HADITS 54 DARI KITAB TAUDHIHUL AHKAAM

وَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: ( لَوْ كَانَ اَلدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ اَلْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ, وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَن

  1. Dari Ali, dia berkata: Jika agama menggunakan akal (ar-ra’yu) tentu bagian bawah khuff lebih prioritas diusap daripada bagian atasnya. Sementara aku melihat Rasulullah mengusap bagian atas khuffnya. (HR. Abu Daud) dengan sanad hasan.

Peringkat hadits

Hadits ini shahih. Ia diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad hasan. Penulis dalam AtTalkhish mengatakan: Dalam masalah terdapat hadits Ali dengan sanad shahih.

Kosakata hadits

Lau : Kata syarth tidak lazim. la berfungsi menafikan sesuatu karena tidak adanya yang lain. Dalam hadits di atas, menjelaskan penafian syariat mengusap bagian atas khuff karena penafian bahwa hanya berdasarkan agama Allah hanya berdasarkan akal.

Ar Ra’yu. Pandangan akal, tanpa berdasarkan riwayat hadits atau naql (nash dari Allah dan Rasul-Nya).

Hal-hal penting dari hadits

  1. Kewajiban mengusap bagian atas khuff saja. Dengan begitu mengusap bagian lain tidak dianggap cukup. Juga tidak disyariatkan mengusap bagian atas bersama bagian lainnya, baik bagian bawah maupun bagian sisi-sisinya.
  2. Agama dibangun berdasarkan wahyu dari Allah atau periwayatan dari Rasulullah. Pandangan akal tidak menjadi pemutus. Dengan begitu yang wajib adalah mengikuti apa yang ditetapkan dalam nash, bukan membuat yang baru (bid’ah).
  3. Secara logika, seharusnya yang lebih utama diusap adalah bagian bawah khuff bukan bagian atasnya. Karena bagian bawah sering bersentuhan dengan tanah dan kemungkinan terkena najis lebih besar sehingga lebih layak dibersihkan. Namun yang wajib adalah mendahulukan naql (Al Qur’an dan Sunnah) daripada pandangan akal. Allah yang menetapkan syariat lebih mengetahui maslahat yang ingin diwujudkan. Ini tidak berarti agama Islam mengabaikan peranan akal. Penghormatan terhadap akal manusia dan mengarahkan kemampuannya merupakan bukti nyata pernyataan tadi. Allah berfirman,

“ .. Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (Qs. Yaasiin[36]: 68)

“.. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.”(Qs. Ar-Ruum [30]: 24)

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apa-apapun.”(Qs. Al Anfaal [8]: 22).

Akal merupakan karunia agung yang diberikan Allah kepada manusia. Maksudnya di sini adalah bahwa akal tidak dapat berdiri sendiri. Ia harus menerima syariat Allah secara tulus dan berusaha memahami rahasia-rahasia Allah dalam syariat-Nya. Jika ia dapat memahaminya maka itulah nikmat dari Allah untuknya. Jika tidak, maka ia harus menempuh jalan orang-orang yang berkata, “Kami beriman (kepada ayat-ayat yang mutasyabihat), semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” (Qs. Aali ‘Imraan [3]: 7)

  1. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang benar adalah agama sesuai dengan akal. Syariat Islam yang diturunkan Allah tidak bertujuan kecuali tujuan yang sama dengan diciptakannya akal. Namun, akal harus selamat dan benar. Ia tidak boleh dikalahkan oleh dorongan hawa nafsu. Ia juga tidak boleh lembek dan lemah. Hanya saja seperti diketahui, akal bukan merupakan tolok ukur syariat, tetapi sebaliknya syariat menjadi tolok ukur akal. Jika pandangan akal menerima hukum syara’ maka dipastikan akal tersebut normal dan bersih dari penyakit. Sebaliknya jika ada pandangan akal yang menolak hukum-hukum syara’, maka dapat dipastikan bahwa ia sakit.
  2. Kewajiban patuh terhadap perintah-perintah Allah dan Rasulullah. Kepatuhan ini merupakan puncak ibadah dan menjadi kepasrahan yang sempurna (total).
  3. Mungkin -wallahu a’Iam hikmah dibalik hukum ini ialah bahwa membasuh dengan air dapat merusak khuff Untuk itu cukup dengan cara mengusap sedikit untuk memberi kemudahan dan memelihara nilai ekonomis khuff. Mengusap berbeda dengan membasuh yang dapat menghilangkan najis dan membersihkan khuff Selama mengusap tidak dapat menghilangkan kotoran yang ada di bawah khuff maka mengusap bagian atasnya dapat menghilangkan kotoran debu yang menempel, karena bagian itulah yang tampak terlihat. Yang terbaik, tempat shalat betul-betul dalam kondisi bersih.
  4. Mengusap khuff yang diceritakan dalam hadits Al Mughirah masih mujmal (umum). Hadits ini berusaha menerangkan caranya.
  5. Para ulama berbeda pendapat apakah mengusap dilakukan pada seluruh bagian atas khuff atau hanya sebagiannya saja? Pendapat yang (kuat bahwa mengusap khuff hanya dilakukan pada bagian atas saja. Dan itulah yang disebutkan dalam hadits.
  6. Mereka juga berbeda pendapat apakah kedua khuff diusap secara bersamaan sebagaimana mengusap telinga, atau apakah dengan cara mendahulukan yang kanan? Pendapat yang kuat adalah mendahulukan yang kanan. Alasannya karena kedua kaki mempunyai berdiri sendiri secara terpisah, tidak seperti telinga yang ikut hukum kepala. Juga karena mengusap khuff adalah sub hukum dari membasuh kedua kaki, sementara dalam membasuh disunnahkan mendahulukan yang kanan. Di samping itu karena hadits Aisyah yang secara eksplisit menerangkan kesukaan Rasulullah mendahulukan bagian kanan saat bersuci. Perlu diingat bahwa mengusap kedua khuff termasuk bersuci. Untuk itu disunahkan mengusap khuff kanan dengan tangan kanan dan mengusap khuff bagian kiri dengan tangan kiri sambil merenggangkan jari-jari tangan. Meskipun begitu, bagaimanapun cara mengusap maka itu sudah dianggap cukup. Para ulama sepakat bahwa mengusap khuff cukup dilakukan satu kali, tidak disunnahkan berulang kali.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *