RIBA HARTA HARAM

1. DEFINISI RIBA

Riba di dalam bahasa Arab berarti “bertambah”. Maka segala sesuatu yang bertambah dinamakan riba.

Menurut istilah, riba berarti: menambahkan beban kepada pihak yang berhutang (dikenal dengan riba dayn) atau menambahkan takaran saat melakukan tukar menukar 6 komoditi (emas, perak, gandum, sya’ir, kurma dan garam] dengan jenis yang sama, atau tukar-menukar emas dengan perak dan makanan dengan makanan dengan cara tidak tunai (dikenal dengan riba Ba’i).

2. SEJARAH RIBA

Riba merupakan penyakit ekonomi masyarakat yang telah dikenal lama dalam peradaban manusia. Beberapa pakar ekonomi memperkirakan bahwa riba telah ada sejak manusia mengenal uang (emas dan perak). Riba dikenal pada masa peradaban Farao di Mesir, peradaban Sumeria, Babilonia dan Asyuriya di Irak, dan peradaban Ibrani Yahudi. Termaktub dalam kitab perjanjian lama bahwa diharamkan orang Yahudi mengambil riba dari orang Yahudi, namun dibolehkan orang Yahudi mengambil riba dari orang di luar Yahudi.

Tidak dapat dipastikan kebenaran perkiraan di atas kecuali keberadaan riba pada peradaban Yahudi. Karena Alquran menjelaskan bahwa Bani Israel (umat Nabi Musa ‘alaihis salam] melakukan riba dan Allah-pun telah melarang mereka memakan riba. Allah berfirman,

فبظلم من الذين هادوا حرمنا عليهم طيبات أحلت لهم وبصدهم عن سبيل الله كثيرا (160) وأخذهم الربا وقد نهوا عنه وأكلهم أموال الناس بالباطل وأعتدنا للكافرين منهم عذابا اليما (161)

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan] yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, ank arena mereka banyak menghalangi (manusia] dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, ank arena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. (An Nisaa: 160-161).

Kemudian umat Yahudi memperkenalkan riba kepada bangsa arab di semenanjung Arabia, tepatnya di kota Thaif dan Yatsrib (kemudian dikenal dengan Madinah). Di dua kota ini Yahudi berhasil meraup keuntungan yang tak terhingga, sampai-sampai orang-orang Arab jahiliyah menggadaikan anak, istri, dan diri mereka sendiri sebagai jaminan utang riba. Bila mereka tidak mampu melunasi utang maka jaminan mereka dijadikan budak Yahudi.

Dari kota Thaif praktik riba menjalar ke kota Makkah dan dipraktikkan oleh para bangsawan kaum Quraisy jahiliyah. Maka riba marak di kota Makkah. Sebagaimana yang kita ketahui dalam khutbah Rasulullah di Arafah pada haji wada’ beliau bersabda,

وربا الجاهلية موضوع وأول ربا أضع ربانا ربا عباس بن عبد المطلب فإنه موضوع كله

“Riba jahiliyah telah dihapuskan. Riba pertama yang kuhapuskan adalah riba Abbas bin Abdul Muthalib, sesungguhnya riba telah dihapuskan seluruhnya”. (HR. Muslim).

Bentuk-bentuk riba yang dilakukan orang-orang jahiliyah adalah sebagai berikut:

  • Seseorang memberikan pinjaman 10 keping uang emas selama waktu yang ditentukan dengan syarat nanti dibayar sebanyak 11 keping uang emas.
  • Seseorang meminjam 10 keping uang emas, bila jatuh tempo pelunasan dan ia belum mampu membayar, ia mengatakan, “Beri saya masa tangguh, nanti piutang anda akan saya tambah”.
  • Seseorang memberikan pinjaman modal usaha 100 keping uang emas. Setiap bulannya ia mendapat bunga 2 keping uang emas. Bila telah Sampai masa yang ditentukan, si peminjam harus mengembalikan modal utuh sebanyak 100 keping uang emas. Jika ia telat melunasi maka ia harus membayar denda keterlambatan yang terkadang rasionya lebih besar dari pada bunga bulanan.
  • Seseorang membeli barang dengan cara tidak tunai. Bila dia belum melunasi hutang pada saat jatuh tempo maka ia harus membayar denda keterlambatan selain melunasi hutang pokok.

3. HUKUM RIBA

Tidak seorang muslimpun yang menyangkal haramnya okum riba. Teks Alquran begitu jelas menyatakan bahwa Allah telah mengharamkan riba. Allah berfirman,

وأحل البيع وحرم الربا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Al-Baqarah: 275).

Kemudian Allah juga memerintahkan orang-orang beriman untuk menghentikan praktik riba. Allah berfirman,

يا أيها الذين ءامنوا اتقوا الله وذروا ما بقي من الربا إن كنتم مؤمنين

“Hai orangorang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orangorang yang beriman “. (Al-Baqarah: 278).

Dan Allah mengancam akan memerangi orang-orang yang tidak menuruti perintahNya untuk meninggalkan riba. Allah berfirman,

فإن لم تفعلوا فأذنوا بحرب من الله ورسوله

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), makq ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu” (Al-Baqarah: 279).

Ketika imam Malik ditanya oleh seseorang yang mengatakan, “Istri saya tertalak jika ada yang masuk ke dalam rongga anak Adam lebih buruk daripada khamr”. la berkata,” Pulanglah, aku cari dulu jawaban pertanyaanmu! Keesokan harinya orang tersebut datang dan Imam Malik mengatakan hal serupa. Setelah beberapa hari orang itu datang kembali dan imam Malik berkata,”]strimu tertalak. Aku telah mencari dalam seluruh ayat Al-quran dan hadis Nabi tidak aku temukan yang paling buruk yang masuk ke rongga anak Adam selain Riba, karena Allah memberikan sanksi pelakunya dengan berperang melawan-Nya”.

Dan Allah berjanji akan memasukkan pelaku riba ke dalam neraka kekal selamanya. Allah berfirman,

وأحل البيع وحرم الربا فمن جاءه موعظة من ربه فانتهى فله ما سلف وأمره إلى الله ومن عاد فأولئك أصحاب النار هم فيها خالدون

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orangorang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum ating larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka mereka kekal di dalamnya”. (Al- Baqarah: 275).

Di dalam hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar seorang muslim menjauhi riba karena riba termasuk salah satu dari tujuh dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجتنبوا السبع الموبقات قالوا : يا رسول الله وما هن ؟ قال : الشرك بالله والسحر وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق وأكل الربا وأكل مال اليتيم والتولي يوم الزحف وقذف المحصنات المؤمنات الغافلات

”]auhi tujuh hal yang membinasakan! Para sahabat berkata, ”Wahai, Rasulullah! Apakah itu? Beliau bersabda, ”Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah tanpa haq, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang dan menuduh wanita beriman yang lalai berzina”. [Muttafaq ‘alaih).

Diriwayatkan dari Baraa’ bin ‘Azib radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الربا اثنان وسبعون بابا أدناها مثل إتيان الرجل أمه

“Dosa riba terdiri dari 72 pintu. Dosa riba yang paling ringan adalah bagaikan seorang laki-laki yang menzinai ibu kandungnya”. (HR. Thabrani. Salah seorang perawi hadis ini bernama Umar bin Rashid. Ia didhaifkan oleh mayoritas ulama hadis. Akan tetapi ‘Ajluni mentsiqahkannya dan hadis ini dinyatakan shahih li ghairihi oleh Al Albani).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إن الدرهم يصيبه الرجل من الربا أعظم عند الله في الخطيعة من ست وثلاثين زنية يزنيها الرجل

“Sesungguhnya 1 dirham yang didapatkan oleh seorang laki-laki dari hasil riba lebih besar dosanya di sisi Allah daripada berzina 36 kali”. (HR. Ibnu Abi Dunya. Al Albani menyatakan derajat hadis ini shahih lighairihi.

Begitu besarnya dosa riba, pantas Rasulullah melaknat pelakunya, sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu,

لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم آكل الربا ومؤكله وكاتبه وشاهديه وقال : هم سواء

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutuk orang yang makan harta riba, yang memberikan riba, penulis transaksi riba dan kedua saksi transaksi riba. Mereka semuanya sama (berdosa) (HR. Muslim].

4. MENANGGAPI TEORI YANG MENGHALALKAN RIBA

Teks-teks Alquran dan hadis di atas begitu jelas menyatakan bahwa riba diharamkan. Dan tidak mungkin seorang muslim meragukannya. Akan tetapi, dewasa ini ada beberapa teori ekonomi yang membenarkan riba. Seolah-olah riba memang sebuah keharusan agar tercapainya keadilan.

Teori-teori ini dibuat oleh para ekonom barat dikarenakan pada awal abad pertengahan gereja katolik begitu gencarnya melarang praktik riba (usury) dalam komunitas masyarakat Eropa. Akan tetapi seiring dengan kemajuan perdagangan di Eropa dan menguatnya pengaruh undang-undang Romawi yang melegalkan interest (yang pada asal katanya, berarti: ganti rugi keterlambatan pelunasan hutang, maknanya lebih sempit daripada riba) dan melemahnya pengaruh gereja maka para ekonom Eropa menggunakan kata interest (yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan: bunga) sebagai ganti dari kata usury yang diharamkan gereja, namun dalam egaratgy ekonomi makna dua kata ini tidak berbeda.

Untuk melegalkan riba, para ekonom tersebut berpacu membuat teori-teori pendukungnya.

Mengingat teori-teori tersebut beredar di kalangan umat islam yang terkadang membuat mereka ragu akan kesempurnaan agamanya maka dirasa perlu untuk menanggapi teori-teori tersebut.

a. Teori Agio, yaitu: uang yang ada saat ini lebih bernilai dari pada uang yang ada di masa mendatang dari 2 sisi:

  • Manusia secara naluriyah lebih mengedepankan uang yang ada saat ini.
  • Uang selalu mengalami inflasi setiap harinya, maka bunga dianggap sebagai penutup inflasi yang terjadi pada uang kreditur. Oleh karena itu, kreditur berhak menarik bunga berdasarkan rasio inflasi sebagai ganti rugi dari turunnya nilai uang yang dipinjamkan.

Tanggapan: teori ini dapat ditanggapi sebagai berikut:

  1. Sebenarnya, penyebab utama terjadinya inflasi adalah bunga, karena pihak produsen selalu memasukkan bunga yang harus dibayar kepada kreditur ke dalam biaya produksi yang tentunya mempengaruhi harga jual suatu barang. Setiap kali rasio bunga naik maka harga jual suatu barang pasti naik. Maka tidak mungkin masalah inflasi diselesaikan dengan cara penghitungan bunga yang merupakan sebab utama terjadinya inflasi.
  2. Uang pinjaman yang diberikan oleh kreditur jika tetap berada di tangannya juga pasti terkena inflasi. Jadi penyebab inflasi bukan karena uang itu berada di tangan debitur. Karena kenyataannya inflasi berakibat kepada semua orang.
  3. Terkadang yang terjadi adalah sebaliknya di mana daya beli sebuah mata uang menguat. Namun tidak seorangpun yang mengatakan bahwa pihak debitur berhak mendapat bunga dari uang yang dia pinjam sebagai ganti deflasi. Bahkan pihak kreditur tidak akan menerima hal ini, padahal seharusnya keuntungan berimbang dengan kerugian.
  4. Teori Heek, yaitu: waktu memiliki nilai sebagaimana nilai yang dimiliki sebuah barang, maka bunga yang diberikan oleh debitur adalah sebagai imbalan nilai waktu dari uang yang dipinjamkan.

Tanggapan: tidak dapat dibenarkan bahwa waktu memiliki nilai sebagaimana nilai yang dimiliki oleh jasa dan barang. Buktinya seseorang yang tidak memiliki jasa dan barang akan tetapi memiliki waktu yang sangat panjang (pengangguran), apakah waktu tersebut memiliki nilai yang harus diberi imbalan? Tentu tidak, akan tetapi waktu yang memiliki nilai yaitu waktu yang berkaitan dengan jasa dan barang.

b. Teori Adam Smith, yaitu: rasio laba (profit) umumnya lebih tinggi daripada bunga (interest], maka bunga adalah sebagai ganti rugi untuk kreditur atas sebagian laba yang tertunda karena uangnya dipakai debitur, sedangkan sebagian laba lagi untuk debitur. Dengan demikian, kedua belah pihak sama-sama mendapat laba.

Tanggapan: riba tidak mungkin merupakan hubungan saling menguntungkan antara peminjam dan pemberi pinjaman. Riba pada hakikatnya merupakan kezaliman terhadap pihak peminjam. Karena pemberi pinjaman hanya mau menerima sebagian laba bila pihak peminjam mendapatkan laba, akan tetapi dia tidak mau menerima sebagian kerugian bila pihak peminjam menderita kerugian. Andai dia mau menerima sebagian kerugian, baru dapat dikatakan hubungan itu saling menguntungkan yang dalam fikih muamalat hubungan saling menguntungkan antara pemodal dan pekerja dikenal dengan akad mudhrabah.

c. Teori resiko, yaitu: bunga yang diberikan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman merupakan ganti rugi dari berbagai resiko yang dihadapi oleh pemberi pinjaman, seperti resiko peminjam tidak dapat melunasi utangnya.

Tanggapan: islam mengakui adanya resiko yang dihadapi oleh pemberi pinjaman. Akan tetapi resiko tersebut tidaklah memiliki nilai yang harus diberi imbalan dengan uang, karena bukan merupakan solusi untuk mencegah resiko. Yang dapat mencegah resiko adalah rahn (barang gadai) yang dititipkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman. Bilamana terjadi resiko tidak mampunya peminjam mengembalikan hutang, maka barang tersebut boleh dijual untuk menutupi hutangnya, dan sisa dari penjualan barang tersebut dikembalikan kepada pihak peminjam.

d. Teori Marshall, yaitu: bunga sebagai imbalan waktu tunggu dan tidak mampunya kreditur [pemberi pinjaman) menggunakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan sesaat.

Tanggapan : Inilah yang membedakan akad transaksi pinjam meminjam dalam islam dengan teori ekonomi kapitalis. Karena seorang muslim saat memberikan pinjaman yang berarti kebutuhan sesaatnya untuk menggunakan uang tersebut tertunda, dia hanya mengharapkan pahala dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan membantu orang yang dalam kesusahan.

Ini merupakan perbedaan mendasar ekonomi islam. Di mana terdapat sisi ukhrawi dalam setiap transaksi yang dilakukan, bukan hanya sekedar mengharap imbalan materi.

Dengan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa teori-teori yang diajukan oleh para ekonom Barat untuk melegalkan riba tidak berpijak kepada egarat yang kuat, dan semakin nyata keadilan agama Allah yang mengharamkan praktek riba.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *