HADITS 517 DARI KITAB TAUDHIHUL AHKAAM

(BAB ZAKAT FITRI)

Pendahuluan

Arti dasar Al-Fithru adalah firman Allah, “Apabila langit telah terbelah (Qs. Al Infithaar [82]: 1) Maksudnya telah terbelah, maka seakan-akan orang yang berpuasa telah terbelah puasanya dengan memakan makanan.

Zakat fitri adalah zakat yang disebabkan oleh kebolehan makan kembali setelah terlepas dari puasa pada bulan Ramadhan. Dinisbatkan kepada kata fithr merupakan penamaan akibat oleh sebabnya.

Dasar pemberlakuan zakat fitri adalah firman Allah yang bersifat umum, hadits, dan ijma’ ulama. Allah berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri (dengan beriman) dan dia ingat nama Tuhannya lalu Ia sembahyang. “(Qs. Al A’laa [87]: 14-15)

Hadits mengenai zakat fitri adalah shahih.

Umat Islam sepakat mengenai kewajiban membayar zakat fitri dan sandaran ijma’ mereka adalah hadits Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم فرض زكاة الفطر من رمضان

“Sesungguhnya Rasulullah memfardhukan zakat fithri pada bulan Ramadhan. “

Mayoritas ulama salaf dan khalaf berkata, “Arti difardhukan berarti diharuskan dan diwajibkan.” Zakat fitri diwajibkan pada tahun yang sama di mana puasa bulan Ramadhan juga diwajibkan, yaitu tahun kedua Hijriah.

Hikmah pemberlakuan zakat ini adalah sebagaimana yang terdapat dalam Sunan Abu Daud (1609) dari Ibnu Abbas, ia berkata ;

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين…

“Rasulullah memfardhukan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan berkata kotor serta memberikan makan fakir miskin. ”

Zakat fitri menambal kecacatan puasa. Dan demikianlah seluruh ibadah terkait dengan ibadah lainnya. Zakat fitri menjadi penyempurna dan pelengkap sesuatu yang kurang.

Hal ini dijelaskan dengan hikmah dan rahasia-rahasia tertentu. Diantaranya yang berhubungan dengan orang-orang yang berpuasa, maka zakat fitri dapat menyucikan puasa mereka dari kekurangan dan kecacatan. Zakat fitri juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat kepada hamba-Nya, sehingga dapat menyempurnakan puasa pada bulan Ramadhan, sekaligus bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan, yaitu masuknya perputaran tahun kepada mereka; di mana mereka sehat jasmaninya, selamat agamanya, dan sejahtera berada di tanah air mereka.

Di antara hikmah diberlakukannya zakat fitri juga yang berhubungan dengan solidaritas sosial, yaitu dengan menutupi kebutuhan orang-orang yang memang membutuhkan pertolongan, memberikan makan orang-orang yang kelaparan pada Hari Raya, memberikan kegembiraan, memasukkan cinta kasih didalam hati sesama, agar umat Islam sederajat semuanya; dari yang kaya sampai yang miskin yang cenderung meminta-minta dan membutuhkan kepada uluran tangan orang lain. Pada hari seluruh umat Islam ingin menampakkan kecukupannya. Maka hikmah dan rahasia Allah di dalam syariatnya sangat banyak sekali.

عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ اَلْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى اَلْعَبْدِ وَالْحُرِّ, وَالذَّكَرِ, وَالْأُنْثَى, وَالصَّغِيرِ, وَالْكَبِيرِ, مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ اَلنَّاسِ إِلَى اَلصَّلَاةِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه. ولابن عدي والدارقطني بإسناد ضعيف : أغنوهم عن الطواف في هذا اليوم

  1. Dari Ibnu Umar , ia berkata: Rasulullah memfardhukan zakat fitri sebesar satu sha kurma atau satu sha’ gandum atas hamba sahaya dan orang yang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang tua dari umat Islam. Dan Rasulullah memerintahkan agar zakat fitri ditunaikan sebelum orang-orang keluar menunaikan shalat Id. (HR. Muttafaq ‘Alaih .

Riwayat Ibnu Adiy dan Ad-Daruquthni dengan sanad yang dha ‘if Cukupkan (kebutuhan) mereka, agar mereka tidak berkeliling (meminta-minta) pada hari ini. ”

Peringkat Hadits

Hadits di atas adalah dha ‘if Ibnu Hajar berkata, “Redaksi lbnu Adiy dan Ad-Daruquthni dengan sanad yang dha ‘if dan ada tambahan redaksi hadits: ‘CUkupkan (kebutuhan) mereka, agar tidak berkeliling (meminta-minta) pada hari ini.”

Di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Umar Al Waqidi.

Selain itu ada hadits yang berasal dari riwayat Najih As-Sundi yang mendapat julukan Abu Ma’syar.

lbnu Al Mulaqqin dan Al Hafizh berkata, “Bahwa Najih dha ‘if dan turut

mendha’if-kan juga lbnu Al Madini dan An-Nasa’i.” Bukhari berkata, “Hadits yang munkar.”

Kosakata Hadits

Furidha. Mengandung dua bentuk arti;

Pertama, yang paling jelas adalah berarti diwajibkan.

Kedua, berarti diperkirakan atau ditentukan.

Ibnu Daqiq AI’Id berkata, “Arti dasar kata al fardhu secara etimologi adalah ukuran. Akan tetapi dinukil di dalam terminologi syariah menjadi arti wajib. Membawa kepada arti wajib lebih utama dari membawa kepada makna yang aslinya.”

Zakah Al fithri. An-Nawawi berkata, “Zakat fitri adalah istilah yang dimunculkan, ia bukan berasal dari orang Arab, melainkan istilah yang berasal dari para ahli fikih. Seakan-akan ia berasal dari kata fithrah yang berarti jiwa dan makhluk, maksudnya zakat dari makhluk.”

Al Aini berkata, Seandainya dikatakan bahwa zakat fitrah adalah istilah Islami, maka itu lebih tepat, karena istilah zakat hanya dikenal (identik) dengan agama Islam. Itu adalah istilah yang berasal dari Allah. Dikatakan untuk istilah ini juga dengan istilah sedekah fitrah dan zakat fitrah. Di dalam hadits riwayat Ibnu Abbas dengan istilah zakat dan puasa, dan hadits Abu Hurairah dengan istilah sedekah bulan Ramadhan.”

Sha : Sha’ pada zaman Nabi adalah tiga kilogram (3 kg) gandum jenis bagus.

Ila Ash-Shalah. Yang dimaksud dengan shalat adalah shalat Idul Fitri.

Aghnuuhum (cukupkan mereka): Yang dimaksud di sini berilah kebutuhan hidup mereka secukupnya dan cukupkanlah kehidupannya hari ini. Karena istilah cukup terdiri dari beberapa jenis yang dijelaskan sesuai dengan porsinya masing-masing yang sesuai. Istilah cukup dalam masalah pemberian zakat adalah orang yang memiliki kecukupan hidup selama satu tahun. Didalam masalah zakat fitrah adalah orang yang memiliki kelebihan makanan pokok untuk satu hari. Di dalam masalah mengeluarkan zakat adalah orang yang sudah memiliki harta mencapai nishabnya. Didalam masalah nafkah adalah orang yang memiliki harta untuk diberikan kepada orang-orang yang wajib dibiayai olehnya.

An Ath-thawaaf(dari berkeleiling): Yaitu berkeliling meminta-minta kepada orang lain.

Fi Hadza Al Yaum (pada hari ini): Adalah Hari Idul Fitri dan hari lainnya yang digunakan untuk bersolek.

Min Al Muslimin (dari umat Islam): At Thayyibi berkata, “Zakat fitrah diwajibkan menggunakan pengertian-pengertian yang disebutkan sesuai tuntutan ilmu bayan, yaitu bahwa hal-hal yang disebutkan datang bercampur untuk mencakup semuanya, bukan untuk takhsis, agar tidak terjadi kontradiksi, maka Rasulullah mewajibkan kepada seluruh umat Islam.”

Hal-Hal Penting dari Hadits

  1. Para ulama sepakat mengenai kewajiban zakat fitri berdasarkan hadits Nabi, “Rasulullah memfardhukan zakat fitri .”

Fardhu di sini adalah wajib.

Ibnu Al Mundzir berkata, “Seluruh ulama yang kami hafal namanya sepakat bahwa zakat fitri hukumnya wajib.”

  1. Bahwa sesungguhnya zakat fitri wajib bagi setiap muslim, laki-laki atau perempuan, orang merdeka atau hamba sahaya, anak kecil atau orang tua.
  2. Sesungguhnya zakat fitri tidak wajib bagi janin.

Banyak ulama mensunnahkan zakat fitri untuk janin. Terdapat keterangan dari para sahabat bahwa mereka suka mengeluarkan zakat fitrah untuk janin. Utsman bin Affan juga mengeluarkan zakat untuk janin.

  1. Sesungguhnya waktu yang paling utama dalam mengeluarkan zakat fitri adalah pada pagi hari sebelum orang-orang keluar menunaikan shalat Id. Akan dijelaskan nanti.
  2. 5. Hikmah dari zakat fitri ini adalah mencukupkan kebutuhan orang-orang miskin pada Hari Raya, agar mereka tidak memaksakan diri Untuk meminta-minta kepada orang lain pada hari di mana masing-masing umat Islam menampakkan kecukupannya. Hari itu adalah hari gembira dan bahagia serta tahun kebesaran umat Islam.

Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu dikeluarkannya zakat fitrah:

  • Abu Hanifah berpendapat, “Dibolehkannya mendahulukan pembayaran zakat fitri untuk satu tahun atau dua tahun. Ia analogikan kepada zakat harta.”
  • Madzhab Asy-Syafi’i berpendapat, “Dibolehkannya mendahulukan pembayaran zakat fithri dari mulai hari pertama bulan Ramadhan.”
  • Madzhab Maliki berpendapat, “Tidak boleh mendahulukan membayar zakat fitri sama sekali, seperti melaksanakan shalat sebelum tiba waktunya.”
  • Madzhab Hambali berpendapat, “Dibolehkannya mendahulukan pembayaran zakat fitri dua hari sebelum Hari Raya.”

Dengan demikian terjadi kesepakatan tiga ulama madzhab mengenai diperbolehkannya mengeluarkan zakat fitri terlebih dahulu pada dua hari saja sebelum Hari Raya berdasarkan hadits riwayat Bukhari (1415), ia berkata,

كانوا يعطونها قبل الفطر بيوم أو بيومين

“Mereka memberikan zakat fitri satu hari atau dua hari sebelum Hari Raya.”

Yang dimaksud mereka adalah para sahabat, karena mereka tidak dapat mempersiapkannya apabila tidak ada pengajuan waktu ini. Oleh karena itu, guru kami Abdurrahman As-Sa’di, memilih pendapat yang mensunnahkan pembayaran zakat terlebih dahulu satu atau dua hari sebelum Hari Raya.

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu wajib membayar zakat fitri.

  • Madzhab Hanafi berpendapat, “Bahwa zakat fitri wajib hukumnya saat keluarnya fajar di Hari Raya Idul Fitri.”

Mereka beralasan; karena istilah zakat disandarkan pada kata fithri. Penyandaran kata ini untuk mengkhususkan. Pengkhususan dengan istilah fithri berarti siang hari, bukan malam hari. Barangsiapa meninggal dunia sebelum terbit fajar, maka zakat fitri belum wajib baginya. Barangsiapa masuk Islam atau melahirkan sebelum terbit fajar, maka zakat fitri belum wajib baginya.

Mayoritas ulama berpendapat –diantaranya tiga Imam madzhab-, “Bahwa zakat fitri wajib hukumnya pada saat tenggelamnya matahari pada malam Hari Raya Idul Fitri, karena hari itu adalah hari pertama diperbolehkannya berbuka dari seluruh hari pada bulan Ramadhan, yaitu ketika tenggelamnya matahari pada malam Hari Raya ldul Fithri. Jadi, barangsiapa meninggal dunia setelah matahari tenggelam, maka zakat fitri wajib baginya. Barangsiapa masuk Islam atau melahirkan setelah matahari tenggelam, maka zakat fitri tidak wajib baginya karena tidak ada sebab dari kewajiban tersebut.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *