ADAB MENDATANGI MASJID (BAGIAN PERTAMA)

ADAB-ADAB MENDATANG! MASJID

Allah Ta’ala berfirman:

يا بني ءادم خذوا زينتكم عند كلّ مسجد

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid… ” (Al-A’raf: 31)

Nabi bersabda:

من توضأ للصلاة فأسبغ الوضوء ثم مشى إلى الصلاة المكتوبة فصلاها مع الناس أو مع الجماعة أو في المسجد غفر الله له ذنوبه

“Barangsiapa yang berwudhu untuk mengerjakan shalat lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian ia berjalan menuju shalat wajib dan mengerjakan shalat bersama kaum muslimin atau bersama jama’ah atau di masjid, maka Allah mengampuni dosa-dosanya.” HR.Muslim (no. 232).

Di Antara Adab-Adab Mendatangi Masjid

  1. Larangan Mendatangi Masjid Bagi Orang Yang Telah Memakan Bawang Merah Atau Bawang Putih Dan Yang Semisalnya

Seseorang yang telah memakan bawang merah dan bawang putih mentah wajib menjauhi masjid agar dia tidak mengganggu orang-orang yang sedang shalat dengan bau yang tidak sedap. Dan barangsiapa yang mengganggu orang-orang yang sedang shalat, berarti dia telah mengganggu para malaikat…

Diriwayatkan dari Jabir bahwa Nabi bersabda:

من أكل ثوما أو بصلا فليعتزلنا أو قال فليعتزل مسجدنا وليقعد في بيته

“Barangsiapa yang memakan bawang merah atau bawang putih, maka hendaklah ia memisahkan diri dari kami-atau beliau bersabda, “Maka hendaklah ia memisahkan diri dari masjid kami- dan duduk di rumahnya.” HR. Al-Bukhari (no. 855).

Dan dari Jabir, dia berkata: “Rasulullah telah melarang (umatnya) memakan bawang merah dan karats (bawang yang hanya punya satu siung), akan tetapi kami sangat membutuhkannya sehingga kami pun memakannya. Maka beliau bersabda, “Barangsiapa yang memakan dari tumbuhan yang berbau menyengat ini maka janganlah ia mendekati masjid kami, karena sesungguhnya malaikat terganggu dengan sesuatu yang orang-orang pun terganggu dengannya.” HR. Al-Bukhari (no. 854), Muslim (no. 564) dan lafazh hadits di atas adalah lafazh riwayat Muslim, Ahmad (no. 14596), an-Nasa’i (707), at-Tirrnidzi (no. 1806) dan Abu Dawud (no. 3823).

Dan hadits-hadits yang sangat jelas menunjukkan larangan menghadiri masjid bagi siapa yang memakan bawang putih dan bawah merah, dan orang tersebut tidak berdosa karena tidak menghadiri jama’ah, hanya saja sekelompok orang bersikeras melakukan penyelisihan, sedangkan Allah Ta’ala berfirman:

فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (An-Nuur: 63)

Dan sebagian lainnya tidak menghendaki penyelisihan dan samasekali tidak berniat menyelisihi jama’ah shalat, akantetapi karena niat baiknya ia merasa sangat berat apabila meninggalkan shalat jama’ah dan apabila tidak menghadirinya walaupun ia memakan bawang putih atau bawang merah, dan ini bukan udzur yang bisa diterima. Dan sebagian orang awam mengetahui larangan ini akantetapi mereka tidak memperhatikannya samasekali, dan hal ini disebabkan lemahnya iman di hatinya.

Catatan penting: Dikiyaskan kepada bawang putih, bawang merah dan al-karats, setiap yang menimbulkan aroma tidak sedap yang mengganggu orang-orang yang mengerjakan shalat, seperti rokok atau bau tidak sedap yang timbul dari badan atau dari pakaian yang kotor. Maka wajib bagi orang yang mengerjakan shalat untuk memeriksa dirinya sebelum mendatangi masjid sehingga dia tidak mengganggu orang-orang yang mengerjakan shalat yang menyebabkannya berdosa karenanya.

Faidah: Apabila setelah memakan bawang merah atau bawang putih dia mengambil sesuatu yang menolak bau yang tidak sedap, maka dia tidak terhalang untuk menghadiri masjid. Akan tetapi dia haruslah memastikan terlebih dahulu bahwa bau yang tidak sedap itu telah hilang seluruhnya, dan sudah tidak lagi mengganggu orang-orang yang mengerjakan shalat. Adapun yang dilakukan oleh sebagian orang sekarang dengan menggunakan pasta gigi, seperti penghilang bau bawang merah dan bawang putih. Ini adalah kesalahan yang sangat jelas, karena bau bawang merah dan bawang putih muncul dari lambung, bukan dari mulut.

  1. Disunnahkan Untuk Bersegera Mendatangi Masjid

Nabi menganjurkan umatnya untuk bersegera dan berlomba-lomba mendatangi masjid. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

لو يعلم الناس ما في النداء والصف الأول ثم لم يجدوا إلا أن يستهموا عليه لاستهموا لو يعلمون ما في التهجير لاستبقوا إليه لو يعلمون ما في العتمة والصبح لأتوهما ولو حبوا.

“Seandainya manusia mengetahui kebaikan yang ada pada adzan dan shaf yang pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan berundi, niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan waktu hajiirah (waktu awal shalat Zhuhur), niscaya mereka berlomba-lomba mendapatkannya. Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan waktu ‘atamah (waktu shalat Isya’ dan shalat Shubuh, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.”

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan:

لو تعلمون أو يعلمون ما في الصف المقدم لكانت قرعة

“Seandainya kalian mengetahui atau mereka mengetahui keutamaan shaf terdepan, niscaya kalian akan mengadakan undian.” HR. AI-Bukhari (615), Muslim (437), (439), Ahmad (7680), at-Tirmidzi (225) dan An-Nasa’i (540).

Hadits-hadits ini dengan jelas menunjukkan keutamaan dan besarnya pahala menyegerakan diri mendatangi masjid. Dan hal itu terlihat jelas ketika Nabi menyamarkan pahala bagi seseorang yang bersegera menuju masjid, karena hal tersebut menunjukkan bahwa seorang yang bersegera pergi ke masjid telah mendapatkan pahala yang amat besar. Demikian pula undian yang mereka lakukan untuk mendapatkan shaff pertama menunjukkan dengan kuat besarnya pahala ini.

  1. Berjalan Menghadiri Shalat Dengan Khusyu’ Dan Tenang

Disunnahkan bagi orang yang berjalan menghadiri shalat, agar dia berjalan dengan khusyu’, hati yang tenang dan tuma’ninah. Karena siapa saja yang mendatangi shalat dengan tenang, maka dia khusyu’ dalam mengerjakan shalat dan juga mengerjakan tata caranya. Sebaliknya, siapa saja yang mendatangi shalat dengan tergesa-gesa dan terburu-buru, maka fikiran dan perasaannya bercabang. Nabi telah melarang umat beliau menghadiri shalat mereka dengan tergesa-gesa walaupun shalat tengah didirikan.

Diriwayatkan dari Abu Qatadah, dia berkata: “Ketika kami mengerjakan shalat bersama Nabi, beliau mendengar kegaduhan dari beberapa orang.Setelah beliau menyelesaikan shalat, beliau bersabda: Ada apakah dengan kalian? Para shahabat mengatakan, “Kami tergesa-gesa menghadiri shalat. Beliau bersabda:

فلا تفعلوا إذا أتيتم الصلاة فعليكم بالسكينة فما أدركتم فصلوا وما فاتكم فأتموا

“Janganlah kalian melakukannya. Apabila kalian mendatangi shalat, maka kalian wajib mendatanginya dengan tenang. Apa yang kalian dapati maka shalatlah, dan apa yang kalian lewatkan maka sempurnakanlah.” HR. Al-Bukhari (no. 635), Muslim (no. 603), Ahmad (no. 22102) dan ad-Darimi (no. 1283).

Dan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda:

إذا أقيمت الصلاة فلا تأتوها تسعون وأتوها تمشون عليكم السكينة فما أدركتم فصلوا وما فاتكم فأتموا

“Apabila shalat telah didirikan maka janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa, akan tetapi datangilah ia dengan berjalan (biasa), dan kalian wajib mendatanginya dengan tenang. Apa yang kalian dapati maka shalatlah, dan yang kalian lewatkan maka sempurnakanlah.” HR. Al-Bukhari (no. 908), Muslim (no. 602), Ahmad (no. 7606), at-Tirmidzi (no. 327), Abu Dawud (no. 576) dan lbnu Majah (no. 775).

Orang yang memperhatikan kedua hadits tersebut mendapati bahwa hadits Abu Qatadah disebutkan dengan lafazh, “Apabila kalian mendatangi shalat,”sedangkan hadits Abu Hurairah disebutkan dengan lafazh, “Apabila shalat telah didirikan.” Apakah di antara keduanya terjadi pertentangan?

Jawabnya, bahwa mendatangi masjid haruslah dilakukan dengan khusyu’ dan tenang, baik shalat tersebut telah didirikan atau belum. Sedangkan sabda beliau, “Apabila shalat telah didirikan,” maka hadits ini menerangkan perkara yang biasanya menyebabkan kaum muslimin mendatangi shalat dengan tergesa-gesa. Maka keterangan ini menjelaskan bahwa kedua lafazh hadits tersebut tidak bertentangan, wallahu a’lam.

  1. Do’a Yang Dibaca Ketika Berjalan Menghadiri Shalat (Di Masjid)

Disunnahkan bagi seseorang yang berjalan menghadiri shalat untuk membaca dengan do’a yang diucapkan oleh Nabi ketika beliau keluar menghadiri shalat. Diriwayatkan bahwa ketika Ibnu ‘Abbas menginap di rumah bibinya, Maimunah, ia berkata (di akhir hadits), “Maka Bilal mendatangi beliau dan mengumandangkan adzan shalat, maka beliau berdiri dan mengerjakan shalat tanpa berwudhu lagi. Dan di antara do’a yang beliau ucapkan (ketika mendatangi shalat) adalah:

اللهم اجعل في قلبي نورا وفي بصري نورا وفي سمعي نورا وعن يميني نورا وعن يساري نورا وفوقي نورا وتحتي نورا وأمامي نورا وخلفي نورا وعظم لي نورا

“Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya pada penglihatanku, pendengaranku, cahaya dari sebelah kanan dan kiriku, cahaya di atas dan di bawahku, cahaya di depan dan belakangku dan berilah aku cahaya yang agung.”

Dan dalam riwayat Abu Dawud disebutkan: “… Kemudian beliau keluar menuju shalat sambil mengucapkan:

اللهم اجعل في قلبي نورا واجعل في لساني نورا واجعل في سمعي نورا واجعل في بصري نورا واجعل خلفي نورا  وأمامي نورا واجعل من فوقي نورا ومن تحتي نورا اللهم و أعظم لي نورا

“Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku jadikanlah cahaya di lisanku jadikanlah cahaya di pendengaranku, jadikanlah cahaya di penglihatanku, jadikanlah cahaya di belakang dan di depanku, jadikanlah cahaya di atas dan di bawahku. Ya Allah, berilah aku cahaya yang agung. ” HR. Muslim (no. 7633); Abu Dawud (no. 1353), Syaikh Eil-Albani mengatakan. “Shahih.” (no.1025), dan Ahmad (no. 3531).

  1. 5. Do’a Ketika Masuk dan Keluar dari Masjid

Disunnahkan bagi seseorang yang masuk ke dalam masjid untuk mengucapkan:

اللهم صل وسلم على محمد وعلى آل محمد اللهم افتح لي أبواب رحمتك

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan Salam kepada Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu. ”

Dan apabila keluar dari masjid mengucapkan:

اللهم صل وسلم على محمد وعلى آل محمد اللهم افتح لي أبواب فضلك

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan Salam kepada Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta karunia-Mu. ”

Hal ini dalam rangka meneladani Nabi ketika beliau masuk ke masjid dan ketika keluar dari masjid.

Diriwayatkan dari Abu Humaid dan Abu Usaid, keduanya mengatakan, “Rasulullah bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian masuk ke dalam masjid, maka hendaklah ia mengucapkan, ‘Allaahumaftah lii abwaaba rahmatika.” Dan apabila keluar dari masjid hendaklah dia mengucapkan, “Allaahumma inni asaluka min fadhlika.”

Dan dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, “Apabila salah seorang di antara kalian masuk ke dalam masjid hendaklah dia mengucapkan Salam kepada Nabi kemudian mengucapkan, ‘Allaahummaftah lii abwaaba rahmatika Dan apabila keluar hendaklah mengucapkan ‘Alllaahumma inni as’aluka min fadhlika.” HR. Muslim (no. 713), Ahmad (no. 15627), an-Nasa”i (no. 729), Abu Dawud (no. 465), ibnu Majah (no. 772), ad-Darimi (no. 1394), dengan lafazh tambahan, “Hendaklah ia memberi salam kepada Nabi.” lmam an-Nawawi mengatakan, “Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i, lbnu Majah dan selain mereka dengan sanad-sanad yang shahih.” (Al-Adzkar hal. 59). Syaikh al-Albanl mengatakan dalam riwayat Abu Dawud, “Shahih.”

Atau disunnahkan bagi orang yang masuk ke dalam masjid mengucapkan!

أعوذ بالله العظيم وبوجهه الكريم وسلطانه القديم من الشيطان الرجيم

“Aku berlindung kepada Allah Yang Mahaagung, dengan wajah-Nya yang mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi dari syetan yang terkutuk.”

Do’a ini disebutkan dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash dari Nabi, bahwa apabila beliau masuk ke dalam masjid, beliau mengucapkan, “A’uudzu billaahil ‘azhiim, wa biwajhihil kariim, wa suthaanihil qadiim minasy syaithaanir rajiim.” Dia (Yang bertanya adalah ‘Uqbah bin Muslim, perawi hadits tersebut, dari ‘Abdullah, Syaikh al-Albani menyebutkannya dalam Shahih Abi Dawud (l/93)) bertanya, “Hanya itu saja?” Aku menjawab, “Ya. Beliau bersabda, “Apabila ia mengucapkannya, maka syetan akan mengatakan, dia terjaga dariku sepanjang hari.” HR. Abu Dawud (no. 466). Imam an-Nawawi mengatakan, “Sanad-sanadnya jayyid (baik)” (Al-Adzkar hal. 60). Syaikh al-Albani mengatakan, “Shahih.”

  1. Disunnahkan Mendahulukan Kaki Kanan Ketika Masuk ke Masjid dan Kaki Kiri Ketika Keluar darinya

Seseorang yang masuk ke masjid disunnahkan mendahulukan kaki kanan, karena hal itulah yang dilakukan oleh Rasulullah. Juga karena masjid adalah tempat yang paling mulia, maka sepantasnyalah seseorang mendahulukan kaki kanan ketika memasukinya. Dan sebaliknya ketika keluar dari masjid maka kaki kiri didahulukan, berdasarkan yang dilakukan oleh Nabi. Juga karena tempat selain masjid kemuliaannya lebih rendah. Dan di antara kebiasaan syara’ adalah mendahulukan tangan dan kaki kanan melakukan hal-hal yang utama dan mulia, dan mendahulukan bagian kiri melakukan hal-hal yang rendah. Adapun kaidah umum dalam permasalahan ini adalah hadits Aisyah, dia mengatakan, “Nabi suka mendahulukan bagian yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, berwudhu dan di setiap keadaan yang baik beliau.” HR Al-Bukhari (no. 168) dan lafazh hadits di atas adalah lafazh riwayat al-Bukhari, Muslim (no. 268), Ahmad (no. 24106), at-Tirmidzi (no. 608). An-Nasa’i (no. 421) dan Ibnu Majah (no. 401).

Mendahulukan kaki kanan ketika masuk ke masjid merupakan Sunnah yang disebutkan oleh Anas, dia mengatakan, “Termasuk Sunnah, apabila masuk ke masjid engkau mendahulukan kaki kanan, dan apabila keluar darinya engkau mendahulukan kaki kiri.” Al-Hakim mengatakan dalam al-Mustadrak, “Hadits ini shahih sesuai dengan kriteria Muslim.” (l/ 328) (no.791), dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

Dan merupakan hal yang telah diketahui di kalangan para ulama bahwa perkataan seorang shahabat, “Termasuk Sunnah,” tergolong ke dalam hukum hadits marfu’ (yang sampai kepada Rasulullah), Al-Bukhari menyertakan sebuah Bab yang di dalmnya tercantum hadits ‘Aisyah terdahulu. Al-Bukhari mengatakan, “Bab at-Tayammun fi Dukhulil Masjid wa ghairihi (Bab Mendahulukan Kaki Kanan ketika Masuk ke Masjid dan Selainnya).”

Kemudian dia menyebutkan atsar Ibnu ‘Umar, dia berkata, “Ibnu ‘Umar memulai dengan kaki kanannya (ketika masuk ke masjid) dan apabila keluar darinya ia memulainya dengan kaki kirinya.”

Dan diketahui dari Ibnu ‘Umar betapa ia begitu konsekuen mengikuti Sunnah Nabi.

  1. Disunnahkan Mengerjakan Shalat Tahiyyatul Masjid Ketika Masuk ke Masjid (Sebelum Duduk)

Disunnahkan bagi seseorang yang masuk ke masjid untuk memulai dengan shalat dua raka’at, yaitu shalat Tahiyyatul Masjid. Dan shalat ini tidak wajib, akantetapi Sunnah mu’akkadah, berdasarkan perintah Nabi kepada para shahabat beliau dalam masalah ini. Sebagaimana tercantum dalam hadits Abu Qatadah as-Sulami bahwa Rasulullah bersabda:

إذا دخل أحدكم المسجد فليركع ركعتين قبل أن يجلس

”Apabila salah seorang di antara kalian masuk ke masjid hendaklah ia mengerjakan shalat dua raka’at sebelum ia duduk.” HR. Al-Bukhari (no. 444), Muslim (no. 714), Ahmad (no. 22017), at-Tirmidzi (no. 316), an-Nasa’i (no.730), Abu Dawud (no.467), Ibnu Majah (no.1013) dan ad- Darimi (no. 1393).

Dan yang memalingkan perintah beliau tersebut dari hukum wajib menjadi Sunnah adalah beberapa hadits lainnya, seperti hadits Thalhah bin Ubaidillah, dia berkata, “Seseorang dari penduduk Nejd menjumpai Rasulullah, rambutnya kusut, suaranya melengkung tak terdengar, ucapannya tidak dimengerti hingga ia mendekat, dan ternyata ia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah bersabda, “Yaitu shalat lima waktu setiap hari dan setiap malamnya.” Lalu orang tersebut berkata, “Apakah ada yang lain selain shalat tersebut?” Beliau menjawab “Tidak” kecuali shalat Sunnah.” Dan di akhir hadits dia berkata, “Lalu orang itu berpaling (pergi) sambil mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan menambah dan tidak juga menguranginya.Rasulullah bersabda, “Dia beruntung jika benar.” HR. Al-Bukhari (no. 46), Muslim (no. 11), Ahmad (no. 1393), an-Nasa’i (no. 458), Abu Dawud (no. 391), Malik (no. 425), dan ad-Darimi (no. 1578).

Dengan demikian, maka tidak sepantasnya seorang yang beriman melalaikan dua raka’at ini karena dalam shalat tersebut terdapat kebaikan yang sangat banyak.

  1. Keutamaan Duduk di Masjid

Di antara hadits yang menunjukkan keutamaan duduk di masjid dan menunggu didirikannya shalat adalah sabda beliau:

فإذا دخل المسجد كان في الصلاة ما كانت الصلاة هي تحبسه والملائكة يصلون على أحدكم ما دام في مجلسه الذي صلى فيه يقولون : اللهم ارحمه اللهم اغفر له اللهم تب عليه ما لم يؤذ فيه ما لم يحدث فيه

“… Apabila dia masuk ke masjid, maka dia berada dalam keadaan shalat selama shalat yang ditujunya belum didirikan. Dan para malaikat mendo’akan salah seorang di antara kalian selama dia berada di tempat duduk yang dia shalat di dalamnya (masjid), mereka mengucapkan, “Ya Allah, rahmatilah dia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya, selama dia tidak mengganggu dan tidak tidak berhadats. ” HR. Al-Bukhari (no.176), Muslim (no.749) dan lafazh di atas adalah lafazh riwayat Muslim, Ahmad (no.7382), an-Nasa’i (no.733), Abu Dawud (no.559), dan Malik (no.382).

Dan ini merupakan rahmat Allah kepada setiap hamba-Nya dan kemuliaan-Nya yang melimpah, di mana Allah memberikan pahala sebagaimana pahala seorang yang shalat hanya karena mereka duduk di masjid dan menunggu shalat didirikan. Kemudian Allah memerintahkan para malaikat untuk mendo’akan seseorang yang menunggu shalat di masjid dengan do’a rahmat, ampunan dan taubat.

Akan tetapi haruslah diketahui bahwa pahala dan do’a para malaikat bagi seseorang yang menunggu shalat terkait dengan beberapa perkara:

Pertama: Bahwa yang menghalanginya untuk pergi kepada keluarga atau pekerjaannya adalah ibadah shalat semata.

Kedua: Bahwa do’a para malaikat bagi seseorang yang menunggu shalat terkait dengan tetapnya seorang yang shalat tersebut di tempat dia shalat (di dalam masjid). Pendapat lainnya mengatakan bahwa do’a para malaikat mencakup siapa saja yang menunggu shalat di masjid, di tempat yang dia shalat sebelumnya. Namun lafazh hadits menguatkan pendapat yang pertama.

Ketiga: Bahwa pahala seorang yang menunggu shalat dan do’a para malaikat untuknya tertolak dengan adanya hadats atau gangguan. Dan yang dimaksud dengan gangguan adalah gangguan yang ditimbulkannya kepada malaikat atau kepada muslim lainnya, baik dengan perbuatan maupun dengan ucapan, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar(Fat-hul Bari (IV/400)).Dan yang dimaksud dengan hadats adalah seorang yang menanti shalat melakukan salah satu dari hal-hal yang membatalkan wudhu“.

Catatan penting: Sebagian besar kaum muslimin melalaikan Waktu yang utama (waktu menanti shalat antara adzan dan iqamat). Kita dapati mereka melemparkan pandangan kepada orang-orang yang mengerjakan shalat atau membaca al-Qur’an. Sebagian dari mereka melepaskan pandangan dan akalnya untuk memperhatikan kaligrafi masjid, bangunan dan selainnya. Seandainya mereka memanfaatkan waktu yang utama ini dengan membaca al-Qur’an, dzikir kepada Allah atau berdo’a dengan sungguh-sungguh, karena waktu ini adalah waktu terkabulnya do’a, niscaya dia mendapat kebaikan yang sangat banyak.

Catatan penting lainnya: Imam Shalat adalah bagian dari suatu kepemimpinan, maka seorang imam haruslah berlemah lembut kepada para makmum, tidak memberatkan mereka dengan setiap perbuatan yang menyusahkan.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda:

اللهم من ولي من أمر أمتي شيئا فشق عليهم فاشقق عليه ومن ولي من أمر أمتي شيئا  فرفق بهم فارفق به

“Ya Allah, siapa saja yang memegang salah satu perkara umatku lalu dia memberatkan mereka maka beratkanlah dia, dan siapa saja yang memegang salah satu perkara umatku, lalu ia berlaku santun kepada mereka, maka berlemah Iembutlah kepadanya.” HR. Muslim (no. 1828) dan Ahmad (no. 24101).

Imam an-Nawawi mengatakan, “Hadits ini merupakan peringatan paling jelas untuk tidak memberatkan manusia dan sangat menganjurkan berlaku santun kepada mereka. Dan beberapa hadits (lainnya) telah menunjukkan makna ini dengan sangat jelas.” Syarh Muslim (jilid VI (XII/167468)).

Sementara yang terjadi, sebagian imam shalat (semoga Allah memberi mereka taufiq) memberatkan para jama’ah, baik disadari atau tidak. Mereka mengakhirkan iqamat shalat dan menghalangi para jama’ah dari pekerjaan dan keperluan mereka. Dan seorang yang hendak mengerjakan shalat sementara dia memiliki keperluan, maka ia tidak ingin pengerjaan shalatnya diakhirkan, ia terbentur dengan perasaan yang berat, apakah ia shalat sendiri atau menunggu imam ini?

Imam yang mendapatkan taufiq adalah yang menentukan waktu shalat bagi jama’ah di masjid, di mana apabila imam tersebut terlambat karena suatu keperluan mendadak, maka mereka mendirikan iqamat shalat. Dengan begitu tidak memberatkan mereka dengan kedatangan imam yang terlambat, dan juga menghilangkan perasaan berat dari mereka. Inilah di antara kelembutan seorang imam terhadap jama’ah di masjidnya dan termasuk bentuk pengayoman yang baik terhadap mereka. Wallahul Muwaffiq.

  1. Bolehnya Tidur Terlentang di Masjid

Dibolehkan tidur terlentang di masjid. Rasulullah pernah tidur terlentang di masjid dengan meletakkan salah satu kaki beliau di atas kaki lainnya.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim, bahwa beliau pernah melihat Rasulullah, tidur terlentang di masjid sambil meletakkan salah satu kaki beliau di atas kaki lainnya.

Dan dari Ibnu Syihab, dari Sa’id bin al-Musyyab, dia berkata, ‘Umar dan ‘Utsman melakukannya.” HR. Al-Bukhari (no. 475), Muslim (no. 2100), at-Tirmidzi (no.3765), an-Nasa’i (no.721). Abu Dawud (no.4866), Ahmad (no.15995), Malik (no.418) dan ad-Darimi (no.2656).

Akan tetapi haruslah terjaga agar auratnya tidak tersingkap, karena meletakkan salah satu kaki di atas kaki lainnya memungkinkan tersingkapnya aurat, dan siapa yang mungkin bisa menjaganya, maka hal tersebut tidak terlarang baginya.

Faidah: Sebagian orang merasa keberatan dengan menjulurkan kaki mereka ke arah kiblat sebagai bentuk wara’ mereka. Akan tetapi perasaan berat ini tidak pada tempatnya. Siapa saja yang menjulurkan kakinya atau kedua kakinya ke arah kiblat di masjid atau di luar masjid, maka dia tidaklah berdosa. Lihat Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-‘Ilmiyah wal Ifta’ (VI/292) (no, 5795).

Peringatan: Orang yang menjulurkan kakinya atau kedua kakinya ke arah kiblat di masjid wajib menjaga agar tidak menjulurkannya ke arah mushhaf, sebagai adab dan pengagungan terhadap Kalamullah. Bahkan, kaum muslimin pun mencela dan mengingkari orang yang menjulurkan kakinya atau kedua kakinya ke hadapan mereka atau di dalam majelis mereka, maka terlebih lagi dengan orang yang menjulurkan kedua kakinya ke arah mushhaf. Tidak diragukan bahwa hal tersebut lebih diingkari lagi.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *