PENGHALANG-PENGHALANG ILMU

Menuntut ilmu memiliki beberapa penghalang yang menghalangi antara ilmu itu dan orang yang mencarinya. Di antara penghalang tersebut adalah:
1. Niat yang Rusak
Niat adalah dasar dan rukun amal. Apabila niat itu salah dan rusak, maka amal yang dilakukannya pun ikut salah dan rusak sebesar salah dan rusaknya niat.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه
”Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang akan mendapatkan apa yang diniatkan. Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai dengan apa yang ia niatkan.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1, 54, 2529), Muslim (no. 1907), Abu Dawud (no. 2201), at-Tirmidzi (no. 1647), an-Nasaai (I/85-60, VI/158-159, VII/13), dan Ibnu Majah (no. 4227), dari Shahabat ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
Sesungguhnya kewajiban yang paling penting untuk diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu adalah mengobati niat, memperhatikan kebaikannya, dan menjaganya dari kerusakan.
Imam Sufyan ats-Tsauri (wafat th. 161 H) rahimahullaah mengatakan, ”Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat untuk aku obati daripada niatku.” Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim (hal. 112).
Imam al-Hasan Ai-Bashri (wafat tahun 110 H) rahimahullaah menuturkan, “Siapa yang mencari ilmu karena mengharap negeri akhirat, ia akan mendapatkannya. Dan siapa yang mencari ilmu karena mengharap kehidupan dunia, maka kehidupan dunia itulah bagian dari ilmunya.” Imam az-Zuhri (wafat th. 124 H) rahimahullaah berkata, “Maka ilmu itulah bagian dari dunianya.” Iqtidha ala’Ilmi’ al-‘Amal (hal. 66, no. 103).
Imam Malik bin Dinar (wafat th. 130 H) rahimahullaah mengatakan, ”Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah Ta’ala, maka ilmu itu akan menolaknya hingga ia dicari hanya karena Allah.”
Baiknya niat merupakan penolong yang paling besar bagi seorang penuntut ilmu dalam memperoleh ilmu, sebagaimana dikatakan Abu ‘Abdillah ar-Rudzabari (wafat tahun 369 H) rahimahullaah, “Ilmu tergantung amal, amal tergantung keikhlasan, dan keikhlasan mewariskan pemahaman tentang Allah ‘Azza wa Jalla.”
Imam Ibrahim an-Nakha’i (wafat th. 96 H) rahimahullaah mengatakan, ”Barangsiapa mencari sesuatu berupa ilmu yang ia niatkan karena mengharap wajah Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan padanya.”
Hendaklah kita memperbaiki niat kita dalam menuntut ilmu dan menjauhi niat buruk yang hanya untuk memperoleh keuntungan duniawi. Karena, terkadang seorang penuntut ilmu terbetik niat dalam hatinya untuk tampil (ingin terkenal). Apabila ia benar-benar ingin mempelajari ilmu, membaca berbagai nash dan buku sejarah serta memperhatikan isinya, lalu ia termasuk orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah Ta’ala, hal itu akan menjadikannya sadar kembali, perhatiannya terhadap kitab-kitab itu membuatnya bersemangat kembali untuk berbuat kebenaran dan kebaikan. Adapun jika ia termasuk orang-orang yang dikalahkan hawa nafsu dan syahwatnya, hendaklah ia tidak mencela, kecuali kepada dirinya sendiri.
2. Ingin Terkenal dan Ingin Tampil
Ingin terkenal dan ingin tampil adalah penyakit kronis. Tidak seorang pun dapat selamat darinya, kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Ta’ala.
Apabila niat seorang penuntut ilmu adalah agar terkenal, ingin dielu-elukan, ingin dihormati, ingin dipuji, disanjung, dan yang diinginkannya adalah itu semua, maka ia telah menempatkan dirinya pada posisi yang berbahaya.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يا نعايا العرب، يا نعايا العرب (ثلاثا)،أخوف ما أخاف عليكم : الرياء،والشهوة الخفية.
“Wahai bangsa Arab, wahai bangsa Arab (tiga kali), sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah riya’ dan syahwat yang tersembunyi.”
Imam Ibnul Atsir (wafat th. 606 H) rahimahullaah mengatakan, “Maksud syahwat yang tersembunyi dalam hadits ini adalah keinginan agar manusia melihat amalnya.”
Mahmud bin ar-Rabi’ (wafat th. 66 H) radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Ketika kematian hendak menjemput Syaddad bin Aus radhiyallaahu ‘anhu (wafat th. 58 H), ia berkata, ‘Yang paling aku takutkan menimpa ummat ini adalah riya’ dan syahwat tersembunyi.” Dikatakan bahwa syahwat tersembunyi adalah seseorang ingin (senang) apabila kebaikannya dipuji.
Seorang hamba yang bergembira dan senang dihormati orang lantaran ilmu yang dimiliki dan amal yang dikerjakannya, maka ini menunjukkan bahwa adanya sifat riya’ (ingin dilihat orang lain) dan sum’ah (ingin didengar orang lain) dalam dirinya. Barangsiapa memperlihatkan amalnya karena riya’, maka Allah Ta’ala akan memperlihatkannya kepada manusia, dan barangsiapa memperdengarkan amalnya, maka Allah Ta’ala akan memperdengarkan amal (kejelekan)nya kepada manusia.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من سمّع سمّع الله به،ومن يرائي يرائي الله به
“Barangsiapa memperdengarkan (menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya. Dan barangsiapa beramal karena riya’, maka Allah akan membuka niatnya (di hadapan manusia pada hari Kiamat).”
Syahwat merupakan musibah, kecuali bagi orang yang hatinya ingat kepada Allah Ta’ala. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th. 241 H) rahimahullaah mendengar bahwa namanya disebut-sebut, beliau mengatakan, “Semoga ini bukan ujian bagiku.“
3. Lalai Menghadiri Majelis Ilmu
Para ulama Salaf mengatakan bahwa ilmu itu didatangi, bukan mendatangi. Tetapi, sekarang ilmu itu mendatangi kita dan tidak didatangi, kecuali beberapa saja.
Jika kita tidak memanfaatkan majelis ilmu yang sesuai dengan Sunnah dan pelajaran yang disampaikan, niscaya kita akan gigit jari sepenuh penyesalan. Seandainya kebaikan yang ada dalam majelis-majelis ilmu hanya berupa ketenangan bagi yang menghadirinya dan rahmat Allah yang meliputi mereka, cukuplah dua hal ini sebagai pendorong untuk menghadirinya. Lalu, bagaimana jika ia mengetahui bahwa orang yang menghadirinya – insya Allah – memperoleh dua keberuntungan, yaitu ilmu yang bermanfaat dan ganjaran pahala di akhirat?!
Seorang Muslim hendaklah sadar bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kemudahan kepada hamba-Nya dalam menuntut ilmu. Allah Ta’ala telah memberikan kemudahan dengan adanya beberapa fasilitas dalam menuntut ilmu, berbeda dengan zamannya para Salafush Shalih. Bukankah sekarang ini dengan mudahnya kita las dapatkan bekal untuk menuntut ilmu seperti uang, makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan?? Berbeda dengan para ulama Salaf, mereka sangat sulit mendapatkan hal di atas. Bukankah sekarang ini telah banyak didirikan masjid, pondok pesantren, majelis ta’lim, dan lainnya disertai sarana ruangan yang serba mudah, baik dengan adanya lampu, kipas las a, AC, dan lainnya??!! Bukankah sekarang ini berbagai kitab ilmu telah dicetak dengan begitu rapi, bagus, dan mudah dibaca??!! Lalu dimanakah orang-orang yang mau memanfaatkan nikmat Allah yang sangat besar ini untuk mengkaji dan mempelajari ilmu syar’i??? Bukankah sekarang sudah banyak ustadz-ustadz yang bermanhaj Salaf mengajar dan berdakwah di tempat (daerah) Anda, lantas mengapa Anda tidak menghadirinya?? Mengapa Anda tidak mau mendatangi majelis ilmu??
4. Beralasan dengan Banyaknya Kesibukan
Alasan ini dijadikan syaitan sebagai penghalang dalam menuntut ilmu. Berapa banyak saudara kita yang telah dinasihati dan dimotivasi untuk menuntut ilmu syar’I, tetapi syaitan menggoda dan membujuknya.
Orang yang menyia-nyiakan kesempatan mencari ilmu, maka kesibukannya membuat ia tidak dapat menghadiri majelis ilmu. Ia menjadikannya sebagai bahan las an yang sengaja dibuat-buat sehingga ketidakhadirannya di majelis ilmu memiliki las an yang jelas.
Berbagai kesibukan yang ada adalah penyebab utama yang menghalangi seorang penuntut ilmu menghadiri majelis ilmu dan memperoleh ilmu yang banyak. Tetapi, orang yang Allah Ta’ala bukakan mata hatinya, ia akan mengatur waktunya dan menggunakannya sebaik mungkin sehingga memperoleh manfaat yang banyak. Kalau seseorang mau berfikir secara wajar, mempunyai niat dan kemauan untuk menuntut ilmu, maka ia akan dapat mengatur waktunya dan Allah akan memudahkannya.
Oleh karena itu, pandai-pandailah mengatur waktu yang Allah Ta’ala berikan kepada kita. Berikanlah bagian untuk menuntut ilmu syar’i. Sisihkanlah satu atau dua hari dalam seminggu untuk menghadiri majelis ilmu jika tidak mampu melakukannya sesering mungkin. Jangan biarkan hari-hari kita penuh dengan kesibukan, namun kosong dari menuntut ilmu dan berdzikir kepada Allah Ta’ala. Ingat, bahwa orang yang tidak meghadiri majelis ilmu dan tidak mau menuntut ilmu syar’I, maka ia akan merugi di dunia dan di akhirat.
5. Menyia-nyiakan Kesempatan Belajar di Waktu Kecil
Seseorang akan iri apabila melihat orang-orang yang lebih muda daripadanya lebih bersemangat dan lebih awal mendatangi majelis ilmu. Ia akan merasa iri pada saat melihat anak-anak kecil dan para pemuda telah hafal Al-Qur-an. Ia menyesali masa mudanya yang tidak dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menghafal dan menuntut ilmu. Akibatnya, ketika ia berkeinginan menghafal dan menuntut ilmu di masa tuanya, banyak kesibukan dan banyak tamu yang mengunjunginya siang dan malam. Karena itulah al-Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullaah mengatakan, “Belajar hadits di waktu kecil bagai mengukir di atas batu.”
Oleh karena itu, sebelum kita disibukkan oleh orang lain, direpotkan berbagai urusan, dan menyesal seperti orang yang mengalaminya, maka manfaatkanlah masa muda untuk menuntut ilmu syar’i. Ini bukan berarti orang yang sudah tua boleh berputus asa dalam menuntut ilmu, namun seluruh umur yang kita miliki adalah kesempatan untuk menuntut ilmu karena itu adalah ibadah. Allah Ta’ala berfirman,
وَاْعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ
“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datangnya keyakinan (kematian). “ (QS. Al-Hijr: 99)
Oleh karena itu, para remaja maupun orang tua, laki-laki maupun wanita, segeralah bertaubat kepada Allah Ta’ala atas segala apa yang telah luput dan berlalu. Sekarang mulailah menuntut ilmu, menghadiri majelis ta’lim, belajar dengan benar dan sungguh-sungguh, dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya sebelum ajal tiba.
Ketika ditanyakan kepada Imam Ahmad, “Sampai kapankah seseorang menuntut ilmu?” Beliau pun menjawab, “Sampai meninggal dunia (mati).”
6. Bosan dalam Menuntut Ilmu
Di antara penghalang menuntut ilmu adalah merasa bosan dan beralasan dengan berkonsentrasi mengikuti informasi terkini guna mengetahui peristiwa yang sedang terjadi.
Ilmu yang kita cari mendorong kita untuk mengetahui keadaan kita. Kita tidak akan ias mengatasi berbagai masalah dan musibah yang menimpa, kecuali dengan meletakkannya pada timbangan syari’at. Seorang penyair mengatakan,
الشرع ميزان الأمور كلها وشاهد لفرعها وأصلها
Syari’at adalah timbangan semua permasalahan,
dan saksi atas cabang masalah dan pokoknya. Ishlaahul Masaajid minal Bida’ wal ‘Awaa-id (hal. 110), karya al-‘Allamah Muhammad bin Jamaluddin al-Qasimi rahimahullaah.
Orang yang enggan menuntut dan menghafalkan ilmu, namun menyibukkan diri dengan mengikuti berita koran, majalah, radio, televisi, internet, dan mencurahkan waktu dan tenaganya untuk hal yang demikian dengan alasan mengetahui fiqhul waqi’ (fiqih realita), kemudian berupaya mengatasi permasalahan dengan pandangannya yang kerdil tanpa merujuk kepada para ulama, maka ia merugi dan ia akan mengetahui kerugiannya nanti di kemudian hari.
Sangat disayangkan, banyak aktifis muda yang marah apabila larangan Allah Ta’ala dilanggar dan menangis karena larangan Allah Ta’ala dilecehkan, namun mereka meremehkan berbagai kemaksiyatan yang lainnya seperti ghibah, namimah, dan lainnya. Mereka tidak melaksanakan shalat seperti contoh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau bersabda,
صلوا كما رأيتموني أصلي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat!” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 631, 6008, 7246), dari Shahabat Malik bin al-Huwairits radhiyallaahu ‘anhu.
Mereka pun tidak berwudhu’ seperti wudhu’nya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau bersabda,
من توضأ كما أمر وصلى كما أمر غفر له ما تقدم من ذنبه
”Barangsiapa berwudhu’ seperti yang diperintahkan dan shalat seperti yang diperintahkan, diampunilah dosadosanya yang telah lalu.” Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/423), an-Nasa-I (I/90-91), Ibnu Majah (no. 1396), Ibnu Hibban (no. 1039), dan ad-Darimi (I/182), ini lafazh Ibnu Hibban dari Shahabat Abu Ayyub dan ‘Uqbah bin ”Amir radhiyallaahu ‘anhuma
Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan ada obatnya. Tidaklah musibah terjadi, melainkan ada jalan keluar dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah. Ini adalah perkara yang tidak diragukan lagi.
Oleh karena itu, jangan sekali-kali Anda berpaling atau bosan dalam menuntut ilmu. Belajarlah sampai Anda mendapatkan nikmatnya menuntut ilmu. Informasi yang paling baik, benar dan akurat adalah informasi dari Al-Qur-an dan Sunnah yang shahih menurut pemahaman Salafush Shalih.
7. Menilai Baik Diri Sendiri
Maksudnya adalah merasa bangga apabila dipuji dan merasa senang apabila mendengar orang lain memujinya.
Memang pujian manusia kepada Anda merupakan kabar gembira yang disegerakan Allah Ta’ala bagi Anda. Diriwayatkan dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah (wafat th. 32 H) radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, ”Ditanyakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Bagaimana pendapat Anda tentang seseorang yang melakukan kebaikan, kemudian manusia memujinya karena perbuatan tersebut?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
تلك عاجل بشرى المؤمن
‘Itu adalah kabar gembira yang Allah segerakan bagi seorang mukmin.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2642)
Tetapi, berhati-hatilah jika Anda merasa gembira ketika dipuji dengan apa yang tidak Anda miliki. Sekali lagi berhati-hatilah agar hal ini tidak menimpa Anda. Ingatlah firman Allah Ta’ala mengenai celaan-Nya terhadap suatu kaum,
…ويحبون أن يحمدوا بما لم يفعلوا…
”…Dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan… ” (QS. Ali ‘Imran: 188)
Kemudian ingatlah bahwa merasa diri baik itu pada umumnya adalah perbuatan tercela, kecuali pada beberapa perkara yang sesuai dengan aturan-aturan syari’at.
Allah Ta’ala berfirman,
…فلا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertaqwa. “ (QS. An-Najm: 32)
Begitu juga ingatlah celaan Allah Ta’ala kepada Ahli Kitab,
ألم تر إلى الذين يزكوا أنفسهم بل الله يزكي من يشاء ولا يظلمون فتيلا
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci (orang Yahudi dan Nasrani)? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizhalimi sedikit pun. “ (QS. An-Nisaa’: 49)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تزكوا أنفسكم،الله أعلم بأهل البر منكم
”Janganlah menganggap diri kalian suci, Allah lebih mengetahui orang yang berbuat baik di antara kalian.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2142 (19)) dari Shahabiyah Zainab binti Abi Salamah radhiyallaahu ‘anha.
Boleh saja seseorang merasa dirinya baik dalam beberapa hal, sebagaimana telah kami sebutkan tadi. Misalnya perkataan Nabi Yusuf ‘alaihis salaam,
قال اجعلني على خزائن الأرض إني حفيظ عليم
”Dia (Yusuf) berkata, ‘]adikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)
Tetapi pada umumnya merasa diri baik dan suka dipuji adalah di antara pintu masuk syaitan kepada hamba-hamba Allah Ta’ala. Karena itu, berhati-hatilah agar Anda tidak menjadi orang yang suka dan bangga apabila dipuji dan jangan berusaha untuk mendengarkan pujian-pujian itu.
Apabila Anda ingin mengetahui bahaya senang dipuji, perhatikanlah ketaatan Anda yang mulai menurun, lalu perhatikanlah orang yang memuji Anda. Sungguh, seandainya ia mengetahui apa yang tidak terlihat olehnya tentang diri dan amal Anda yang tidak diridhai Allah Ta’ala, apakah ia akan tetap memuji Anda??!l ‘
Pelajaran yang dapat dipetik di sini adalah hendaklah kita berhati-hati terhadap sikap menganggap baik diri sendiri. Hendaklah kita berhati-hati dari perbuatan mencantumkan gelar pada nama dengan gelar yang tidak kita miliki. Sebab, barangsiapa tergesa-gesa untuk mendapatkan sesuatu sebelum Waktunya, maka ia tidak akan mendapatkannya.
8. Tidak Mengamalkan Ilmu
Tidak mengamalkan ilmu merupakan salah satu penyebab hilangnya keberkahan ilmu. Orang yang memilikinya akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmunya. Allah Ta’ala benar-benar mencela orang yang melakukan hal ini dalam firman-Nya.
يا أيها الذين آمنوا لم تقولون ما لا تفعلون(2)كبر مقتا عند الله أن تقولوا ما لا تفعلون(3)
”Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Hal (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. ” (QS. Ash-Shaff: 2-3)
Tidak mengamalkan ilmu terbagi menjadi dua:
Pertama: Meninggalkan perintah-perintah syari’at dan melakukan berbagai hal yang diharamkan syari’at. Hal ini termasuk dosa besar dan kepadanyalah ditujukan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang ancaman tidak mengamalkan ilmu.
Kedua: Meninggalkan perkara-perkara yang dianjurkan dan mengerjakan perkara-perkara yang dimakruhkan. Terkadang hal ini dicela, namun tidak masuk dalam nash-nash ancaman. Tetapi, sudah seharusnya bagi seorang alim dan para penuntut ilmu untuk melakukan berbagai perkara yang dianjurkan dan menjauhkan berbagai perkara yang dimakruhkan. Lihat ‘Awaa-iquth Thalab (hal. 23-24), karya ‘Abdus Salam bin Barjas Aal ‘Abdul Karim.
‘Ali bin Abi Thalib (wafat th. 40 H) radhiyallaahu ‘anhu mengatakan, “Ilmu itu memanggil amal. Jika ia memenuhi panggilan tersebut (maka itu baik), dan jika tidak ia akan pergi.” Iqtidhaa’ al-‘Ilmi ala’Amal (no. 40). Perkataan yang serupa diriwayatkan juga dari Ibnu Munkadir, Sufyan ats-Tsauri, dan Waki’ bin Jarrah. Lihat ]aami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/707, no. 1274) dan al-Iqtidhaa’ (no. 41).
Mengapa demikian? Karena ilmu dan amal adalah dua perkara yang saling berkaitan. Bisa jadi keduanya berkumpul dan a n jadi keduanya berpisah. Apabila ada ilmu yang tidak diiringi dengan amal, maka orang yang memilikinya akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu tersebut.
Imam adz-Dzahabi rahimahullaah menggambarkan kondisi di zamannya dalam perkataannya, ”Hari ini, tidak tersisa dari ilmu-ilmu yang sedikit ini kecuali sangat sedikit a nada pada orang tertentu saja. Begitu sedikitnya orang yang mengamalkan di antara mereka yang berilmu sedikit itu. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia-lah sebaik-baik penolong.” Tadzkiratul Huijaazh (III/157), karya al-Hafizh adz-Dzahabi, cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah.
9. Putus Asa dan Rendah Diri
Wahai para penuntut ilmu! Kita, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Hajar a1-‘Asqalani (wafat th. 852 H), dan ulama-ulama lainnya sama-sama disebutkan dalam firman Allah,
والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والأبصار والأفئدة لعلكم تشكرون
”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur. ” (QS. AnNahl: 78)
Kita semua adalah orang yang disebutkan dalam ayat di atas. Ayat ini menyatakan bahwa semua manusia itu sama.
Putus asa dan tidak percaya diri merupakan salah satu sebab tidak diperolehnya ilmu. Jangan merasa rendah diri dengan lemahnya kemampuan menghafal, lemah dalam pemahaman, lambat dalam membaca, atau cepat lupa… Semua penyakit ini akan hilang jika kita meluruskan niat dan mencurahkan usaha.
Imam al-Bukhari (wafat th. 256 H) rahimahullaah pernah ditanya, “Apakah obat lupa itu?” Beliau menjawab, “Senantiasa melihat ke kitab.” (Yaitu selalu membaca dan mengulanginya). Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa fadhlihi (II/1227, no. 2414)
Selain itu, menjauhi maksiyat adalah sebab paling utama dalam membantu menguatkan hafalan. Jadi kita tidak boleh putus asa dan rendah diri, namun kita harus bersungguh-sungguh dan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.
10. Terbiasa Menunda-nunda
Seorang ulama Salaf berkata, ”Menunda-nunda adalah termasuk tentara iblis.”
Sebagian penuntut ilmu terbiasa menunda-nunda belajarnya dalam waktu lama. Mereka mengatakan, “Saya akan menghafalkan kitab si fulan pada hari anu. Saya akan membaca kitab si fulan setelah melakukan ini dan itu.”
Yusuf bin Asbath (wafat th. 195 H) rahimahullaah berkata, “Muhammad bin Samurah as-Sa-ih menulis surat kepadaku sebagai berikut, ‘Wahai saudaraku, janganlah sifat menunda-nunda menguasai jiwamu dan tertanam dalam hatimu karena ia membuat lesu dan merusak hati. Ia memendekkan umur kita, sedangkan ajal segera tiba… Bangkitlah dari tidurmu dan sadarlah dari kelalaianmu! Ingatlah apa yang telah engkau kerjakan, engkau sepelekan, engkau sia-siakan, engkau hasilkan, dan apa yang engkau lakukan. Sungguh, semua itu akan dicatat dan dihisab sehingga seolah-olah engkau terkejut dengannya dan engkau sadar dengan apa yang telah engkau lakukan, atau menyesali apa yang telah engkau sia-siakan.” Iqtidha’ al-‘Ilmi al-‘Amal (hal. 114, no. 201).
Setiap orang yang ingin mendapatkan ilmu dan ingin berkepribadian sebagaimana orang yang berilmu, hendaklah tidak menyia-nyiakan waktunya sedikit pun. Sesungguhnya jika seseorang mau membaca sejarah tentang kesungguhan ulama Salaf dalam memanfaatkan waktunya ia akan merasa takjub sekaligus heran.
11. Belajar kepada Ahlul Bid’ah
Seorang penuntut ilmu tidak boleh belajar kepada Ahlul bid’ah karena ia (ahlul bid’ah) merasa ridha dengan sesuatu yang menyelisihi agama Allah, seolah-olah ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala belum menyempurnakan agama ini dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam belum sempurna dalam menyampaikan seluruh risalah.”
Tidak diragukan apabila seorang penuntut ilmu bermajelis dengan orang yang memiliki sifat di atas maka ia akan memperoleh kejelekan, dan tidak ada yang datang kepadanya, kecuali berbagai kerusakan. Karena, meskipun orang yang bermajelis dengannya tidak mengamalkan bid’ahnya, maka paling tidak ia mendapatkan syubhat (keraguan) darinya sehingga ia menjadi bingung dalam segala urusannya; Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنما مثل الجليس الصالح والجليس السوء كحامل مسك ونافخ الكير فحامل المسك إما أن يحذيك وإما أن تبتاع منه وإما أن تجد ريحا طيبة ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد ريحا خبيثة
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk hanyalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, ias jadi ia memberikanmu minyak, atau engkau membeli darinya, atau engkau mene dapatkan aroma yang harum darinya. Sedangkan pandai besi, ias jadi _ia membakar bajumu atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/408), al-Bukhari (no. 2101, 5534) dan Muslim (no. 2628), lafazh ini milik Muslim, dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu.
Imam an-Nawawi (wafat th. 676 H) rahimahullaah berkata mengomentari hadits ini, “Di dalam hadits ini terdapat keutamaan bermajelis dengan orang-orang shalih, orang-orang yang memiliki kebaikan, akhlak mulia, wara’, ilmu, dan adab… Dan (di dalamnya juga terdapat) larangan bermajelis dengan pelaku kejahatan, ahlul bid’ah, orang-orang yang membicarakan aib orang lain, dan yang selainnya dari berbagai macam perbuatan tercela.” Syarah Shahiih Muslim lin Nawawi (WI/178).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عند الأصاغر
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah dipelajarinya ilmu dari al-ashaaghir. “ Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitab az-Zuhd (no. 52), Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-laami’ (I/612, no. 1051 dan 1052), ath-Thabrani dalam al-Kabiir (XXII/908), dari Abu Umayyah al-Iumahi radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 695).
Imam Ibnul Mubarak (wafat th. 181 H) rahimahullaah ditanya tentang al-ashaaghz’r? Beliau menjawab, “Al-ashaaghir adalah ahlul bid’ah.“ Lihat Syarah Ushuul I ‘tiqad Ahlus Sunnah wal jama’ah (I/95, no. 102).
Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu mengatakan,
لا يزال الناس بخير ما أتاهم العلم من قبل أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم وأكابرهم فإذا أتاهم العلم من قبل أصاغرهم فذلك حين هلكوا
“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari para Shahabat Nabi Muhammad shallalaahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama Ahlus Sunnah. Apabila mereka mengambil ilmu dari ahlul bid’ah, maka itulah saat kebinasaan mereka.” Atsar shahih: Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitab az-Zuhd (no. 764), ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf (no. 20446, 20483), dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-jaami’ Bayaanil ”Ilmi wa Fadhlihi (I/617, no. 1060).
Yang dimaksud dengan al-akaabir adalah ulama Ahlus Sunnah yang memahami Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman para Shahabat. Dan yang dimaksud dengan al-ashaaghir adalah ahlul bid’ah. Ta’liq Syaikh Ahmad Farid atas kitab az-Zuhd karya Imam Ibnul Mubarak (hal. 425).
Para ulama telah mengecam duduk-duduk bersama Ahlul Bid’ah, maka bagaimana dengan mengambil ilmu dari mereka??!!
Imam al-Hasan al-Bashri dan Ibnu Sirin (wafat th. 110 H) rahimahumallaah mengatakan, “Janganlah kalian bermajelis dengan pengikut hawa nafsu (ahlul bid’ah), jangan berdebat dengan mereka, dan jangan mendengarkan perkataan mereka.” Diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam Sunannya (I/110). Lihat Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal jama’ah (hal. 528-536).
Adapun las an dilarangnya mendengarkan ilmu dari ahlul bid’ah adalah agar namanya tidak terkenal, pengikutnya menjadi sedikit, dan selamat dari berbagai syubhatnya. Dinukil dari ath-Thariiq ilal ‘Ilmi (hal. 87-88) dengan sedikit perubahan dan tambahan.
Bersungguh-sungguhlah dalam menimba ilmu dari para ulama atau para ustadz yang memang telah dikenal keteguhannya dalam memegang Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih.
Peringatan:
Pada zaman sekarang ini, tolok ukur manusia dalam menilai sesuatu sudah rusak. Mereka menganggap bahwa “orang alim/ulama” adalah setiap orang yang dapat memberikan nasehat yang dapat menyentuh hati atau memberikan ceramah dengan semangat berapi-api, atau khutbah jum’at dengan retorika yang mengesankan. Mereka inilah yang dianggap sebagai ulama sehingga orang-orang awam belajar dengan mereka, bahkan meminta fatwa dari mereka. Wallaahul Musta’aan.
Oleh karena itu, jauhilah kebiasaan masyarakat awam yang mengambil ilmu dari para pemberi nasihat dan khatib Jum’at yang mereka anggap sebagai orang alim karena hal itu berarti menyandarkan ilmu bukan kepada ahlinya. Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya hari Kiamat. Karena, tidak semua orang yang pandai dalam memberikan nasehat, ceramah, maupun khutbah ]um’ at adalah orang alim. Ini bukan berarti kita tidak boleh mendengar nasihat dan khutbah mereka, namun maksudnya adalah tidak boleh mengambil (belajar) ilmu syar’I kepada mereka, dan tidak menempatkan mereka pada kedudukan ulama. Allah-lah yang memberikan taufiq. Dinukil dari ‘Awaaiquth Thalab (hal. 33-34) dengan sedikit perubahan.
Imam Muhammad bin Sirin (wafat th. 110 H) rahimahullaah mengatakan,
إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian?” Diriwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah kitab Shahiihnya (I/ 14).
Imam Malik bin Anas rahimahullaah mengatakan, ”Tidak boleh menuntut ilmu dari empat orang: (1) orang bodoh yang menampakkan kebodohannya meskipun banyak meriwayatkan hadits, (2) ahlu bid’ah yang mengajak kepada hawa nafsunya, (3) orang yang berdusta saat berbicara dengan orang lain meskipun ia tidak berdusta dalam meriwayatkan hadits, dan (4) orang shalih ahli ibadah namun tidak memahami apa yang ia katakana.” Siyar A’laamin Nubalaa’ (VI/ 61).
Syaikh Bakr Abu Zaid hafizhahullaah mengatakan, “Wahai para pelajar! Jadilah Salafi sejati (ikutilah jejak para ulama Salaf). Hati-hatilah jangan sampai para ahli bid’ah mencelakakanmu karena mereka banyak membuat jalan untuk menjegalmu. Mereka bungkus semua itu dengan ucapan yang manis seperti madu padahal ia adalah madu yang pahit dan kucuran air mata, indah kulit luarnya dengan tipuan dan khayalan belaka, mempertontonkan keluarbiasaan yang dianggap “karamah”, menjilati tangan serta mencium pundak?? Tidaklah semua itu melainkan bara buatan ahli bid’ah dan panasnya api fitnah yang ditanamkan dalam hatimu yang akan menjeratmu dalam lingkaran syaitannya. Demi Allah! Tidaklah orang yang buta bisa menuntun dan memberi petunjuk untuk memimpin orang-orang buta sepertinya.” Hilyah Thaalibil ‘Ilmi (hal. 42).
12. Tergesa-gesa Ingin Memetik Buah Ilmu
Seorang penuntut ilmu tidak boleh tergesa-gesa dalam usahanya untuk memperoleh ilmu. Menuntut ilmu tidak cukup dilakukan satu atau dua tahun karena yang demikian ‘ menyalahi jalan Salafush Shalih. Menuntut ilmu agama tidak bisa melalui jalan kursus atau belajar dengan singkat. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam saja menerima wahyu selama 23 tahun.
Sebagian pelajar ada yang menyangka bahwa menuntut ilmu laksana santapan lezat dan minuman segar, yang cepat terlihat hasil dan manfaatnya sehingga ia beranggapan dalam hatinya bahwa setelah berlalu satu tahun-atau lebih bahkan kurang-dari umurnya yang ia habiskan untuk menuntut ilmu, maka ia akan menjadi seorang berilmu yang ahli. Ini adalah pendapat yang keliru, gambaran yang rusak, dan cita-cita yang rendah. Bahaya yang ditimbulkannya sangat besar dan kerusakannya sangat luas karena dapat mendorong pelakunya berbicara tentang agama Allah Ta’ala tanpa ilmu, menganggap dirinya hebat, dan akhirnya mencintai kesombongan dan merasa sudah alim, padahal ia belum layak untuk itu. Lihat ‘Awaa-iqath Thalab (hal. 57) dengan sedikit perubahan.
Orang yang memperhatikan keadaan para Salaf, maka ia akan merasa heran sekaligus takjub dengan kegigihan mereka dalam berusaha memperoleh ilmu secara terus-menerus.
Mereka tidak merasa lemah, pantang menyerah, dan tidak pernah sombong. Semboyan mereka adalah ‘Menuntut ilmu dari pangkuan sang ibu sampai masuk liang lahat’. Semboyan ini bukanlah hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Imam Yahya bin Abi Katsir (wafat tahun 132 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu tidak bisa diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan.” Diriwayatkan oleh Muslim (no. 612 (175)) dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam ]aami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (1/385, no. 554).
Imam Ibnul Madini (wafat tahun 234 H) rahimahullaah mengatakan, “Dikatakan kepada Imam asy-Sya’bi (wafat th. 105 H) rahimahullaah, ‘Dari mana Anda peroleh semua ilmu ini?’ Beliau menjawab, ‘Dengan tidak bergantung pada manusia, menjelajahi berbagai negeri, bersabar seperti sabarnya benda mati, dan berpagi-pagi mencarinya seperti berpagi-paginya burung gagak!” Tadzkiratul Hufaazh (I/64).

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *