ULAMA SALAF DAN RASA TAKUT MEREKA DARI SIFAT UJUB

Tsabit al-Bunani menceritakan, Abu Ubaidah pernah berkata,“Wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah anak manusia dari suku Quraisy. Setiap ada di antara kalian yang lebih utama dariku karena ketakwaannya, pasti aku senang berada dalam lipatan kulitnya !.” Siyar A’lam an-Nubala’; 1/18. Yang dimaksud dengan kulit di situ adalah keinginan untuk mengikuti jalan hidup dan sistem kehidupannya. Lihat Lisanul Arab materi Salakha, 3/2062
Dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Nafi’ dan yang lainnya diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai orang terbaik, atau anak dari orang terbaik!” Maka Ibnu Umar menjawab, “Aku bukanlah orang terbaik, juga bukan anak dari orang terbaik. Tapi aku hanyalah salah seorang hamba Allah yang selalu mengharap-harap dan takut kepada-Nya. Demi Allah, kalau kalian bersikap seperti itu terus terhadap seseorang, kalian justru akan membuatnya binasa.” Siyar A’/am an-Nuba/a; 1/18. Yang dimaksud dengan kulit di situ adalah keinginan untuk mengikuti jalan hidup dan sistem kehidupannya. Lihat Lisanul Arab materi Salakha, 3/236
Di dalam al-Hilyah disebutkan, Abul Asyhab meriwayatkan dari seorang lelaki yang konon bernama al-Mutharrif bin Abdullah, bahwa ia berkata, “Tidur terlelap untuk kemudian bangun dengan penyesalan lebih aku sukai daripada semalaman shalat dan bangun pagi dengan perasaan ujub.” Adz-Dzahabi menegaskan, “Demi Allah, Allah tidak akan memberi kemenangan kepada orang menganggap suci dirinya sendiri atau bersikap ujub.” Siyar A’lam an-Nubala; 4/190.

Dari Wahab bin Munabbih diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Camkan tiga hal yang kusampaikan: Waspadalah terhadap hawa nafsu yang dituhankan, teman yang jahat, dan keterpukauan dengan diri sendiri.“ Siyar A’lam an-Nubala; 4/549.
Abu Wahab al-Marwazi menyatakan, “Aku pernah bertanya kepada Ibnul Mubarak, ‘Apa yang dimaksud dengan al-Kibr? Beliau menjawab, ‘Melecehkan orang lain.’ Aku lalu bertanya tentang ujub. Beliau menjawab, ‘Perasaan bahwa kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Aku tidak megetahui sesuatu yang lebih berbahaya daripada ujub bagi orang-orang yang shalat.” Siyar A’lam an-Nubala; 8/407.
Ahmad bin Abul Hawari menceritakan, Abu Abdillah al-Anthaqi telah menceritakan kepada kami, bahwa al-Fudhail pernah berkumpul bersama ats-Tsauri. Mereka berdua saling mengingatkan. Tiba-tiba Sufyan ats-Tsauri tersentuh hatinya dan menangis. Kemudian beliau berkata, “Aku berharap majelis ini membawa rahmat dan berkah buat diri kita.” Al-Fudhail menanggapi, “Namun aku justru khawatir akan berbahaya atas diri kita. Bukankah engkau telah mengungkapkan ucapanmu yang terbaik untuk diriku. Demikan juga aku telah mengungkapkan ucapan terbaikku untuk dirimu. Lalu engkau menganggap dirimu telah tampil baik di hadapanku, demikian juga aku merasa telah tampil baik di hadapanmu?” Maka kontan Sufyan kembali menangis seraya berkata, “Sungguh engkau telah menghidupkan diriku. Semoga Allah menghidupkan dirimu.” Siyar A’lam an-Nubala; 8/439.
Imam asy-Syafi’i berkata, “Kalau kamu mengkhawatirkan sikap ujub atas amal perbuatanmu, ingatlah keridhaan Yang menjadi tujuan amalmu, di alam kenikmatan mana engkau hendak berlabuh dan dari siksa yang mana engkau hindarkan dirimu. Karena barangsiapa yang mengingat semua itu, semua amalannya akan tampak kecil di matanya.“
Rusydin bin Saad berkata, “Al-Hajjaj bin Syaddad menceritakan bahwa ia pernah mendengar Ubaid bin Abi Ja’far -salah seorang Ahli Hikmah berkata, ‘Apabila seorang sedang berada di majelisnya, lalu ia tertarik untuk berbicara, hendaknya ia berdiam diri. Namun kalau ia terdiam, dan tertarik untuk tidak bicara, hendaknya ia berbicara.” Siyar A’lam an-Nubala; 6/10.
Dari Said bin Abdurrahman bin Abu Hazm diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Sesungguhnya seorang hamba bisa saja melakukan kebajikan yang dia senangi, namun ternyata Allah menjadikannya sebagai keburukan paling berbahaya buat dirinya. Ada kalanya seorang hamba melakukan keburukan yang ia benci, namun ternyata Allah menjadikan kebaikan paling bermanfaat yang tiada bandingnya buat dirinya. Sebabnya, ketika si hamba melakukan bebajikan, ia bersikap takabur, menganggap dirinya memiliki keutamaan yang tidak dimiliki orang lain. Bisa jadi dengan sebab itu Allah menggugurkan kebajikannya itu bersamaan dengan banyak kebajikan lainnya. Sementara ketika si hamba melakukan kejahatan yang dibencinya itu, bisa jadi Allah menumbuhkan perasaan malu dalam dirinya; kemudian ia menghadap Allah dalam keadaan rasa takut yang masih tertanam didalam hatinya.” Shifatush Shafwah, 2/164.
Sementara adz-Dzahabi dalam komentarnya terhadap pernyataan Ibnu Hazm, “Saya hanya mengikuti kebenaran dan berijtihad; saya tidak terpaku pada madzhab tertentu…” Adz-Dzahabi berkata, “Itu betul, bagi yang sudah mencapai derajat sebagai mujtahid, dan diakui (ijtihadnya oleh banyak para Imam) kala itu ia tidak boleh bertaklid. Sebagaimana halnya seorang Ahli Fikih pemula atau orang awam yang meskipun hafal al-Qur’an atau sebagian besar ayat al-Qur’an, ia tidak sekali-kali diijinkan berijtihad. Karena bagaimana ia akan berijtihad, apa yang akan dikatakannya? Atas dasar apa ia berpijak? Bagaimana seekor burung dapat terbang, bila ia belum tumbuh bulu?”
Sedangkan yang lainnya (selain mujtahid dan orang awam), adalah Ahli Fikih yang telah mumpuni, teliti, baik pemahamannya dan Ahli Hadits, selain ia juga hafal mukhtashar dalam ilmu-ilmu fikih dan kitab-kitab ushul serta Nahwu, ia juga hafal aL-Qur’an mahir dalam Ilmu Tafsir serta piawai dalam berdiskusi. Orang yang demikian adalah yang telah mencapai derajat mujtahid plus dan piawai dalam mengupas dalil-dalil yang digunakan para Imam. Apabila kebenaran dalam satu persoalan bagi orang semacam itu telah jelas, nashnya sudah gamblang, sudah diamalkan oleh salah seorang Imam terkemuka seperti Abu Hanifah misalnya, atau Imam Malik, Sufyan ats-Tsauri, al-Auza’i, asy-Syafi’i, Abu Ubaid, Ahmad dan Ishaq, maka hendaknya ia mengikuti kebenaran itu, jangan mengikuti rukhshah (keringanan dalam agama) dan hendaknya ia bersikap wara’. Setelah tegak hujjah atas dirinya, ia tidak dibolehkan bertaklid. Bila ia khawatir terhadap kesemrawutan sebagian Ahli Fikih, hendaknya ia menahan diri dan tidak mengekspos pengamalannya. Karena mungkin saja seorang Ahli Fikih merasa takjub dengan dirinya sendiri, menyenangi popularitas, sehingga ia diberi hukuman dengan merasuknya unsur jahat dalam dirinya. Berapa banyak orang yang mengungkapkan kebenaran, menyeru kepada kebajikan, namun Allah menguasakan orang jahat atas dirinya, karena ia tidak ikhlas, dan karena ia cinta kedudukan dalam lingkungan keagamaan. Yang semacam itu adalah penyakit tersembunyi yang sering menjangkiti para Ahli Fikih, sebagaimana penyakit itu juga menjangkiti orang-orang kaya yang gemar bersedekah serta mereka yang mewakafkan tanah-tanah yang bagus. Ia juga penyakit tersembunyi yang menjangkiti jiwa para tentara, pemimpin dan kaum mujahidin. Maka dapat kita lihat, ketika kaum mujahidin menghadapi musuh dan terjadi pertempuran antara pihak muslim dan kafir, seringkali dalam diri kaum mujahidin terdapat perasaan terpendam dan kandungan hati berupa bayang-bayang dan pengekploitasian kegagahan diri agar orang lain mengatakan bahwa dirinya pemberani dan akhirnya merasa ujub dengan mengenakan qaraqil (Qaraqil adaiah salah satu jenis pakaian. Ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah baju tanpa lengan. Lihat Lisanul Arab materi kata qarqala) emas, kalung-kalung indah, peralatan-peralatan kemilau yang digunakan oleh orang-orang yang sombong, serta kuda-kuda besar. Di samping itu masih ditambah lagi dengan sikap lalai melaksanakan shalat, zhalim terhadap rakyat (bila berkuasa) dan meminum minuman keras.
Maka bagaimana mereka akan mendapat kemenangan? Dan bagaimana mereka tidak mendapat kehinaan? Ya Allah, bela-lah agama-Mu dan berikanlah taufik kepada hamba-hamba-Mu. Barangsiapa mencari ilmu untuk diamalkan, ia akan diluluhkan oleh ilmunya, untuk akhirnya menangis menyadari kekurangan dirinya. Barangsiapa menuntut ilmu untuk gelar, agar bisa berfatwa, berbangga-bangga dan bersikap riya, ia akan jadi orang pandir dan terpedaya oleh diri sendiri, menyepelekan orang lain dan terbinasakan oleh sikap ujubnya, untuk akhirnya tercabik-cabik oleh jiwanya sendiri. Allah berfirman,
قد أفلح من زكاها (9) وقد خاب من دساها (10)
“Sungguh beruntung jiwa yang Allah sucikan, dan sungguh merugi jiwa yang Allah hinakan.” (Asy-Syams: 9-10).
Yakni, bahwa Allah menghinakan (mengotorinya) dengan kefasikan dan kemaksiatan yang dilakukan. Siyar A’lam an-Nubala; 18/191-192.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *