HADITS 130-131 DARI KITAB TAUDHIHUL AHKAAM

وَعَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ: ( كُنَّا نُصَلِّي اَلْمَغْرِبَ مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَيَنْصَرِفُ أَحَدُنَا وَإِنَّهُ لَيُبْصِرُ مَوَاقِعَ نَبْلِهِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

  1. Dari Rafi’ bin Khadiij, dia berkata, “Sesungguhnya kami pernah melakukan shalat Maghrib bersama Rasullah, lalu salah seorang dari kami berpaling dan sesungguhnya dia benar-benar melihat tempat-tempat jatuhnya anak panahnya- (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Kosakata hadits

Mawaaqi: Jamak dari Mauqi’ artinya tempat jatuhnya anak panah.

Nablihi: Nabl artinya anak panah. Dia berbentuk muannats dan jamaknya adalah nabal atau anbal. Kata ini tidak memiliki bentuk tunggal.

Hal-hal penting dari hadits

  1. Disunnahkan mempercepat sholat Magrib di awal waktu dimana seseorang pulang setelah melaksanakannya sedang cahaya matahari masih ada. Sunnah mempercepat pelaksanaan shalat Maghrib berdasarkan kesepakatan ulama. Ini dikatakan oleh Syaikh Taqiyuddin.
  2. Yang dimaksud dengan tenggelam di sini adalah tenggelamnya seluruh bulatan matahari sehingga tidak bisa dilihat sama sekali. Dan ijma’ ulama dinukil dalam hal ini berdasarkan hadits Bukhari dan Muslim, bahwa sesungguhnya Nabi melakukan shalat Maghrib apabila matahari telah tenggelam.
  3. Waktu maghrib terus berlangsung sampai hilangnya mega merah ini adalah pendapat dari tiga ulama, Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad.

An-Nawawi berkata, “Ini adalah pendapat yang benar. Hal tersebut berdasarkan riwayat lmam Muslim dan yang lainnya dari lbnu Umar, dia berkata Rasulullah bersabda,

وقت المغرب ما لم يسقط نور الشفق

“Waktu maghrib selama belum lenyap cahaya mega merah”.

Dan berdasarkan riwayat Ad-Daruquthni dari Ibnu Umar sesunggulmya Nabi Muhammad bersabda,

الشفق الحمرة فإذا غاب وجبت الصلاة

“Mega merah, apabila hilang, maka shalat (maghrib) menjadi wajib”.

Iyadh berkata: Mega Merah yang ada di langit setelah matahari tenggelam, adalah sisa sengatan matahari. Ini adalah pendapat para ahli bahasa dan para ahli fikih dari Hijaz.

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( أَعْتَمَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ بِالْعَشَاءِ,  حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اَللَّيْلِ,  ثُمَّ خَرَجَ, فَصَلَّى, وَقَالَ: “إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي” )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

  1. Dari Aisyah, dia berkata: Nabi pada suatu malam melakukan shalat Isya sampai berlalu waktu malam lalu beliau keluar melakukan shalat. Beliau bersabda: “Itulah waktunya seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku.”(HR. Muslim)

Kosakata hadits

A’tama Masuk pada kegelapan malam. Shalat ini dinamakan dengan nama waktunya. AI-Atamah adalah sepertiga malam pertama.

‘Ammatullail: Maksudnya mayoritas waktu malam bukan akhir malam atau penghujung malam.

Innahu Iawaqtuha: Maksudnya adalah waktunya yang utama, seandainya tidak memberatkan umat.

Hal-hal penting dari hadits

  1. Disunahkan mengakhirkan shalat Isya sampai seluruh malam. Hanya saja tidak melewati sepertiga atau separuh waktu malam tersebut. Karena keduanya merupakan waktu-waktu akhir yang terpilih. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat.
  2. Disunahkan memperhatikan kondisi makmum dan tidak memberatkan dalam menunggu dan memperpanjang shalat.
  3. Hadits ini menjadi dalil untuk kaidah hukum; “Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengmbil kemaslahatan”. Menghindari keberatan mereka lebih didahulukan atas kemaslahatan waktu yang utama yang dipilihkan.
  4. Terkadang dibolehkan mengerjakan suatu amal perbuatan yang tidak utama demi menjelaskan hukumnya kepada masyarakat
  5. Kasih sayang Nabi dan tutunannya untuk memilih hal yang lebih mudah dari dua hal yang ada sebagai bentuk keringanan bagi umat dan memudahkan pekerjaan mereka. Rasulullah bersabda,

إنما بعثتم ميسرين ولم تبعثوا معسرين

“Sesunguhnya kalian diutus untuk memudahkan dan bukan untuk menyulitkan”.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *