang mana hati kita tertarik untuk menyantapnya. Dalil yang menguatkannya bahwa Nabi melarang dikerjakannya shalat ketika makanan telah dihidangkan, juga ketika menahan kencing dan menahan buang air besar. Dan, alasannya sangatlah jelas.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ummul mukminin, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda:
لا صلاة بحضرة الطعام ولا هو يدافعه الأخبثان
“Tidak sempurna shalat ketika makanan telah dihidangkan, dan tidak sempurna shalat seseorang dalam keadaan menahan kencing dan hajat besar.” HR. Muslim (560), Ahmad (23646) dan Abu Dawud (89(
Faidah: Sebagian ulama mengatakan, “Siapa yang makanannya telah dihidangkan kemudian iqamat shalat diserukan, maka hendaklah ia memakan beberapa suap untuk mengatasi rasa laparnya.”
imam an-Nawawi membantah pendapat tersebut, dan beliau mengatakan,“Sabda Nabi,”Dan janganlah seseorang tergesa-gesa hingga menyelesaikan makannya” adalah dalil yang menunjukkan bahwa ia menyelesaikan makan sebagai kebutuhannya dengan menyempurnakannya. Dan, inilah pendapat yang shahih. Adapun penafsiran sebagian ulama Syafi’iyyah bahwa cukup baginya makan sesuap untuk mengatasi rasa laparnya yang amat sangat bukanlah pendapat yang shahih. Dan, hadits ini jelas-jelas menolak pendapat tersebut.” Muslim dengan Syarh An-Nawawi Jilid 3 (5/38).
Masalah: Jika makanan telah dihidangkan sementara iqamat shalat telah diserukan, apakah wajib makan terlebih dahulu berdasarkan zhahir hadits di atas ataukah perintah tersebut sebatas disunnahkan?
Jawab: Apa yang dilakukan oleh Ibnu ‘Umar dalam riwayat Ahmad dan selainnya menunjukkan didahulukannya makan secara mutlak. Dan, sebagian ulama mengkhususkannya jika hati tertarik dan membayangkan makanan tersebut. Jika hatinya membayangkan makanan tersebut maka yang lebih utama baginya adalah memakan makanan tersebut sehingga ia mengerjakan shalat dengan khusyu’.
Dan, diriwayatkan juga dari Abud Darda, ia berkata,“Di antara bentuk pemahaman seseorang adalah dengan menyelesaikan hajatnya sehingga ia menuju shalat dengan hati yang tenang“Diriwayatkan secara mu’allaq oleh Al-Bukhari didalam Kitab AI-Adzan, bab. Idzaa Hadhara Ath-Tha’am wa quimat Ash-Shalat. lbnu Al-Mubarak meriwayatkan atsar ini secara maushul didalam kitab Az-Zuhd. Dan, Muhammad bin Nashr Al-Marruzi meriwayatkannya didalam Kitab Ta’dziim Qadri Ash-Shalat, dari jalan lbnu AlMubarak. Sebagaimana pernyataan Ibnu Hajar didalam Fat-hui Bari (2 / 187)
Pendapat yang tepat tentang masalah adalah yang disebutkan oleh al-Hafizh lbnu Hajar, di mana setelah mengutip atsar Ibnu ‘Abbas dan al-Hasan bin ‘Ali, yaitu, “Makan malam sebelum mengerjakan shalat akan menghilangkan hati yang tercela.” Ia mengatakan,“Semua atsar ini mengisyaratkan bahwa sebab didahulukannya makan daripada shalat karena hati akan membayangkan makanan tersebut, maka sepatutnyalah hukum diikutkan kepada sebabnya, baik ketika sebab itu ada atau tidak, dan tidak terikat dengan seluruhnya atau sebagiannya. Fat-hu! Bari (ll/189-190). 474 ALAdabusy Syar’iyyah (lil/214). 475 Lihat aI-Adab (lil/212).
4. Mencuci Kedua Tangan Sebelum dan Sesudah Makan
Saya tidak mendapati Sunnah yang shahih yang diriwayatkan secara marfu’ hingga kepada Nabi yang menerangkan tentang mencuci kedua tangan sebelum makan. Al-Baihaqi mengatakan,“Hadits tentang membasuh kedua tangan setelah makan derajatnya hasan, dan hadits tentang membasuh kedua tangan sebelum makan tidak shahih.”Akan tetapi hal itu disukai” untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada kedua tangan dan semisalnya yang akan membahayakan tubuh.
Berkaitan dengan masalah ini Imam Ahmad memiliki dua riwayat, yaitu riwayat yang menganggapnya makruh dan riwayat -lainnya sunnah. Sedangkan Imam Malik merinci dan mengkaitkan membasuh kedua tangan sebelum makan jika memang ada kotoran. Adapun apa yang ditulis oleh Ibnu Muilih dalam kitab al-Adab karya beliau menunjukkan kecenderungan beliau berpendapat bahwa amalan tersebut disunnahkan sebelum makan, dan ini adalah pendapat sebagian besar ulama.
Dan, ini adalah permasalahan yang lapang, alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
Adapin tentang membasuh keduatangan setelah makan,telah diriwayatkan beberapa atsar yang shohih,diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia berkata,”Rasulullah bersabda:
من نام وفي يده غمر ولم يغسله فأصابه شيء فلا يلومن إلا نفسه
“Barangsiapa yang tidur dan di tangannya masih menempel ghamar(yaitu bau daging dan lemak yang menempel pada tangan( dan tidak membasuhnya kemudian ia tertimpa sesuatu, maka janganlah ia menyesali kecuali dirinya sendiri,” HR. Ahmad (no. 7515), Abu Dawud (no. 3852), Syaikh al-Albani menshahihkannya. Dan, diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi (no. 1860), Ibnu Majah (no. 3297) dan adDarimi (no. 2063).
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah pemah memakan bagian punggung kambing, kemudian beliau berkumur-kumur dan membasuh kedua tangannya lalu mengerjakan shalat. HR. Ahmad (no. 27486), Ibnu Majah (no. 493) dan Syaikh al-Albani menshahihkannya (no. 498).
Dan, dari Aban bin ‘Utsman, bahwa ‘Utsman bin ‘Affan pernah makan roti dengan daging kemudian berkumur-kumur dan membasuh kedua tangannya lalu membasuh wajahnya, dan kemudian ia mengerjakan shalat tanpa berwudhu lagi. HR. Malik (no. 53).
Faidah: Sebagian ulama menyunnahkan wudhu secara syar’i sebelum makan bagi orang yang junub. Dan, hal itu disebutkan dalam sebuah hadits dan atsar. Adapun hadits yang dimaksud adalah hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah , ia berkata,“Apabila Rasulullah junub dan hendak makan atau tidur, beliau berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhu untuk shalat.” HR.Al-Bukhari (no. 286), Muslim (no. 305), dan ini adalah lafazh beliau, Ahmad (no. 24193), an-Nasa’i (no. 255), Abu Dawud (no. 224), ibnu Majah (no. 584) dan ad-Darimi (no. 757).
Adapun atsar, diriwayatkan dari Nafi’, bahwa apabila lbnu ‘Umar: hendak tidur atau makan dalam keadaan junub, ia sebelumnya mencuci wajah, kedua tangan hingga siku, dan membasuh kepalanya, lalu ia pun makan atau tidur.” HR. Malik (no. 111).
Syaikh Taqiyyuddin lbnu Taimiyyah mengatakan, “Dan kami tidak mengetahui seorang pun yang beranggapan sunnahnya berwudhu sebelum makan, kecuali jika ia dalam keadaan junub.”4 AI-Adabusy Syar’iyyah (lil/214).
Perhatian: Al-Muhaddits al-Albani berdalil dengan hadits ‘Aisyah, Apabila Nabi hendak tidur dalam keadaan junub, maka beliau (sebelumnya) berwudhu, dan apabila hendak makan maka beliau (sebelumnya) membasuh kedua tangannya.” HR. An-Nasa“i (no. 256), Ahmad (no. 24353) dan selain keduanya. Bahwa disyari’atkan membasuh kedua tangan sebelum makan secara mutlak berdasarkan hadits ini. Lihat a.s-Silsilah ash-Shahihah (l/674) (no. 390).
Akan tetapi, hukum mutlak ini perlu diteliti lagi karena beberapa hal:
Pertama: Hadits tersebut menerangkan apa yang dilakukan oleh Nabi dalam keadaan junub ketika beliau hendak tidur, makan dan minum.
Kedua: Sebagian riwayat hadits tersebut menyebutkan dengan lafazh wudhu dan sebagian lainnya dengan penyebutan membasuh kedua tangan yang menerangkan dibolehkannya kedua amalan tersebut.
As-Sindi berkata dalam Hasyiyahnya,“Sabda beliau,”Membasuh kedua tangan,” yakni terkadang beliau mencukupkan dengannya untuk menerangkan pembolehan, dan terkadang beliau berwudhu untuk menyempurnakanya.” Syarh Sunan an-Nasa’i karya as-Suyuthi dan Hasyiyah (:s-Sindi, Darul Kitab al’ ‘Arabi (l/138-139).
Ketiga: Para Imam Ahlul Hadits, seperti Malik,’Ahmad, lbnu Taimiyyah, an-Nasa’i (Di mana hadits ini dicantumkan pada tiga judul bab: Pertama, Wudhu’ Seorang yang Junub Apabila Hendak Makan. Kedua, Seorang yang Junub Cukup Membasuh Kedua Tangan apabila ia Hendak Makan. Ketiga, Seorang yang Junub Cukup Mencuci Kedua Tangan Apabila la Hendak Makan atau Minum. Lihat kitab ath-Thaharah dalam Sunan an-Nasa’i. dan selain mereka-dan kami telah mengutip perkataan mereka-tidak berpendapat bahwa hadits ‘Aisyah di atas berlaku secara mutlak sebagaimana pendapat al-‘Allamah al-Albani yang menganggapnya berlaku secara mutlak, sedangkan mereka meriwayatkan hadits ini. Yang menguatkan bahwa permasalahan ini menurut mereka hanya berlaku pada saat junub, sehingga wudhu dan membasuh tangan sebelum makan dalam hadits ini berlaku hanya pada saat junub. Wallahu a’lam.
5. Tasmiyah (Mengucapkan “Bismillaah”) Ketika Memulai Makan dan Minum, dan Mengucapkan Hamdalah Seusai Makan dan Minum
Di antara perkara yang disunnahkan adalah sebelum seseorang makan dan minum hendaklah ia membaca “bismillaah” dan memuji Allah (mengucapkan hamdalah) setelahnya.
Ibnul Qayim aig mengatakan, “Membaca basmalah di awal makan dan minum dan mengucapkan hamdalah setelahnya memiliki pengaruh yang sangat menakjubkan, baik dari segi manfaat, kebaikan juga dalam mencegah kemudharatan. Imam Ahmad mengatakan,Jika dalam makanan telah terkumpul empat hal, maka sungguh telah sempurna; yaitu apabila menyebut nama Allah di awal makan, mengucapkan hamdalah setelah makan, makan secara berjama’ah dan makanan tersebut adalah makanan yang halal (jenis dan sumbemya). Zadul Ma’ad (lV/232).
Faidah membaca basmalah sebelum makan bahwa setan diharamkan masuk ke dalam makanan dan juga dalam mendapatkannya.
Diriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata,“Apabila kami hadir bersama Nabi, kami tidak meletakkan tangan kami hingga beliau memulainya, maka barulah kami meletakkan tangan kami. Suatu saat kami menghadiri acara makan bersama dengan beliau, lalu seorang anak wanita, sepertinya ia dipanggil dan kemudian datang dan meletakkan tangannya, lalu Rasulullah meraih tangannya. Kemudian datanglah seorang Arab Badui, sepertinya ia dipanggil namun tangannya diraih oleh beliau. Kemudian Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya setan masuk ke dalam makanan yang tidak disebut nama Allah. Dan, setan datang dengan anak wanita ini untuk ikut bergabung, maka aku menarik tangannya. Dan, dia pun datang bersama Arab Badui ini juga ,untuk ikut bergabung dengannya, maka aku pun menarik tangannya. Dan, demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan bersentuhan dengan tanganku bersamaan dengan tangan anak wanita tersebut.” HR Muslim (no. 2017), Ahmad (no. 22738) dan Abu Dawud (no. 3766).
Lafazh tasmiyah adalah dengan mengucapkan “bismillaah.”
Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abu Salamah, ia berkata,“Ketika aku masih kecil, aku berada di kamar Rasulullah, dan tanganku mengambil makanan di atas piring, maka Rasulullah bersabda kepadaku,”Wahai anak muda, bacalah bismillaah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang terdekat denganmu,itu adalah cara makanku yang selalu aku lakukan dan menjadi kebiasaanku setiap hendak makan.” HR. Al-Bukhari (no. 5376) dan lafazh di atas adalah lafazh beliau, Muslim (no. 2022), Ahmad (no. 15895), Abu Dawud (no. 3777), Ibnu Majah (no. 3267). Malik (no. 1738) dan ad-Darimi (no. 2045).
Imam an-Nawawi dalam kitab al-Adzkar beliau memilih bahwa yang paling utama adalah mengucapkan,“Bismillaahirrahmaanirrahiim,” dan jika hanya mengucapkan, “Bismillaah,” maka hal itu sudah cukup dan telah mengamalkan Sunnah. AI-Adzkar karya Imam an-Nawawi (no. 334)
Akan tetapi, Ibnu Hajar menyanggah pendapat tersebut, beliau berkata, “Aku tidak melihat adanya dalil khusus yang menguatkan pernyataan beliau.” Fat-hulBari(1X/431)
Saya katakan bahwa sebagian besar nash yang ada hanya menerangkan dengan lafazh “bismillaah ” dan semisalnya tanpa tambahan “ar-Rahmaan ar-Rahiim. ” Diriwayatkan dari ‘Amr bin Abi Salamah, ia berkata, “Rasulullah bersabda:
يا غلام إذا أكلت فقل : بسم الله وكل بيمينك وكل مما يليك
“Wahai anak muda, apabila engkau hendak makan maka ucapkanlah “bismillaah makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang terdekat denganmu” HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir, dan Syaikh al-Albani memasukkannya dalam Silsilah ash-Shahihah, dan beliau berkata,“Sanad-sanad hadits ini shahih sesuai dengan syarat asy-Syaikhain (1/611) (no. 344).
Dan, jika seseorang lupa mengucapkan bismilaah sebelum makan kemudian ia teringat ketika ia tengah makan, maka hendaklah ia mengucapkan, “Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu,” atau mengucapu kan “Bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihi.”
Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ummul Mukminin bahwa Rasulullah bersabda:
إذا أكل أحدكم فليذكر اسم الله تعالى فإن نسي أن يذكر اسم الله تعالى في أوله فليقل : بسم الله أوله و آخره
“Apabila salah seorang di antara kalian makan hendaklah ia menyebut nama Allah. Dan, jika ia lupa menyebut nama Allah di awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan, Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu (dengan menyebut nama Allah di awal dan akhim ya).” HR. Abu Dawud (no. 3767), dan lafazh di atas adalah lafazh Abu Dawud, Syaikh al.. Albani menshahihkannya. Juga diriwayatkan oleh Ahmad (no. 2558), at-Tirmidzi (no. 1858), lbnu Majah (no. 3264) dan aid-Darimi (no. 2020).
Adapun ucapan hamdalah setelah makan atau minum, maka ucapan ini memiliki keutamaan yang sangat agung, yang Allah anugerahkan kepada seluruh hamba-Nya. _
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
إن الله ليرضى عن العبد أن يأكل الأكلة فيحمده عليها أو يشرب الشربة فيحمده عليها
“Sesungguhnya Allah meridhai seorang hamba yang setelah memakan suatu makanan ia mengucapkan “alhamdulillaah.” Dan setelah meminum suatu minuman ia pun mengucapkan “alhamdulillaah.” HR. Muslim (no. 2734), Ahmad (no. 11562) dan at-Tirmidzi (no. 1816).
Lafazh pujian kepada Allah (hamdalah) setelah makan dan minum bermacam-macam, di antaranya:
الحمد لله كثيرا طيبا مباركا فيه غير مكفي ولا مودع ولا مستغنى عنه ربنا
“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah yang senantiasa dibutuhkan,diperlukan dan tidak bisa ditinggalkan, wahai Rabb kami. ”
Atau:
الحمد لله الذي كفانا وأروانا غير مكفي ولا مكفور
“Segala puji bagi Allah yang telah mencukupi dan memuaskan kami yang senantiasa dibutuhkan dan tidak diingkari.”
Abu Umamah meriwayakan bahwa apabila Nabi telah selesai makan, beliau sekali waktu mengucapkan,“Alhamdulillaahi katsiiran mubaarakan fiihi ghaira makfiyyin wa laa muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu Rabbana.” HR. Al-Bukhari (no. 5459) dan lafazh di atas adalah lafazh al-Bukhari, Ahmad (no. 21664), at-Tirmidzi (no. 3456), Abu Dawud (no. 3849), Ibnu Majah (no. 3284). ad“ Darimi (no. 2023) dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 2828).
Atau:
الحمد لله الذي أطعمني هذا ورزقنيه من غير حول مني ولا قوة
“Segala Puji bagi Allah yang telah memberiku makan ini dan yang telah memberiku rizki tanpa daya dan kekuatan dariku.”
Diriwayatkan dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya, ia berkata,“Rasulullah bersabda:
من أكل طعاما فقال : الحمد لله الذي أطعمني هذا ورزقنيه من غير حول مني ولا قوة غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barangsiapa yang memakan makanan, kemudian ia mengucakan, Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa razaqaniihi min ghairi haulin minnii walaa quwwatin,” maka diampunilah segala dosanya yang telah lalu.” HR. At-Tirmidzi (no. 3458), dan ia berkata, “Hadits ini hasan gharib.” lbnu Majah (no. 3285) dan Syaikh al-Albani menghasankannya (no. 3348).
Atau:
الحمد لله الذي أطعم وسقى وسوغه وجعل له مخرجا
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan, minum, memudahkan masuknya ke dalam tenggorokan dan memberi jalan keluar kepada makanan dan minuman tersebut.”
Abu Ayyub al-Anshari meriwayatkan, ia berkata,“Jika Rasulullah telah makan atau minum, beliau mengucapkan, ‘Alhamdulillaahilladzii , ath’ama wa saqaa wa sawwaghahu wa ja’ala lahu makhrajan.” HR Abu Dawud (no. 3851), Syaikh al-Albani mengatakan, “Shahih.
Atau:
أللهم أطعمت وأسقيت وأغنيت وأقنيت وهديت وأحييت فلك الحمد على ما أعطيت
“Ya Allah, Engkau telah memberi makan, minum, kekayaan, kecukupan, hidayah dan kehidupan. Maka, segala puji bagi-Mu atas apa yang telah Engkau berikan. ”
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Jubair bahwa seseorang yang telah melayani Rasulullah selama delapan tahun menceritakan kepadanya, ia telah mendengar bahwa apabila Rasulullah disodori makanan, beliau mengucapkan, “Bismillaah, ” dan apabila beliau telah selesai memakannya beliau mengucapkan, “Allaahumma ath’amta wa asqaita wa aghnaita wa hadaita wa ahyaita falakal hamdu ‘alaa maa a’thaita.” Syaikh al-Albani mengatakan dalam as-Silsilah ash-Shahihah (1/111), “HR. Ahmad (IV/62, V/375) dan Abusy Syaikh dalam Akhlaqun Nabi, kemudian beliau menyebutkan sanadnya dan mengatakan, “Sanad ini shahih, semua rawinya tsiqat dan merupakan para perawi yang digunakan oleh Muslim”
Faidah: Disukai menggunakan lafazh-lafazh hamdalah yang tercantum dalam Sunnah setelah makan. Sesekali mengucapkan satu lafazh dan sesekali mengucapkan lafazh lainnya, sehingga dengan demikian ia telah menjaga Sunnah dari setiap sisinya. Dan, dia akan mendapat berkah dari doa-doa ini. Bersamaan dengan itu seseorang akan merasakan dalam hatinya kehadiran makna-makna dari doa-doa ini ketika ia mengucapkan lafazh yang satu sekali waktu dan lafazh lainnya di waktu lainnya. Karenakan jika hati seseorang telah terbiasa dengan perkara tertentu-seperti berulang-ulang menyebutkan dzikir tertentu-maka dengan banyaknya pengulangan, biasanya kehadiran makna-makna dari doa tersebut akan semakin berkurang karena seringnya diulang.
Faidah lainnya: Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
من أطعمه الله طعاما فليقل : أللهم بارك لنا فيه وارزقنا خيرا منه،ومن سقاه الله لبنا فليقل : اللهم بارك لنا فيه وزدنا منه فإني لا أعلم ما يجزئ من الطعام والشراب إلا اللبن
“Barangsiapa yang Allah telah memberi makanan kepadanya, hendaklah ia mengucapkan, ‘Allaahumma baarik lanaa warzuqnaa khairan minhu (ya Allah, berikanlah berkah kepada kami di dalamnya dan berilah kami kebaikan darinya).’ Dan barangsiapa yang Allah telah memberinya minum susu, hendaklah ia mengucapkan, ‘AlIaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu (ya Allah, berikanlah kepada kami berkah di dalamnya dan berilah tambahan darinya) karena sesungguhnya aku tidak mengetahui ada makanan dan minuman yang akan memuaskan kecuali susu. ” HR. At-Tirmidzi (no. 3455), dan ia berkata, “Hadits ini hasan shahih,” dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (no. 3322) dan Syaikh al-Albani meng’ hasankannya (no. 3385).
6. Makan dan Minum dengan Tangan Kanan dan Larangan Menggunakan Tangan Kiri
Sebelumnya telah disebutkan sabda Nabi kepada ‘Umar bin Abi Salamah:
يا غلام سم الله وكل بيمينك وكل مما يليك
“Wahai anak muda, makanlah dengan mengucap ‘Bismillaah,’ makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang terdekat denganmu.” HR. Al-Bukhari (no. 5376) dan lafazh di atas adalah lafazh riwayat beliau, Muslim (no. 2022), Ahmad (no. 15895), Abu Dawud (no. 3777), lbnu Majah (no. 3267), Malik (no. 1738) dan ad-Darimi (no. 2045).
Dan, dari hadits Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah bersabda:
لا تأكلوا بالشمال فإن الشيطان يأكل بالشمال
“Janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena sesungguhnya setan makan dengan tangan kiri.” HR. Muslim (no. 2020) dan lafazh di atas adalah lafazh riwayat beliau, Ahmad (no. 14177), lbnu Majah (no. 3268) dan Malik (no. 1711).
Dan, disebutkan dalam hadits ‘Umar bahwa Rasulullah bersabda:
إذا أكل أحدكم فليأكل بيمينه وإذا شرب فليشرب بيمينه فإن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila ia minum hendaklah ia minum dengan tangan kanannya. Karena, sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” HR. Muslim (no. 2020), Ahmad (no. 4523), at-Tirmidzi (no. 1800), Abu Dawud (no. 3776), Malik (no. 1712) dan ad-Darimi (no. 2020).
lbnul Jauzi mengatakan, “Ketika tangan kiri digunakan untuk beristinja dan menyentuh sesuatu yang najis, sementara tangan kanan digunakan untuk mengambil makanan, maka tidaklah dibenarkan jika salah satu dari keduanya digunakan untuk melakukan Pekerjaan tangan lainnya, karena hal ini termasuk merendahkan sesuatu yang memiliki kedudukan serta meninggikan sesuatu yang seharusnya direndahkan. Barangsiapa yang menyalahi tuntunan hikmah syara’ maka berarti dia telah menyepakati setan.” Kasyful Musykil (ll/594) (no. 1227).
Sedangkan hadits-hadits tersebut dalam permasalahan ini merupakan hadits-hadits masyhur yang tidak lagi tersembunyi bagi kebanyakan orang, hanya saja sebagian kaum muslimin-semoga Allah memberi mereka hidayah-masih saja bersikeras dengan sifat tercela ini, yaitu makan dan minum dengan menggunakan tangan kiri. Dan, jika dikatakan kepada mereka tentangnya, mereka menjawab, “Hal ini telah menjadi kebiasaan kami dan sangat sulit bagi kami untuk merubahnya.” Demi Allah, sesungguhnya jawaban ini merupakan kemilau rayuan setan kepada mereka, dan penghalang bagi mereka untuk mengikuti syara’. Dan, secara umum, ini merupakan bukti akan kurangnya keimanan dalam hati mereka. Jika tidak kurang maka apa makna dari penyelisihan mereka terhadap perintah Rasulullah dan larangan beliau ini!
Dan, lebih buruk dan lebih keji dari itu, bahwa mereka melakukannya dengan kesombongan dan keangkuhan.
Salamah bin al-Akwa’ meriwayatkan bahwa seseorang makan di sisi Rasulullah dengan tangan kirinya. Maka, beliau bersabda,“Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu berkata,“Aku tidak sanggup.” Beliau bersabda,“Engkau tidak sanggup?! Tidak ada yang menghalangimu selain kesombongan.” Maka dia pun tidak sanggup mengangkat tangannya ke mulutnya.
Dalam riwayat Ahmad, “Maka dia tidak sanggup lagi mengangkat tangan kanannya ke mulutnya selamanya.” HR. Muslim (no. 2021) dan Ahmad (no. 16064)
Imam an-Nawawi mengatakan,“Hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang mendoakan siapa saja yang menyalahi hukum syara’ tanpa adanya udzur. Dan, hadits ini juga menunjukkan perintah untuk menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar di setiap keadaan hingga di saat makan sekalipun. Dan, disukai mengajarkan adab-adab makan kepada seseorang yang makan jika dia menyalahinya. Syarh Shahih Muslim (jilid Vll) (XIV/161).
Peringatan: Apabila ada udzur menggunakan tangan kanan untuk makan seperti karena sakit atau luka dan selainnya, maka tidak mengapa makan dengan menggunakan tangan kiri. Dan, Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.
7. Memakan Makanan yang Terdekat
Disebutkan dalam salah satu riwayat dari ‘Umar bin Abi Salamah bahwa ia berkata, “Aku makan bersama Rasulullah pada suatu hari, lalu aku mengambil daging yang ada di seberang piring. Maka, Rasulullah bersabda,“Makanlah makanan yang terdekat denganmu.” HR Muslim (no. 2022), takhrijnya telah disebutkan sebelumnya.
Sebab dari larangan itu adalah karena apa yang dia lakukan dengan mengambil makanan dari tempat orang lain merupakan adab yang jelek. Dan, orang-orang yang makan bisa saja merasa jijik atas perbuatan ini, dan perbuatan ini banyak terjadi.
Akan tetapi, mungkin saja ada yang menyanggah apa yang kami katakan ini dan dia berkata,“Lalu apa yang kalian katakan tentang hadits Anas, di mana ia berkata,Sesungguhnya seorang penjahit mengajak Rasulullah untuk menyantap makanan sajiannya, maka aku berangkat bersama Nabi Lalu ia menyuguhkan roti dari tepung dan maraq-kuah daging-yang bercampur labu dan dendeng. Aku melihat Rasulullah mengambil labu yang ada di seberang piring.” HR. Al-Bukhari (no. 5436) dan lafazh di atas adalah lafazh riwayat al-Bukhari, Muslim (no. 2041), Ahmad (no. 12219), at-Tirmidzi (no. 1850), Abu Dawud (no. 3782), Malik (no. 1161) dan ad-Darimi (no. 2050). Ad-diba adalah sejenis buah sebesar labu. Disebutkan dengan tegas dalam riwayat Ahmad, ia berkata, “Semangkuk labu disuguhkan ke hadapan Nabi” Ia berkata, “Dan beliau sangat menyukai labu.” Ia berkata, “Dan beliau mencicipi labu dengan jari atau dengan jari jemari beliau.” Sedangkan aI-qadid adalah daging yang diberi garam kemudian dikeringkan di bawah terik matahari.
Jawaban atas sanggahan ini bahwa kedua hadits ini tidak saling bertentangan, dan kami menjawabnya sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abdil Barr,“Sesungguhnya al-maraq, al-idam dan makanan lain yang terdiri dari dua jenis atau banyak, maka dibolehkan menjulurkan tangan untuk mengambilnya, karena bolehnya memilih makanan yang dihidangkan di meja makan…” Kemudian ia berkata, mengomentari sabda beliau “Dan makanlah dari makanan yang terdekat denganmu,” “Dan sesungguhnya beliau memerintahkan kepadanya untuk makan dari makanan yang terdekat, karena makanan yang ada waktu itu hanya satu jenis. Wallahu a’lam. Demikianlah yang ditafsirkan oleh para ulama.Dengan demikian jelaslah penyesuaian kedua hadits tersebut, Wallahul Muwaffiq. ‘
8. Disukai (Memulai) Makan dari Pinggiran Piring, Bukan dari Atasnya
Disebutkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi bersabda,“Apabila salah seorang dari kalian memakan suatu makana,maka janganlah ia makan pada bagian atasnya, akan tetapi hendaklah ia makan pada bagian pinggirnya, karena sesungguhnya keberkahan itu turun dari bagian atasnya.”
Dalam riwayat Ahmad disebutkan, “Makanlah kalian pada bagian pinggir piring, dan janganlah kalian makan dari bagian tengahnya, karena berkah turun pada bagian tengahnya.” HR. Abu Dawud (no. 3772), lafazh hadits di atas adalah lafazh riwayat Abu Dawud, Ahmad” (no. 2435), at-Tirmidzi (no. 1805), dan beliau berkata, “Hadits ini hasan Shahih”, lbnu Majah (no. 3277) dan aid-Darimi (2046)
Bagian tengah diberi kekhususan dengan turunnya berkah, karena tempat itu adalah tempat paling adil. Dan, sebab dari larangan tersebut agar seseorang yang makan tidak terharamkan baginya berkah yang berada di bagian tengah. Juga termasuk dalam hadits ini apabila yang orang makan lebih dari seorang (dengan berjama’ah), karena seseorang di antara mereka yang terlabih dahulu mengambil di bagian tengah makanan sebelum bagian pinggirnya, maka ia telah melakukan adab yang jelek kepada mereka dan mementingkan diri sendiri dibanding mereka untuk sesuatu yang baik. Wallahu a’lam.Lihat ‘Aunul Ma’bud (jilid V (X/177)).
9. Disunnahkan Makan dengan Tiga Jari dan Menjilati Jari-Jemari Setelah Makan
Di antara Sunnah Nabi bahwa beliau makan dengan menggunakan tiga jari, dan menjilatinya setelah makan. Disebutkan dalam hadits Ka’b bin Malik, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika Rasulullah makan beliau menggunakan tiga jari dan menjilatinya sebelum mengelap (membersihkan)nya. HR. Muslim (no. 2032), Ahmad (no. 26626), Abu Dawud (no. 3848) dan acl-Darimi (no. 2033).
Ibnul Qayyim mengatakan,“Hal ini dikarenakan makan dengan satu atau dua jari tidak akan menjadikan seseorang menikmati makanannya dan tidak pula memuaskannya serta tidak membuatnya kenyang kecuali setelah lama berselang dan tidak pula memberi rasa enak terhadap organ mulut dan pencernaan dengan apa yang masuk kedalamnya dari setiap makanan… Sedangkan makan dengan lima jari dan telapak tangan akan menyebabkan makanan memenuhi organ mulut dan juga pencernaan. Dan, terkadang akan menyumbat saluran makan serta memaksakan organ-organ makan untuk mendorongnya dan akibatnya pencernaan akan terbebani. Dia tidak akan merasakan kelezatan dan juga kepuasan. Dengan begitu maka cara makan yang paling baik adalah cara makan Rasulullah dan cara makan yang meneladani beliau, yaitu dengan menggunakan tiga jari.” Zadul Ma’ad (lV/222), dengan sedikit perubahan.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi bersabda:
إذا أكل أحدكم فلا يمسح يده حتى يلعقها أو يلعقها
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka janganlah ia membasuh tangannya hingga ia menjilatinya atau dijilatkan kepada orang lain.”
Dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud disebutkan:
فلا يمسح يده بالمنديل حتى يلعقها أو يلعقها
“Maka janganlah ia mengelap tangannya dengan serbet, hingga ia menjilatinya atau dijilatkan kepada orang lain.” HR. Al-Bukhari (no. 5456), Muslim (no. 2031), Ahmad (no. 3224), Abu Dawud (no. 3847), Ibnu Majah (no. 3269) dan ad-Darimi (no. 2026).
Dan, hikmah diperintahkannya hal itu diterangkan dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah bahwa Nabi memerintahkan untuk menjilat jari dan piring makanan. Beliau bersabda,“Sesungguhnya kalian tidak tahu di mana keberkahan itu ada.” HR. Muslim (no. 2033) dan lafazh hadits di atas adalah lafazh beliau, Ahmad (no. 13809), dan Ibnu Majah (no. 3270).
Dan, pada sabda beliau,“Sesungguhnya kalian tidak tahu di mana keberkahan itu ada,” maknanya-wallahu a’lam-bahwa makanan yang ada di hadapan seseorang mengandung berkah, dan ia tidak mengetahui apakah keberkahan itu ada pada makanan yang telah dimakannya, atau pada (bekas) makanan yang tersisa di jari-jemarinya, atau yang tersisa di bagian bawah piring, atau pada butiran makanan yang terjatuh. Maka, sepatutnyalah seseorang menjaga semua ini agar ia mendapatkan berkah. Dan, arti suatu berkah adalah tambahan dan kebaikan yang selalu ada serta senantiasa dirasakannya. Dan, yang dimaksudi di sini-wallahu a’lam-adalah makanan yang dapat mengenyangkan, dan akhirnya memberi keselamatan dari segala gangguan serta memperkuat ketaatan kepada Allah, dan lain sebagainya. Demikian yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi. Syarh Muslim (jilid Vll (XIII/172”.
10.Disunnahkan Mengambil Butiran Makanan yang Terjatuh, Mengelap Kotoran yang Menempel Padanya Lalu Memakannya
Dijelaskan dalam riwayat Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata,“Rasulullah bersabda:
إذا وقعت لقمة أحدكم فليأخذها فليمط ما كان بها من أذى وليأكلها ولا يدعها للشيطان…
“Apabila butiran makanan seseorang di antara kalian terjatuh, hendaklah ia mengambilnya, lalu membersihkan kotoran yang menempel kemudian memakannya, dan janganlah ia membiarkannya sebagai makanan setan .. .. ‘” (Al-hadits)
Dalam riwayat lain disebutkan:
إن الشيطان يحضر أحدكم عند كل شيء من شأنه حتى يحضره عند طعامه فإذا سقطت من أحدكم اللقمة فليمط ما كان بها من أذى ثم ليأكلها ولا يدعها للشيطان فإذا فرغ فليلعق أصابعه فإنه لا يدري في أي طعامه تكون البركة
11. Larangan Mengambil Dua Kurma Secara Bersamaan
Larangan ini berlaku bagi jama’ah, bukan bagi orang yang makan sendiri. Dan, ada beberapa hadits shahih yang menerangkan hal ini. Diantaranya dari jalan Syu’bah, dari Jabalah, ia berkata,“Kami pernah berada di Madinah bersama beberapa penduduk Irak, dan paceklik telah menimpa kami. Maka, lbnuz Zubair memberikan kurma kepada kami. Kemudian Ibnu ‘Umar melewati kami dan berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah telah melarang seseorang mengambil kurma lebih dari satu secara bersamaan, kecuali jika seseorang di antara kalian telah meminta izin kepada saudaranya.”
Ibnul Jauzi mengatakan dalam aI-Musykil,“Adapun hukum hadits tersebut, bahwa hal ini berlaku kepada jama’ah beberapa orang. Dan, kebiasaan yang berlaku adalah mengambil kurma satu persatu. Apabila seseorang mengambilnya bersamaan maka hal itu akan menjadikan jatah mereka berkurang dan akan berpengaruh terhadap mereka. Oleh karena itu dibutuhkan izin dari mereka.”
Larangan dalam hadits ini bisa menunjukkan pengharaman dan bisa juga makruh, dan masing-masing hukumnya telah disebutkan oleh para ulama. Imam an-Nawawi berpendapat bahwa hal ini memerlukan rincian, ia mengatakan, “Yang benar bahwa hal ini perlu dirinci. Apabila makan tersebut dihidangkan kepada mereka secara bersamaan, maka mengambil lebih dari satu diharamkan, kecuali jika mereka meridhainya, dan keridhaan ini didapat dengan pernyataan mereka yang jelas, atau apa yang serupa dengan pernyataan tersebut, baik berupa indikasi keadaan atau isyarat dari mereka semua, di mana bisa diketahui dengan pasti atau dengan dugaan yang kuat bahwa mereka meridhainya. Selama ia ragu terhadap keridhaan mereka, maka hukumnya haram. Dan, apabila makanan tersebut dihidangkan untuk selain mereka atau untuk salah seorang dari mereka maka keridhaannya hanya dari orang tersebut. Apabila ia mengambilnya tanpa keridhaannya maka hukumnya haram, dan disukai meminta izin kepada orang-orang yang menyertainya makan, namun hal ini tidak wajib. Dan, apabila makanan tersebut untuk dirinya sendiri dan ia menjamu mereka sebagai tamu, maka tidak diharamkan mengambil lebih dari satu secara bersamaan. Kemudian apabila jumlah makanan tersebut sedikit maka disukai untuk tidak mengambil lebih dari satu secara bersamaan agar jatah mereka sama. Dan, apabila jumlahnya banyak yang melebihi jumlah mereka maka tidak mengapa mengambilnya lebih dari satu sekaligus. Akan tetapi, adab ini berlaku secara mutlak dan termasuk kesopanan dalam tata cara makan serta meninggalkan sikap rakus, kecuali karena tergesa-gesa dan terburu-buru dikarenakan adanya kesibukan lain,”
Masalah: Apakah jenis-jenis makanan lain yang bisa diambil satu persatu dapat dikiaskan dengan kurma?
Jawab: Ya, ia bisa dikiaskan kepada kurma jika kebiasaan yang berlaku memang makanan tersebut diambil satu demi satu. lbnu Taimiyah mengatakan, “Dan larangan mengambil sekaligus lebih dari satu bisa dikiaskan kepada semua makanan yang memang kebiasaannya diambil satu per satu.”
12.Disukai Memakan Suatu Makanan Setelah Makanan Tersebut Tidak Terasa Panas (Hangat/Dingin)
Diriwayatkan dari Asma binti Abi Bakar bahwa apabila ia membuat tsarid-sejenis makanan-ia menutupnya dengan sesuatu hingga tidak mendidih, lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya hal seperti ini lebih besar berkahnya.” HR. Ad-Darimi (no. 2047), dan Syaikh al-Albani memasukkan hadits ini ke dalam Silsilah ash-Shahihah (no. 392), dan juga Ahmad (no. 26418).
Abu Hurairah berkata, “Janganlah seseorang menyantap makanan hingga panasnya hilang.” Syaikh al-Albani mengatakan dalam Irwa’ul Ghalil (no. 1978), “Shahih, diriwayatkan oleh al-Baihaqi (Vii/2580)”
Dan, Nabi tidak menyantap makanan ketika makanan itu masih sangat panas. Demikian yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim.Dan makna yang paling tepat dari kalimat berkah dalam hadits ini adalah mengenyangkan, tidak merasa sakit setelah memakannya, menguatkan ketaatan kepada Allah dan lain sebagainya. Demikian yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi. Zadul Ma’ad (IV/233). 525 Syarh Muslim (jilid Vll (Xiu/172)).
13. Larangan Mencela Makanan dan Menghina/Merendahkannya
Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata,“Rasulullah tidak mencela makanan meski sekali saja. Apabila beliau
menghendaki suatu makanan maka beliau memakannya, dan apabila beliau tidak menyukainya maka beliau meninggalkan (tidak memakan)nya.” HR. Al-Bukhari (no. 5409), Muslim (no. 2064), Ahmad (no. 9882), at-Tirmidzi (no. 2031), Abu Dawud (no. 3763), Ibnu Majah (no. 3259) dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 2843).
Mencela makanan di antaranya dengan mengatakan, “Terlalu asin, kurang asin, kecut, tipis, keras, kurang matang,” dan lain sebagainya, seperti yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi. Syarh Muslim (jilid VII (Xin/22)).
Dan, sebab larangan itu karena makanan adalah ciptaan Allah yang tidak boleh dicela. Alasan lainnya bahwa mencela makanan akan menyakiti perasaan pembuat makanan sehingga ia akan merasa sedih dan tersinggung karena dialah yang menyiapkan dan menyajikannya. Maka, dari itu Nabi menutup pintu ini agar jangan sampai rasa sedih mendapati pintu untuk masuk ke dalam hati seorang muslim. Dan, syari’at Islam selalu datang dengan hal seperti ini.
Masalah: Apakah hadits ini bertentangan dengan keengganan Nabi untuk memakan dhabb (kadal gurun) HR. Al-Bukhari (no. 5537), Muslim (no. 1946), Ahmad (no. 2678), an-Nasa“i (no. 4316), Abu Dawud (no. 3794), Ibnu Majah (no. 3241), Malik (no. 1805) dan “’ Darimi (no. 2087). Dan apakah sabda beliau tentang dhabb, yaitu “Aku merasa kasihan kepadanya, ” dan dalam riwayat lain, “Aku sama sekali tidak memakan daging seperti ini, ” tergolong mencela makanan?
Jawab: Tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut. Dan, sabda Nabi tentang dhabb tidak tergolong mencela makanan. Sabda beliau ini tidak lain merupakan pemberitahuan akan sebab mengapa beliau tidak memakannya. Yaitu, beliau tidak menyukai makanan jenis ini dan bukan kebiasaan beliau memakannya. Imam an-NaWawi mengatakan, “Adapun hadits yang menyebutkan bahwa Nabi meninggalkan memakan dhabb tidak termasuk mencela makanan, melainkan merupakan pemberitahuan bahwa ini adalah makanan khusus yang beliau tidak menyukainya.” Syarh Muslim (jilid vu (XIV/22 )).
14. Hukum Minum dan Makan Sambil Berdiri
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum minum sambil berdiri. Dan, perbedaan pendapat di antara mereka bermuara pada sejumlah hadits shahih yang secara zhahir bertentangan. Sebagian di antara hadits-hadits tersebut menerangkan larangan minum sambil berdiri, sedangkan sebagian lainnya adalah sebaliknya. Dan, kami akan bawakan sebagian di antaranya:
Pertama, hadits-hadits tentang larangan minum sambil berdiri:
1. Anas meriwayatkan bahwa Nabi melarang minum sambil berdiri. Dan, dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Nabi melarang seseorang minum sambil berdiri. HR Muslim (no. 2024), Ahmad (no. 11775), at-Tirmidzi (no. 1879), Abu Dawud (no. 3717), lbnu Majah (no. 3424) dan ad-Darimi (no. 2127).
2., Dari Abu Sa id al-Khudri, ia berkata,“Bahwa Nabi melarang minum sambil berdiri.” HR. Muslim (no. 2025), Ahmad (no. 10885) dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 3045).
3. Dari Abu Hurairah, ia berkata,“Rasulullah bersabda:
لا يشربن أحد منكم قائما فمن نسي فليستقئ

“Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Barangsiapa yang lupa, maka hendaklah ia memuntahkannya.” HR. Muslim (no. 2026), Ahmad (no. 8135), tanpa lafazh, “Hendaklah ia memuntahkannya.”
Kedua, hadits-hadits tentang bolehnya minum sambil berdiri:
1. Dari lbnu ‘Abbas, ia berkata, “Aku menuangkan minum kepada Rasulullah dari air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.” HR Al-Bukhari (no. 1637), Muslim (no. 2027), Ahmad (no. 1841),at-Tirmidzi (no. 1882). an-Nasa“i (no. 2964) dan Ibnu Majah (no. 3422).
2. Dari an-Nazzal, ia berkata, “Ali datang (ke Masjidil Haram) menuju pintu ar-Rahbah lalu ia minum sambil berdiri. ia berkata, ‘Sesungguhnya beberapa orang tidak menyukai jika salah seorang dari mereka minum sambil berdiri. Dan, sungguh aku telah melihat Rasulullah melakukannya sebagaimana kalian telah melihatku melakukannya. Dalam riwayat Ahmad disebutkan, “la berkata, ‘Bagaimana pendapat kalian jika aku minum sambil berdiri, karena sungguh aku telah melihat Nabi minum sambil berdiri. Dan, jika aku minum sambil duduk, sungguh aku telah melihat Nabi minum sambil duduk)” HR. Al-Bukhari (no. 5615), Ahmad (no. 797), an-Nasa’i (no. 130) dan Abu Dawud (no. 3718).
3. Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,“Di zaman Rasulullah kami minum sambil berdiri dan kami makan sambil berjalan.” HR. Ahmad (no. 4587), lbnu Majah (no. 3301), Syaikh al-Albani menshahihkannya (no. 3364), dan ad-Darimi (no. 2125)
4. Atsar dari ‘Aisyah dan Sa’d bin Abi Waqqash bahwa keduanya membolehkan seseorang minum sambil berdiri. Ibnu ‘Umar dan lbnuz Zubair pun terlihat minum sambil berdiri. Al-Muwaththa“ (no. 1720, 1721, 1722).
Berdasarkan dalil-dalil ini yang secara zhahir bertentangan dengan dalil-dalil sebelumnya, maka para ulama berselisih dalam menentukan hukumnya. Pendapat yang paling tepat menurut saya adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya, beliau mengatakan, “Akan tetapi menyatukan hadits-hadits tersebut adalah dengan menyatakan adanya keringanan di saat memiliki udzur. Hadits-hadits serupa yang menyebutkan larangan minum sambil berdiri tercantum dalam ash-Shahih seperti, “Bahwa Nabi melarang minum sambil berdiri.” Tentangnya diriwayatkan dari Qatadah, dari Anas bahwa Nabi melarang minum sambil berdiri. Qatadah berkata, “Kami bertanya, bagaimana dengan makan?” Ia berkata, “Hal itu lebih buruk dan jelek.”
Adapun hadits-hadits yang memberi keringanan, seperti hadits yang diriwayatkan dalam ash-Shahihain dari ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Nabi minum dari air zamzam sambil berdiri.” Dan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ‘Ali bahwa ‘Ali berada di tanah lapang yang berpasir dan ia minum sambil berdiri. Kemudian ia berkata, “Sesungguhnya manusia dimakruhkan minum sambil berdiri, dan Rasulullah pernah melakukan seperti apa yang aku lakukan.” Dan hadits ‘Ali ini di dalamnya telah diriwayatkan sebuah atsar yang menyebutkan bahwa Rasulullah melakukannya ketika meminum air zamzam, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas. Hal ini dilakukan ketika melaksanakan haji, dan orang-orang di sana melaksanakan thawaf dan minum dari air zamzam. Mereka minum dan memintanya, dan di tempat itu tidak ada tempat untuk duduk. Hal ini beliau lakukan selang waktu sedikit sebelum beliau wafat. Maka, jadilah hal ini dan yang semisalnya termasuk hal yang dikecualikan darinya sebagai larangan. Perkara ini diambil dari perkara syari’at bahwa jarangan dari sesuatu menjadi dibolehkan ketika adanya hajat, bahkan hukum pembolehannya lebih ditekankan dari sekadar dibolehkan ketika ada hajat. Demikian pula perkara haram yang memang diharamkan untuk dimakan dan diminum, seperti bangkai dan darah, akan menjadi boleh dalam keadaan darurat. Al-Fatawa (XXXII/209.210).
15. Dimakruhkan Bernafas Dalam Bejana dan Meniup ke Dalamnya
Termasuk adab-adab ketika minum adalah seseorang yang minum sebaiknya tidak bernafas dalam bejana dan tidak pula meniupnya. Hadits-hadits yang shahih telah menerangkannya, di antaranya adalah sabda Nabi yang diriwayatkan dari Abu Qatadah, beliau bersabda:
إذا شرب أحدكم فلا يتنفس في الإناء…
“Apabila salah seorang di antara kalian minum, maka janganlah ia bernafas dalam bejana… (Al-hadits). HR. Al-Bukhari (no. 5630), Muslim (no. 267), Ahmad (no. 22059), at-Tirmidzi (no. 1889), an-Nasa“i (no. 47), dan Abu Dawud (no. 31).
Dan, di antaranya adalah hadits dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi melarang seseorang bernafas dalam bejana dan meniupnya. HR At-Tirmidzi (no. 1888), dan ia berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Abu Dawud (no. 3728), dan syaikh al-Albani menshahihkannya, Ibnu Majah (no. 3429) tanpa lafazh at-tanaffus.Larangan bernafas dalam bejana ini termasuk salah satu adab yang mana jika dilakukan dikhawatirkan akan mengotorinya dan menjadikannya berbau busuk serta terjatuhnya sesuatu dari mulut dan hidung ke dalam bejana dan sejenisnya. Demikian yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi. Syarh Shahih Muslim (jilid ll (III/130)).

Adapun meniup minuman, maka akan terhembus dari mulut orang yang meniup bau tidak sedap yang memuakkan. Terlebih lagi jika orang yang meminumnya banyak dan bergantian, maka nafas-nafas orang yang minum itu akan tercampuraduk. Oleh karena itu Rasulullah menggabungkan antara larangan bernafas dalam bejana dengan meniupnya. Demikian menurut pendapat Ibnul Qayyim. Zadul Ma’ad (IV/235).
16. Disunnahkan Mengambil Nafas Sebanyak Tiga Kali (Setiap Satu Tegukan) Ketika Minum (di Luar Bejana/Gelas), dan Bolehnya Minum dengan Sekali Tegukan
Disebutkan dalam hadits Anas bin Malik, ia berkata,“Rasulullah biasanya mengambil nafas sebanyak tiga kali ketika minum, dan beliau bersabda, ‘Sesungguhnya ia akan lebih menghilangkan rasa dahaga, lebih bebas dan lebih bermanfaat.” Anas berkata,“Maka aku mengambil nafas tiga kali (setiap satu tegukan) ketika minum.” HR. Al-Bukhari (no. 45631), Muslim (no. 2028) dan lafazh di atas adalah lafazh Muslim, Ahmad (no. 11776), at-Tirmidzi (no. 1884), Ibnu Majah (no. 3416), dan adDarimi (no. 2120). lbnu Majah dan at-Tirmidzi tidak menyebutkan potongan kedua dalam hadits tersebut.
Yang dimaksud dengan mengambil nafas ketika minum sebanyak tiga kali adalah dengan menjauhkan bejana air dari mulut orang yang minum, lalu ia mengambil nafas, karena mengambil nafas di dalam bejana merupakan sesuatu yang dilarang.
Dan, dibolehkan minum dengan sekali tegukan, dan tidak termasuk sesuatu yang dimakruhkan. Hal ini ditunjukkan oleh hadits dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa ia mengunjungi Marwan bin al-Hakam,dan ia berkata kepadanya, “Apakah engkau telah mendengar bahwa Rasulullah telah melarang menghembuskan nafas di dalam bejana air?” Abu Sa’id berkata, “Benar.” Maka seseorang berkata,“Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahagaku tidak hilang hanya dengan sekali nafas.” Lalu Rasulullah bersabda, “Jauhkanlah cerek air dari mulutmu kemudian ambillah nafas.” Orang itu berkata, “Aku melihat ada kotoran dalam cerek tersebut.” Beliau bersabda, “Maka buanglah.” HR. At-Tirmidzi (no. 1887), dan ia berkata, “Hadits ini hasan shahih,” Ahmad (no. 10819), Malik (no. 1718) dan lafazh di atas adalah lafazh Malik, dan ad-Darimi (no. 2121).
Imam Malik mengatakan, “Aku melihat dalam masalah ini terdapat keringanan, yaitu tidak mengapa seseorang minum hanya dengan mengambil nafas satu kali. Dan, aku melihat rukhshah ini berdasarkan penjelasan yang ada dalam hadits, “Sesungguhnya dahagaku tidak hilang hanya dengan sekali nafas. At-Tamhid karya lbnu “Abdil Barr (1/392). “5 Al-Fatawa (xxxn/zo9).
Syaikhul Islam mengatakan, “Hadits di atas menerangkan bahwa sekiranya rasa dahaganya telah hilang hanya dengan sekali nafas dan tidak diperlukan lagi mengambil nafas, maka hal ini dibolehkan. Dan, aku tidak mengetahui ada imam yang mewajibkan mengambil nafas tiga kali dan mengharamkan minum hanya dengan sekali nafas.”
17. Dimakruhkan Minum dari Mulut Bejana (Cerek) Air
Dalam masalah ini ada beberapa hadits shahih, di antaranya dari Abu Hurairah, ia berkata,“Rasulullah melarang minum dari mulut qirbah-sejenis botol tempat menyimpan air yang terbuat dari kulit-dan cerek, dan beliau melarang tetangganya menancapkan kayu di dindingnya.” HR. Al-Bukhari (no. 5627), Ahmad (no. 7113) tanpa penggalan kedua hadits di atas. Dan, Ahmad meriwayatkan penggalan kedua hadits di atas di tempat lainnya. Juga diriwayatkan oleh Muslim (no. 1609), at-Tirmidzi (no. 1353), Abu Dawud (no. 3634), Ibnu Majah (no. 2335), Malik (no. 1462) dan semuanya menyebutkan penggalan kedua dari hadits di atas selain penggalan pertama.
Dan, dari Ibnu ‘Abbas ia berkata,“Nabi telah melarang seseorang minum di mulut bejana.” HR. Al-Bukhari (no. 5629), Ahmad (no. 1990), at-Tirmidzi (no. 1825), an-Nasa“i (no. 4448), Abu Dawud (no. 3719), lbnu Majah (no. 3421) dan ad-Darimi (no. 2117).
Kedua hadits di atas mengandung larangan yang sangat jelas minum di mulut qirbah dan cerek. Dan, yang seharusnya dilakukan adalah dengan menuangkan minuman tersebut ke tempat air (gelas dan selainnya) lalu minum darinya. Larangan ini oleh sebagian ulama difahami sebagai suatu keharaman, dan sebagian lain menganggapnya “hanya sebatas makruh, dan inilah pendapat mayoritas ulama. Di antara mereka menjadikan hadits-hadits larangan sebagai nasikh (yang menghapuskan hukum) hadits-hadits yang membolehkan. Lihat Fat-hul Bari (X/94).
Para ulama menyebutkan beberapa hikmah yang menyebabkan dilarangnya hal ini, dan kami akan menyebutkan sebagian di antaranya:
Sering masuknya nafas orang yang minum melalui mulut cerek akan menimbulkan bau busuk dan tidak sedap yang akan menjadikan perasaan muak.
Dan, terkadang di dalam qirbah atau cerek ada serangga, hewan, kotoran atau selainnya yang tidak disadari oleh orang yang minum, lalu masuk ke dalam kerongkongannya dan menimbulkan kemudharatan kepadanya.

Di antaranya, terkadang air akan bercampur dengan liur orang yang minum yang akan menjadikan orang lain merasa jijik. Lihat Zadul Ma’ad (IV/233), Fat-hul Bari (X/94) dan al-Adabusy Syar’iyvah (III/166).
Terkadang, air liur dan nafas orang yang minum akan menularkan penyakit kepada orang lain, di mana menurut para pakar kedokteran bibit penyakit bisa saja berpindah melalui liur dan nafas.
Masalah: Telah shahih bahwa Nabi minum dari mulut qirbah yang tergantung, maka bagaimana menyesuaikan perbuatan Nabi yang menunjukkan bolehnya minum di mulut qirbah dengan larangan beliau melalui sabdanya?
Jawab: Ibnu Hajar mengatakan,“Syaikh kami mengatakan dalam Syarh at-Tirmidzi,“Sekiranya dibedakan apabila dalam keadaan memiliki udzur, seperti misalnya qirbah yang tergantung, dan seseorang yang membutuhkan minum tidak memperoleh wadah dan tidak mampu menjangkaunya dengan tangannya, maka dalam keadaan seperti ini tidaklah dimakruhkan. Maka, dalam keadaan inilah hadits-hadits yang telah disebutkan di atas difahami. Dan, bagi seseorang yang tidak memiliki udzur, maka hadits-hadits larangan ini berlaku baginya.”
Saya (lbnu Hajar) katakan, ‘Dan pendapat ini dikuatkan pula bahwa hadits-hadits yang menunjukkan pembolehan, semuanya mengisyaratkan bahwa qirbah tersebut dalam keadaan tergantung, dan minum dari qirbah yang tergantung lebih khusus dari sekadar minum dari qirbah. Dan, tidak ada dalil dari hadits-hadits yang menunjukkan pembolehan secara mutlak melainkan hanya dalam keadaan ini saja. Dan, memahami pembolehan tersebut dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelaraskan kedua hadits itu lebih utama daripada memahaminya sebagai nasikh. Wallahu a’lam.” Fat-hal Bari (X/94)
18. Disunnahkan Bagi Seorang yang Menuangkan Minuman, la Adalah Orang Terakhir yang Minum Darinya
Dalilnya adalah hadits Qatadah yang panjang, ia berkata, “… Maka Rasulullah menuangkan minuman ke dalam wadah mereka hingga tidak ada lagi yang tersisa selain aku dan Rasulullah.” Ia berkata, “Kemudian Rasulullah menuangkannya kepadaku, lalu bersabda,“Minumlah.” Aku berkata, “Aku tidak akan minum sampai engkau minum wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda:
إن ساقي القوم آخرهم شربا
“Sesungguhnya orang yang menuangkan minum kepada orangorang adalah orang yang paling terakhir minum.”
Ia berkata, “Maka aku pun minum, dan kemudian Rasulullah juga minum … .”” (Al-hadits). HR. Muslim (no. 681), Ahmad (no. 22040), at-Tirmidzi (no. 1894), lbnu Majah (no. 3434), ad-Darimi (no. 2135), sebagiannya meriwayatkan dengan panjang. sebagian lagi hanya meringkas lafazh yang menjadi syahid saja, dan sebagian lainnya meriwayatkannya dengan kedua lafazh tersebut.
Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa orang yang bertanggung jawab menuangkan minum kepada suatu kaum, maka hendaklah ia mendahulukan mereka daripada dirinya sendiri, dan ia adalah orang yang paling terakhir minum dalam rangka meneladani Rasulullah.
19. Disukai Berbicara Ketika Menghadapi Makanan
Hal ini sebagai bentuk penyelisihan terhadap kebiasaan orang asing, di mana mereka sama sekali tidak berbicara ketika makan. Lihat Ihya’ Ulumuddin karya al-Ghazali (ll/11), Darul Hadits cet. lth. 1412 H.
lbnu Muflih mengatakan, “Ishaq bin lbrahim mengatakan, “Sekali waktu aku pernah makan malam bersama Abu ‘Abdillah (Ahmad bin Hanbal) dan beberapa kerabatnya. Dan, kami tidak berbicara sedikit pun, sementara ia makan dan mengatakan, “Alhamdulillaah, bismillaah.” Kemudian ia berkata, “Makan dan pujian kepada Allah lebih baik daripada makan sambil diam. Dan, aku tidak mendapati pendapat dari Imam Ahmad yang menyelisihi riwayat ini dengan penyelisihan yang jelas. Dan, kami pun tidak mendapati riwayat tersebut dari mayoritas perkataan para ulama Hanabilah. Yang jelas, Imam Ahmad mengikuti atsar dalam perkataan beliau ini, karena di antara jalan dan kebiasaan beliau adalah memfokuskan ittiba’ kepada atsar.” Al-Adabusy Syar’iyyah (Ili/163).
20.Disunnahkan Makan Secara Berjama’ah
Di antara adab kenabian adalah disunnahkannya makan secara berjama’ah (bersama-sama), dan makan berjama’ah ini adalah sebab diliputinya makanan tersebut dengan keberkahan. Setiap kali jumlah orang yang makan bertambah, maka berkahnya pun akan bertambah.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Jabir bin ‘Abdillah berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda:
ما ملأ آدمي وعاء شرا من بطن بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه
“Anak Adam tidak memenuhi penampung kejelekan dari perutnya. Cukuplah makanan anak Adam itu sekadar untuk menegakkan tulang belakangnya. Jika memang harus, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.” HR. At-Tirmidzi (no. 2380), dan ia mengatakan, “Hadits ini hasan shahih,” Ahmad (no. 16735), Ibnu Majah (no. 3349) dan Sytaikh al-Albani menshahihkannya (no. 2720).
Dan, para ulama salaf memiliki beberapa pendapat tentang masalah ini yang bagus untuk kita ketahui. Ibnu Muflih mengatakan bahwa lbnu “Abdil Barr dan selainnya menyebutkan tentang ‘Umar bin al-Khaththab yang berkhutbah pada suatu hari, dan mengatakan, “Hati-hatilah kalian dengan-_penuhnya-perut kalian, karena hal itu akan membuat kalian malas menuju shalat, dan menjadi penyakit bagi tubuh. Dan, wajib bagi kalian untuk bersikap pertengahan dalam makanan kalian,karena sesungguhnya hal tersebut akan menjauhkan kalian dari kufur nikmat dan akan menyehatkan badan, serta akan menguatkan kalian dalam beribadah. Dan, sesungguhnya seseorang tidak akan celaka hingga syahwatnya mempengaruhi agamanya.”
Ali mengatakan, “Lambung adalah telaga bagi tubuh, dan setiap usus bermuara kepadanya dan juga darinya. Apabila lambung itu sehat, maka usus yang bermuara darinya pun akan sehat. Dan, apabila lambung sakit maka usus yang bermuara darinya akan sakit.”
Al-Fudhail bin ‘lyadh mengatakan, “Dua hal yang akan mengeraskan hati, yaitu banyak bicara dan banyak makan.”
Al-Khallal meriwayatkan dalam Jami’ beliau dari Imam Ahmad, bahwa ia berkata, “Dan dikatakan kepada beliau, “Mereka adalah orang-orang yang makannya sedikit dan sedikit menghidangkan makanan.” Beliau mengatakan, “Hal itu tidak membuatku heran! Aku telah mendengar ‘Abdurrahman bin Mahdi mengatakan, “Suatu kaum melakukannya, maka hal itu menjadikan mereka meninggalkan ibadah yang wajib.
Al-Adabusy Syar’iyyah (Ili/183, 184 dan 185) dengan beberapa kalimat yang didahulukan dan juga diakhirkan.
22. Diharamkannya Duduk di Meja yang di Atasnya Dihidangkan Khamr
Berkaitan dengan hal ini telah diriwayatkan dari hadits Umar bin al-Khaththab, ia berkata,“Rasulullah melarang dua hal yang berkaitan dengan makanan, yaitu duduk di meja yang digunakan untuk minum khamr (dihidangkan), dan seseorang yang makan sambil telungkup di atas perutnya,” HR. Abu Dawud (no. 3774) dan Syaikh al-Albani menshahihkannya, Ibnu Majah (no. 3370) tanpa menyebutkan penggalan yang pertama dari hadits ini.
Dan, dalam riwayat Ahmad disebutkan dengan lafazh, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia duduk di meja yang terhidang khamr di atasnya …” (Al-hadits).
Hadits ini sangat jelas menerangkan larangan, dan dilarangnya hal itu karena duduk dengan adanya kemunkaran tersebut menyiratkan keridhaan dan pembenaran atasnya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *